Agustina A. B.

Archive for September, 2014

Blog UGM dalam Maintenance

by on Sep.23, 2014, under Uncategorized

Saya ucapkan mohon maaf apabila ada teman-teman yang memberikan komentar dalam beberapa hari ini tetapi tidak muncul. Blog UGM mengalami maintenance dan komentar-komentar tersebut tidak ter-record. Juga ada beberapa tulisan saya dalam beberapa minggu ini yang tidak dapat dimunculkan kembali.

Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Bagi yang merasa komentarnya tidak muncul, silakan tuliskan kembali komentar/pertanyaan Anda. Terima kasih.

 

Salam,

Agustina

4 Comments :, more...

One Day from North to South

by on Sep.16, 2014, under Life Story

Minggu ini adalah minggu enrollment week yang kegiatannya tidak penuh satu minggu. Karena kemarin kebetulan tidak ada agenda, akhirnya saya coba-coba melihat kota London lebih jauh. Target saya sebenarnya Emirates Stadium punya Arsenal, tetapi berencana berhenti di beberapa landmark kota London. Hop on hop off gitu ceritanya. Mulai dari pagi jam 8an, saya keluar menuju tepi sungai, melewati London Bridge Station yang ternyata amat sangat ramai. Orang-orang menuju More London untuk bekerja, saya malah mau jalan-jalan 🙂

Rute pertama, saya menyusuri sungai Thames dari More London di dekat Tower Bridge hingga London Bridge. Banyak orang tertukar antara dua jembatan tersebut. Tower Bridge adalah jembatan yang ada towernya di kedua sisi (ya iyalah). London Bridge sebenarnya cuma jembatan biasa, tapi gatau kenapa bisa terkenal banget, mungkin karena memakai nama London kali ya. Meskipun keliatan agak-agak mendung, tetapi sebenarnya cuaca cerah, cuman kepagian aja datengnya 😛

     

Sesampainya di London Bridge, saya menuju ke Arsenal, tetapi berhenti sebentar di St Paul’s Cathedral. Tempat ini juga merupakan landmark terkenal London. Saya sempat masuk dan mau ambil foto, tapi ditegur sama petugasnya, karena harus beli tiket dulu. Ga jadi deh masuk, cari yang gratis-gratis aja, perjalanan masih panjaaang. Oiya, di London sini, saya melihat ada dua jenis motor yang digunakan: motor ber-cc besar kayak pembalap dan motor apa ya saya juga ga ngerti, mungkin kayak vespa tapi versi modern. Orang-orang yang mengendarai motor pakai sarung tangan kayak yang digunakan untuk oven, mungkin karena amat sangat dingin kalau naik motor.

Dari St Paul’s Cathedral menuju Arsenal, sebenarnya saya juga melewati King’s Cross Station, stasiun yang ada platform milik Harry Potter. Saya tidak turun karena mengejar jam 11.30 nonton Changing Guard di Buckingham Palace (yang akhirnya juga ga keburu karena keasyikan di Emirates). Ternyata Emirates Stadium itu kecil, cuma ada stadion sama toko aja. Saya pernah lewat daerah sini ketika selesai pertandingan Arsenal vs Manchester City, orang-orang tumpah ruah di jalan. Ruame buanget.

Seusai sesi we-o-we di Emirates, saya mau ngetem dulu di kamar. Capek. Tetapi di perjalanan saya sempat berhenti di The Monument dan Borough Market. The Monument dibangun untuk mengenang kebakaran hebat di London tahun 1666. Borough Market adalah pasar tradisional, tetapi harganya mahal, ga sesuai kantong mahasiswa. Di dalamnya ada kios-kios, tetapi rapi dan bersih.

