Agustina A. B.

Archive for July, 2014

Adventurously Jakarta: Second Adventure

by on Jul.31, 2014, under Life Story

Jakarta again! Yep, this is the third trip to Jakarta this year. Bagi sebagian orang mungkin ga terlalu banyak, tapi buat saya udah banyak banget…. Ceritanya, setelah cek TB, saya daftar visa UK (18/7) dan memilih tanggal wawancara. Waktu itu hanya tersedia akhir Juli, awal Agustus, dan akhir Agustus. Pilihan paling memungkinkan hanyalah akhir Juli karena waktu pembuatan visa sekitar satu bulan. Akhirnya saya pilih : 25 Juli, atau 3 hari sebelum Lebaran. So, you know the consequences. Saya dapat tiket ke Jakarta untuk tanggal 24/7, tetapi tiket baliknya sangat susah. Setelah cari kesana kemari, saya dapat tiket pesawat tanggal 27/7 malam dengan rute Jakarta-Jogja, itupun harganya 3 kali lipat dari biasanya. And, saya harus menghabiskan malam takbiran di perjalanan.

Ada yang berbeda dalam perjalanan saya kali ini. I’m totally alone! What a giant leap! Untuk pertama kalinya saya melakukan perjalanan sendirian. Naik pesawat sih, habis itu naik Damri dan kemudian dijemput. Tapi udah lumayan kan daripada yang kemarin :D.

Karena saya kebagian wawancara jam 4 sore, saya baru berangkat ke VFS sekitar jam 2. VFS itu letaknya di Kuningan City Mall, sebelah Mall Ambassador. Saya diantar paman saya. Saya masuk ke mall sendirian. Awalnya kebayang terakhir masuk mall Jakarta waktu study tour SMA, bisa masuk tapi gak bisa keluar. Tapi kali ini aman-aman saja. Mallnya tidak terlalu besar dan relatif sepi. Meskipun awalnya saya agak bingung menemukan kantor VFS-nya yang berada di lantai 2 (saya malah cari di UG -_-).

Di dalam VFS, HP harus dimatikan. Begitu masuk, nama saya langsung dipanggil untuk mengumpulkan berkas dan selanjutnya biometrik. Nah, bagian paling lama adalah menunggu giliran wawancara. Sesuai saran yang bersliweran di internet untuk membawa buku bacaan, banyak banget orang yang membaca buku di sana. Saya sih enggak bawa, soalnya saya memang jarang membaca. Saya ga yakin kalau orang-orang itu memang rajin baca :D. Sayang sekali HP tidak boleh dinyalakan, padahal banner-banner di VFS bagus-bagus dan UK banget #ndeso. Kebetulan saya ngobrol dengan calon mahasiswa lain. Dia berasal dari Batam. Ketika tau saya dianter sodara ke VFS, dia bilang, “berangkat sendiri dong, kan mau ke London, masak harus diantar”. Hellowww, saya baru saja melakukan giant leap ke Jakarta sendirian. Ya emang beda level sih, bagi dia Sumatra-Jakarta kecillll.

Setelah nunggu lebih dari dua jam, saya dipanggil wawancara sekitar waktu adzan magrib. Saya kebagian terakhir banget lho. Lampu-lampu udah mulai dimatiin, lantai dipel, pegawai udah pada pulang. Di dalam booth wawancaranya dingin banget, sampai-sampai pewawancara di seberang tau kalau saya kedinginan. Wawancara dilakukan secara teleconference. Meskipun udah menghitung hari untuk berangkat ke UK, saya ga bisa menangkap dengan jelas apa yang diomongin bulenya :(. Berhubung saya sudah tau pertanyaan yang akan ditanyakan, saya bisa jawab meskipun beberapa agak-agak salah topik jawabnya. Okelah tinggal nunggu hasilnya.

Keesokan harinya, saya ceritanya shopping di Mall Metropolitan, Bekasi. Ramenya kayak pasar. Tiga jam di mall ga jalan-jalan, cuma di Matahari aja. Ga seru ah, mending ke mall di Solo atau Jogja aja, lebih lega tempatnya.

