Agustina A. B.

Ethics, tell me what’s right

by on Sep.21, 2013, under Education

Science is designed to tell us what is possible – what we can do.
Science is not designed to tell us what is right – what we should do.
To evaluate this technology one must employ some ethical system that comes from outside of science.
Lecture’s note of Stem Cell and Molecular Therapy

Bicara mengenai masalah etika dalam dunia sains memang tidak ada habisnya. Salah satu contoh yang cukup mengusik pikiran sewaktu kuliah ini yaitu teknologi sel punca (stem cell) dari embrio. Dengan kemajuan teknologi sekarang, embrio dapat dengan mudah dibuat. Misalnya, dalam membuat bayi tabung, tentu tidak hanya dibuat satu atau dua embrio yang diciptakan dengan teknik in vitro fertilization. Beberapa, mungkin banyak. Dan sudah barang tentu tidak semua embrio-embrio ini akan dimasukkan ke rahim, berkembang, dan dilahirkan. Embrio-embrio disortir dan hanya satu yang dipilih. Lainnya? Banyak yang dibuang dan hanya beberapa yang disimpan.

Sel punca dari embrio inilah yang banyak diteliti untuk menghasilkan breakthrough dalam pengobatan. Penelitian tersebut banyak menuai pro kontra. Apakah embrio, yang menjadi cikal bakal manusia, harus diperlakukan secara bermoral? Apakah kita, sebagai peneliti pantas untuk memilih dan menentukan embrio mana yang layak untuk hidup? Dapatkah kita mengorbankan embrio untuk kemungkinan menyelamatkan nyawa orang lain? So, like my lecturer said, this is an ethical issue. Science is designed to tell us what is possible – what we can do. Science is not designed to tell us what is right – what we should do. To evaluate this technology one must employ some ethical system that comes from outside of science.

Dalam suatu hadits Rasulullah SAW bersabda :Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).” (HR. Bukhari-Muslim)

Menurut hadits tersebut, embrio memang belum bernyawa. Lalu, apakah kita boleh memperlakukan embrio “seenaknya”. Wallahu a’lam. Namun sebenarnya, akhir-akhir ini juga dikembangkan sel punca dari sel dewasa. Sel punca ini diambil dari organ yang telah dewasa. Penelitian menggunakan sel punca dewasa tidaklah kontroversial karena tidak perlu menghancurkan embrio.

So, sebagai ilmuwan, atau calon ilmuwan, kita mempunyai tanggung jawab untuk menggunakan etika dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

:,

Leave a Reply

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...