    

Second round: Chelsea. FYI, Chelsea itu jauh banget dari tempat saya, sekitar 1 jam lebih naik bis. Saya sempat mampir untuk bertemu teman di Imperial College London. Ternyata disana ada komplek museum: V&A (Victoria & Albert Museum), Natural History Musem, dan Science Museum. Sayang sekali saya sudah kesorean kesana sehingga kalaupun masuk tidak akan puas melihat-lihat. Fotonya besok aja kalau saya masuk 😀

Dalam perjalanan menuju Chelsea, saya baru benar-benar merasakan London yang sebenarnya. Di daerah barat daya (South West) London adalah daerah mahal. Mobil-mobil yang lewat benar-benar high class. Rumah-rumah terlihat sangat mahal semacam mansion. Anak-anak diasuh orang yang mungkin adalah nanny (anaknya bule tetapi pengasuhnya non bule). Saya juga sempat lewat di Harrods, mall gede banget dan super mewah. Di salah satu sudut jalan, ada juga toko kayak gini:

Daaann akhirnyaaa Chelsea Football Stadium! Kompleksnya lebih gede dari Arsenal. Suatu kompleks yang semuanya sebenarnya bukan milik Chelsea (mungkin sih ya), ada hotel, cafe, dan tempat tinggal yang tidak bernuansa Chelsea FC di dalamnya. Chelsea adalah nama daerah, sewaktu kesana saya hampir salah turun bis karena saya kira sudah sampai. Stadionnya sendiri sebenarnya juga lebih besar dari Arsenal, tetapi dari luar tidak tampak megah dan tidak ada spot foto yang bagus di depannya. Overall, saya lebih suka disini daripada di Arsenal (meskipun saya lebih ngefans Arsenal). Pegawai tokonya lebih ramah (sempet menyapa) dan yang paling penting saya bisa lihat dalamnya stadion. Rasanya benar-benar tidak tergambarkan. Bisa sih masuk dan ikut tur, tapi itu agenda kalau sudah settle aja 😀

    

Hari sudah sore dan saatnya pulang. Chelsea benar-benar jauh sampai saya turun di pemberhentian terakhir. Bonus perjalanan pulang:

          

 

Leave a Comment :, , , , , , , more...

First-Timer

by on Sep.15, 2014, under Life Story

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa ini pengalaman pertama saya keluar negeri, saya dibingungkan dengan banyak hal. Saya sudah mempelajari (sepertinya) semua hal yang diperlukan tetapi ada halhal yang terlewatkan. Misalnya, saya tau harus naik apa kemana ganti kereta apa dari Heathrow ke London Bridge, tetapi saat dikasih tiket kertas, saya gatau harus diapakan. Akhirnya saya tanya ke cleaning service. Maafkan ke’ndeso”an saya 😛

Kemudian hari selanjutnya saya mau pergi ke tempat kakak tingkat di daerah deket Arsenal. Saya beli oyster card, kartu langganan bus/tube. Disini kalau bayar bis gabisa pakai duit, tapi pakai kartu langganan. Dan di loket hanya bisa beli kartunya saja, top upnya pakai mesin di luar loket. Ada 2 pilihan membayar: pakai kartu kredit atau cash. Karena saya belum punya kartu kredit, saya bayar pakai uang cash. Kertas sama koin diasukin ke alatnya dan voila! Bisa kasih kembalian 😀

Nah, sewaktu mau naik bis saya juga bingung. Naiknya harus dari halte. Saya cari haltenya lewat citymapper sampai muter-muter ga ketemu, ternyata jalannya ditutup dan cityapper ga kasih tau. AKhirnya jalan dulu sampai ke jembatan London Bridge. Karena perjalanan cukup jauh, saya bisa melihat-lihat kota, melewati King’s Cross Station, St Paul’s Cathedral, dan dari kejauhan tampak Emirates Stadium. Sewaktu pulang dan menunggu bis, ada ibu-ibu nanya,” Why is 4 (nomer bis) coming here?” Hellow, saya aja naik bis saya bingung nyari dimana.