Nah, tiba waktunya untuk pulang. Saya dapat tiket pesawat pukul 18.20. Karena saya orangnya super on time dan tidak mengenal kata telat, saya naik Damri pukul 2 dan tiba di Soetta kepagian, jam 3an lebih tepatnya. Waktu check in, ternyata pesawatnya pukul 17.50. Alhamdullillah, saya ga akan telat naik Pramex jam 8 dari Jogja (kalau telat, saya harus naik Pramex jam 10 malam). Eh ternyata masih delay, dan berangkat baru pukul 18.30 lebih. Harap-harap cemas di pesawat. Landing sekitar jam 19.45, saya langsung jalan santai ke Stasiun Maguwo. But, tanpa disangka-sangka, ternyata ada kereta Sriwedari datang, moncongnya udah keliatan. Alhamdulillah pas banget bro! Saya langsung lari masuk ke kereta dan 45 menit kemudian udah sampai di Solo.

Fyuh. Saya berhasil melakukan perjalanan Solo-Jakarta-Jogja-Solo sendirian! 😀

 

 

2 Comments : more...

Tips Mendapatkan LoA

by on Jul.13, 2014, under Education

Sepertinya tulisan semacam ini sudah banyak di internet. Bahkan saya dulu juga belajar dari situ juga. Saya mau cerita versi saya, terutama yang saya alami. So, ini buka copas ya!

LoA adalah singkatan dari Letter of Acceptance, yaitu surat pernyataan diterima di suatu universitas dan diterbitkan oleh universitas tersebut (bukan oleh supervisor (dosen)). Beberapa beasiswa mensyaratkan LoA (misal NFP, StuNed), beberapa lainya bersifat optional (misal LPDP, Chevening), dan yang lain tidak mensyaratkan (misal Erasmus). Untuk kebutuhan optional, jika LoA sudah dimiliki, biasanya kemungkinan diterima beasiswa akan meningkat. Untuk beasiswa yang tidak mensyaratkan LoA, biasanya LoA akan dibantu/diuruskan oleh provider beasiswa.

 

Menentukan Tujuan Belajar

Ini adalah langkah paling penting dan menurut saya paling susah. Tentukanlah dulu bidang yang ingin dipelajari, semakin spesifik semakin baik karena pencarian akan semakin mudah. Misalnya, saya mencari bidang kimia analisis yang menggunakan sampel-sampel farmasi, tetapi tidak terlalu banyak membahas alat-alatnya (tidak terlalu instrumental). Dari beberapa universitas, pilih yang paling cocok, atau kalau mau daftar aja semuanya. Kalau saya menggunakan beberapa preferensi, misalnya saya memilih universitas tanpa application fee, tanpa perlu mengirim berkas ke universitas, adakah beasiswa, dan perkuliahan menggunakan bahasa Inggris.

Jika masih bingung dengan bidang yang ingin diambil, mungkin bisa melanjutkan bidang yang ditekuni di jenjang sebelumnya, atau ingin berkarier di bidang apa. Lebih baik diskusikan dengan orang yang ahli di bidang tersebut, misalnya dosen. Biasanya beliau juga mempunyai informasi tentang universitas yang ahli di bidang tersebut. Jika bidang yang diinginkan tidak menyediakan kuliah, universitas di Inggris dan Australia menyediakan Master by Research. Jika di universitas tersebut ada ahli di bidang yang anda inginkan, sebaiknya hubungi beliau untuk menanyakan apakah bersedia menjadi supervisor.

 

Persiapkan Dokumen

Salah satu preferensi lainnya dalam memilih universitas adalah dokumen yang diminta. Saya memilih universitas yang meminta dokumen-dokumen standar aja. Dokumen-dokumen ini dijelaskan di web universitas. Dokumen yang biasa diminta saat aplikasi biasanya adalah sebagai berikut:

  1. Ijasah dan transkrip*. Selain yang asli, diperlukan terjemahan dalam bahasa Inggris. Kalau universitas saya, terjemahan bisa diminta di kantor akademik fakultas.
  2. Sertifikat bahasa*. Untuk program berbahasa Inggris, hampir semua universitas menerima TOEFL iBT atau IELTS. Universitas di US lebih menyukai TOEFL sedangkan universitas di Inggris dan Australia lebih menyukai IELTS. Untuk masalah keimigrasian, mulai 1 Juli 2014, imigrasi Inggris sudah tidak menerima TOEFL sebagai bukti kemampuan berbahasa. Jadi, yang ingin sekolah di UK memang harus  mengambil IELTS.
  3. Surat rekomendasi*. Biasanya dimintai 2 surat rekomendasi dari dosen selama S1. Untuk yang sudah bekerja, salah satu rekomendasi bisa berasal dari atasan tempat bekerja. Ikutilah petunjuk dari universitas terkait surat ini, apakah ada form/tidak, apakah perlu dikirim langsung oleh dosen, apakah bisa lewat email atau harus lewat pos. Jika dikirim lewat email, biasanya harus dikirim dari email dengan domain universitas (misal xxx.ac.id).
  4. Personal statement atau motivation letter. Ini merupakan tulisan yang berisi alasan memilih program atau universitas.
  5. GRE atau GMAT. GMAT mirip GRE tetapi hanya untuk bidang manajemen. Sejauh yang saya ketahui, universitas di US dan beberapa di Jerman dan Swis meminta sertifikat ini.
  6. Surat kesanggupan dari supervisor. Untuk program Master by Research, surat ini penting untuk dilampirkan (beberapa universitas mewajibkan).
  7. Proposal penelitian. Untuk program Master by Research, proposal penelitian sifatnya wajib.

*pasti diminta oleh universitas

 

Apply Now

Beberapa universitas membuka pendaftaran sepanjang tahun. Jika sudah yakin dengan pilihan anda, silakan mendaftar. Beberapa universitas menerima aplikasi yang tidak lengkap, sehingga jika diterima status anda adalah mendapat conditional offer. Kekurangan dokumen harus dilengkapi sebelum kuliah. Sewaktu saya mendaftar, saya hanya melampirkan transkrip hingga semester 6 saja dan diterima (meskipun masih kurang IELTS, ijasah dan rekomendasi).

Beberapa universitas akan mengadakan interview sebelum anda diterima. Bahkan ada yang interviewnya di universitas yang dituju, dengan biaya akomodasi ditanggung universitas! Seru kan, udah daftarnya gratis, bisa jalan-jalan gratis.

 

Menurut saya, diterima di universitas tidak terlalu sulit. Saya mendaftar di beberapa universitas dan diterima meskipun berkas belum lengkap. So, take an action now!

 

5 Comments : more...

Adventurously Jakarta

by on Jul.09, 2014, under Life Story

Jakarta itu kota yang asing banget bagiku. Terlebih aku bukan orang yang suka keluar rumah, apalagi keluar kota. Sewaktu ada urusan yang mengharuskan bolak-balik Jakarta, jadinya orang sekampung ikut ribet.

Ceritanya aku mau tes TB buat bikin visa ke UK di Rumah Sakit Premier Bintaro (RSPB) sekalian mampir ke Kemenkeu. Pada akhirnya aku ngajakin temen lulusan STAN, namanya Nana. Dia udah hapal banget lah daerah Bintaro dan Kemenkeu. Hari Minggu (6/7) selepas Subuh, kami berangkat ke Bandara Adi Sumarmo untuk naik pesawat jam 7. Alhamdulillah pesawatnya ga delay dan sejam kemudian udah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Sesuai rencana awal, kami menuju loket X-Trans untuk membeli tiket ke Bintaro. Ternyata di situ ga ada yang jagain, cuma ada pesan untuk langsung ke shelter Damri. Di shelter Damri, kami bingung harus ngapain. Tiba-tiba ada X-Trans lewat. Kami ngikutin mobil itu tapi kok malah ga berenti mobilnya, kami maju, mobilnya ikut maju, trus langsung bablas gitu aja. Setelah dicari-cari, mas-mas X-Trans ketemu juga. Tapi mobil itu lewat sekitar 1,5 jam lagi. Whattt??? Lama amat! Kata Nana bisa sih pakai Damri tapi ntar ganti 3x. Ya udah deh gapapa daripada nungguin. Tapi ternyata Damrinya jurusan Blok M. Dari sana naik MetroMini (ampun deh nungguinnya ga lewat2). Sampai rel kereta Bintaro yang dulu ada kecelakaan, kami turun dan mencari angkot dengan sedikit kehujanan. Sekitar jam 11 akhirnya sampai juga di kosan adik kelas belakang STAN. So grateful Kasmaji ada dimana-mana.