Keesokan harinya saya pergi ke Lidl, supermarket Jerman rekomendasi teman yang katanya paling murah (dan memang murah banget). Saya jalan dari asrama ke Lidl. Menurut citymapper sih 20 menit, tapi saya mungkin sekitar 30 menit karena plus bingung-bingung. Sayaagak-agak takut karena jalannya sepi banget. Kemudian waktu saya mau nyebrang, ada mobil berenti, saya juga ikut berenti, tapi ternyata dia kasih jalan buat saya. Kalau di jalan besar, kita bisa pencet lampu-nya biar berganti ke warna merah jadi kita bisa nyebrang. Coba di Jakarta kayak gini, pasti tambah macet banget.

Sewaktu di Lidl, ada ibu-ibu nanya, “Sorry, do you know where is #!?><(*^(**^)^”. “What?” “#!?><(*^(**^)^”. Yang nanya ibu-ibu kayaknya India. Mungkin dipikir saya suka masak itu. Yaelah Bu, saya nyari gula aja ga ketemu. Tampang saya udah London abis kali ya, suka ditanyain aneh-aneh gitu. Kalau bayar kasirnya suka kasih kembalian uang koin. Saya masih mikir-mikir buat ngabisin koinnya gimana. Masalah gula tadi, saat ada local area tour bersama dormitory ambassador, saya nanya gula dimana ya. Adanya sugar beet dan bungkusnya pake kertas kayak teh tapi sekiloan. Beda banget lah. Pantes aja tadi ga nemu.

Sewaktu mau liat kampus di Waterloo, saya ceritanya juga mau naik bis, ternyata bisnya dibuat Railway Replacement Service. Saya belum apal London secara garis besar, dan tetep masuk. Karena ga yakin, saya tanya, “Will you stop in Waterloo?” Pak supirnya ga dong aku bilang apa. Bener banget persis kayak kata dosenku. Harus pake logat-logat British gitu. Saya bilang cuma “Waterloo”. “On no, this is Railway Replacement Service”. Ada tulisannya sih, tapi saya ga tau maksudnya apaan itu neutral. Ada tulisan lewat mana-mana gitu juga, tapi saya kan juga belum apal Pak. Bisnya itu tulisan jalurnya kayak LED nyala gitu, tapi ternyata itu tulisan yang diputer secara manual. Disini bisnya tingkat, jadi bisa liat mana-mana. Nah tadi karena bisnya ga berenti di Waterloo, saya naik bis lain. Eh tapi kok dia malah ga sesuai citymapper jalannya #tetibapanik. Saya berhenti di jalan kecil dan jalan sesuai citymapper sambil deg-degan. Ada bapak-bapak naik sepeda, “Are you lost?” Ya ampun baik banget bapaknya. Ternyata London ga seangkuh bayanganku. Pulangnya saya jalan dari kampus ke asrama. Menurut citymapper sih 30 menit, tapi saya jalan 40 menit tanpa citymapper!

Sampai disini,entah kenapa saya agak males jalan-jalan. Padahal saya sudah membuat list tempat-tempat wajib dikunjungi, tapi sampai sini semua tempat jadi terkesan biasa. Saya merasa bukan turis, jadi agak males jalan-jalan. Tapi mungkin saya tetap pingin ke Arsenal dan Chelsea 🙂

Leave a Comment : more...

Finally Abroad

by on Sep.15, 2014, under Life Story

Hello, it’s me again. Yeah long time no see because I have to prepare everything in a such a short time. Ceritanya begini, awal rencana mau berangkat sekolah ke Inggris tanggal 6 September, ternyata visa baru keluar tanggal 5. Akhirnya berangkatnya diundur jadi tanggal 12. Saya naik Garuda dari Solo ke Jakarta, kemudian naik Etihad dari Jakarta-Abu Dhabi dan Abu Dhabi-London Heathrow. All on my own. Dari bandara Solo sampai ke asrama saya benar-benar sendirian. Meskipun belum pernah ke luar negeri, alhamdulillah ga nyasar-nyasar banget. Taukah tempat yang paling membingungkan? Sorry to say, Bandara Soetta. Petunjuknya sangat minim, dan bayangan saya kalau dari terminal 2 ke terminal 3 harus keluar dulu, ternyata bisa langsung jalan di dalam airport. Di sana antrian buat check in-nya puanjang banget. alhamdulillah semua barang bawaan aman. Bawa 2 tas ke kabin total 17 kg juga aman.