Karena sejak berangkat udah kurang fit, pinginnya langsung tidur aja. Lumayan capek ngikutin Nana jalan. Nana jalannya cepet banget, dia itu pendaki gunung ulung, anak mapala-nya STAN. Tapi, kebetulan ada temen SMA lain yang dateng. Alhasil ngobrol lama dan gak jadi tidur. Sorenya, Nana ngajakin ke Deuter, toko alat-alat outdoor. Katanya sih deket, cuma sekali naik angkot. Okelah gapapa. Ternyata, emang sih sekali naik angkot, tapi sampai jalannya habis. Pak supirnya sampai minta tambah seribu.

Day one itu pemanasan buat day two yang super sibuk. Kami benar-benar mempersiapkan rencana dengan matang biar bisa balik lebih cepat. Plan A: jam 8 sampai di RSPB – tes TB – ke Kemenkeu – ambil hasil di RSPB – ke Indomaret beli tiket – ke kos – pulang naik kereta jam 22. Plan B: jam 8 sampai di RSPB – tes TB – ke kos – ambil hasil di RSPB – ke Kemenkeu – pulang naik kereta jam 16 atau 20. Bahkan kami berencana lebih pagi ke RSPB biar ga perlu antri. Keesokan paginya…. kami bangun kesiangan! Oh no! Ini di luar plan! jam 7.30 kami segera mandi dan jalan ke depan STAN lewat gang pocong buat naik angkot ke RSPB. Kata Nana kalo hujan lewat sini bakalan loncat-loncat kayak pocong gitu. Tapi di dalem STAN malah kecantol dan akhirnya foto-foto dulu 😀 . Sayang banget kan, udah sampai Jakarta loh.

Ternyata RSPB itu deket banget. Dan sampai sana ga ngantri sama sekali. Untung ga jadi kesana jam 7. Langsung foto X-ray yang ternyata cuma sedetik. Sampai aku tanya ke masnya, udah mas? Jauh-jauh ke Jakarta cuma gitu doang. Trus ngobrol-ngobrol sama temen yang kerja disitu (mbak-mbak baik banget yang mau bantuin biar bisa sehari jadi, padahal belum pernah ketemu 🙂 ). Karena masih pagi banget, kami langsung cus ke Kemenkeu (plan A): naik angkot – KRL – bajaj. Aku naik bajaj for the first time! Excited banget lah. Sebenernya naik KRL juga pertama sih. Lumayan sumpek, tapi kata Nana ini belum “penuh”. Waktu mau masuk Kemenkeu, pak satpamnya ga ngebolehin masuk lewat jalan mobil, jadinya harus muter dan masuk lewat jalur pejalan kaki. Yaelah pak, kagak ada yang lewat juga 😐

Selesai urusan di Kemenkeu, kami langsung pulang. Kalau tadi naik bajaj biru, sekarang kami naik bajaj orange. Sensasinya luar biasa. Ini baru namanya naik bajaj, ngegasnya maksimal, tapi ga jalan-jalan. Luama banget ga nyampek2 Tanah Abang. Pas di tanjakan di atas stasiun, bajajnya hampir ga kuat. Pelaaan banget. Aku sama Nana ngakak abis, tapi lama-lama Nana ketakutan, takut bajajnya ngglondor ke belakang. Pak supir jago banget mainin persnelingnya. Bajaj tua itu sukses melewati tanjakan!

Jakarta panas banget. Sampai di kos jam 12 siang dan aku udah tepar banget. Yang kemarin ga fit sekarang jadi sakit. Mag kayaknya mau kambuh, udah pingin banget batalin puasa. aku pingin cepet pulang. Pesawat ke Jogja tinggal jam 7, ntar rencana naik Prameks jam 10 ke Solo. Alhamdulillah bisa tidur dan agak baikan. Jam 2an, kami ambil hasil ke RSPB. Kali ini kami naik motor. Sampai di tengah jalan, hujan turun agak deras. Nanggung banget kalau balik karena RSPB itu deket. Setelah ambil hasil hujannya tambah deres. Bensin di motor udah mepet merah, harus beli bensin juga. Beli tiket di Indomaret juga. Lokasi pom bensin Pertamina agak jauh, akhirnya kami ke Shell. Masnya yang jual nanya, “V Power apa yang Super?”. Aku yang baru pertama beli bensin disini malah plonga-plongo. Akhirnya masnya bilang, yang biasa ya mbak, V Power. Okelah manut. Kebetulan di pom ada Circle K, tapi baru offline. Lanjut ke Indomaret, ternyata disitu ga bisa, harus Indomaret depan STAN. Akhirnya kami beli tiket di Alfamart depan STAN. Tiket pesawat udah habis, mau ga mau naik kereta ke Solo jam 22.

Aku sama Nana emang agak-agak tomboy. Kami bener2 packing ala cowok, bawa barang dikit banget. Apesnya, kami kehujanan dengan pakaian lengkap. Aku cuma bawa 1 celana jeans dan 1 celana harian. Nana bawa 2 rok dan 1 celana harian. Apesnya lagi, karena mau cepat-cepat ke RSPB, kami merangkap celana harian di dalam jeans/rok. Alhasil semua basah. Jaket dan sepatu  juga basah (padahal kereta dingin banget). Ini benar-benar ga pernah diperhitungkan (bahkan dibayangkan). Di perjalanan ke kos, kami cari-cari laundry super kilat. Setelah diperhitungkan, laundry 2 jam jadi pasti gak dua jam amat. Karena takut ga keburu, aku akhirnya minjem celana adik kelas 😀

Setelah berbuka, backpacker abal-abal beraksi lagi. Kali ini bawaan cukup berat karena ditambah sepatu, jaket, dan air! Naik angkot ke Pondok Ranji. Waktu jalan ke stasiun, surprise banget bisa ketemu temenku yang kerja di RSPB. KRL ke Tanah Abang sepi banget. Sesampai di Tanah Abang, yang mau masuk buanyaaak. Ketika pintu dibuka orang-orang langsung menyerbu. Dengan keadaan membawa barang berat, beralaskan sandal jepit dan 1 kaki udah di luar KRL, aku hampir-hampir mau jatuh gara-gara kena serbuan. Untung ada mas-mas baik yang dorong dari belakang dan aku ga jadi jatuh. Sendal jepitku juga sempet jatuh dan mau diambilin masnya 😳 , buru takambil sendiri karena ga enak.

Abis itu mau naik bajaj ke St. Pasar Senen. Pak supir minta 40rb. Mahal amat. Pak supir lain malah minta 50rb, katanya macet banget. Waktu balik ke pak supir pertama, dia ngambek dan ga mau nganterin. Trus ditawarin pak ojek, 2 ojek @ 20rb. Katanya cepet, ga macet kalo pakai ojek. Di tengah jalan aku harap-harap cemas sambil nengokin belakang. Kemarin Nana cerita, waktu pertama kali ke Jakarta dia dan bapaknya naik ojek sendiri-sendiri, trus mereka terpisah dan itu serem banget. Kata sodaraku juga, Pasar Senen itu stasiun paling ga aman. Udah deh, pikiran sampek mana-mana. Di jalan, ternyata macetnya parah banget (ternyata juga gara-gara banjir). Alhamdulillah tadi pak bajaj-nya ngambek dan kami ga jadi naik bajaj. Bisa-bisa malah ketinggalan kereta 😯

Pak ojek yang ini juga super banget. Ngelawan arus biar ga kena macet, ngelewatin separator jalan, dan akhirnya sampai lampu merah paling depan yang di belakangnya muacet pol. Aku nanya, kalo ada polisi gimana bang? Emang polisi mau ngapain neng, paling cuma ditilang, kata pak ojeknya. Okelah, aku white flag aja (yang penting nyampek).

Sampai Pasar Senen, Nana ga ada. Panic mode: ON. Alhamdulillah pak ojek juga baik dan nemenin sampai Nana dateng. Kata Nana stasiunnya ada dua pintu, untunglah kami lewat di pintu yang sama. Bisa gawat kalo kepisah 🙄

Alhamdulillah perjalanan pulang lancar dan cuma telat satu jam. Sampai rumah langsung tepar.

Di Jakarta sih cuma dua hari, tapi hampir semua moda transportasi udah dicobain. Pertamax: MetroMini, KRL, bajaj, kereta api jarak jauh. Adventure level: successfully upgraded.

1 Comment :, , , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...