Setelah 8 jam perjalanan, sampailah di Abu Dhabi. Nungguin pesawat lagi sampai 5 jam. Di sana saya sempat ngobrol-ngobrol dengan nenek-nenek asli London dan diberi beberapa tips. Saya beli beberapa kartu pos dan ternyata mahal pakai banget. Ya sudahlah gapapa, belum tentu saya ke UAE lagi. Besok-besok mau transit di tempat lain aja 😀

Selanjutnya duduk di pesawat lagi sekitar 7 jam. Gatau kenapa, pesawatnya lebih jelek dari yang tadi. Lebih sempit, kursinya lebih rendah, tasnya jadi ga muat ditaruh di bawah. Oiya, jangan lupa pake baju tebel di pesawat karena dingin banget. Beberapa menit sebelum mendarat, saya mulai deg-degan membayangkan rasanya menginjakkan kaki di Eropa. Saat detik-detik mendarat, saya sempat menitikkan air mata. Terlihat dari jendela suasan yang benar-benar Inggris, ada danau-danau kecil, rumput hijau, dan pohon berwarna hijau dan oranye. Benar-benar mirip di film.

Sebelum memasuki tanah Inggris, kelengkapan imigrasi dicek dahulu. Orang yang ngecek dokumen saya sampai heboh sendiri, “You pay nineteen thousand for tuition fee??? Are you sure? That’s very expensive.” Thanks God I got a scholarship. Sepanjang perjalanan, alat-alat elektronik saya tidak dicek sama sekali. Saya bahkan tidaktau kalau misalnya dicek, kapan dan dimana akan dicek.

Dari Heathrow saya naik tube Picadilly Line sampai Green Park kemudian transfer Jubilee Line sampai ke London Bridge. Biasalah, mental mahasiswa, cari paling murah. Stasiunnya bagus, benar-benar seperti di film. Dan ada informasi juga stasiun mana yang pakai lift, jadi me and the other 40 kilos sehat walafiat dan selamat. Nah sampai di stasiun London Bridge itu saya juga agak bingung. Saya sudah beberapa minggu mempelajari citymapper, aplikasi petunjuk bepergian di kota-kota besar. Dari stasiun, saya harusnya keluar di jalan sebelah utaranya stasiun, tapi ternyata stasiun itu punya beberapa jalan keluar yang sebenernya lebih deket dari asrama. Karena saya berpikir asrama masih jauh, saya malah menjauh sampai London Borough (pasar tradisional). Tanya polisi Weston Street dimana juga gatau neutral. Aplikasi citymapper itu sebenarnya bisa menunjukkan kemana harus jalan, tapi karena internet belum nyala jadi harus mengira-ngira. Setelah tanya sana-sini akhirnya nemu juga asrama.

Asrama tempat saya tinggal benar-benar di kota. London itu kota yang sangat besar, tidak semua tempat sangat modern. Kebetulan saya tinggal di dekat sungai Thames dan merupakan bagian City of London, sangat modern. Saya beruntung dapat kamar di lantai 14, pemandangan bisa terlihat bagus. Dari jendela kamar saya, saya bisa melihat beberapa landmark London, seperti The Shard (gedung tertinggi di Eropa Barat), Hotel Hilton dan beberapa bangunan di More London, stasiun London Bridge yang subuh-subuh sudah mulai beroperasi, bahkan juga Tower Bridge meskipun hanya ujungnya saja. Kalau dari dapur, saya bisa melihat sisi lain London yang lebih hijau dengan rumah-rumah London yang lebih rendah.

Sampai saat ini, saya masih belum benar-benar yakin kalau saya tinggal di London. Masih terasa seperti mimpi saya bisa sampai disini.

1 Comment : more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...