Agustina A. B.

Archive for November, 2014

One Month One City – Cardiff

by on Nov.30, 2014, under Life Story

Bulan November ini saya ke: Cardiff! Cardiff, ibukota Wales, terletak di bagian barat UK. Saya berangkat naik bis dari Victoria Coach Station. Karena ini pertama kalinya ke terminal, sempat kesasar dan hampir telat naik bis! Untunglah bisnya juga telat jadi telat diselamatkan oleh telat yang lain. Pemandangan selama perjalanan cukup bagus, lewat jalan tol yang kanan-kirinya diisi rerumputan hijau. Uniknya, jalan tol dari London ke Cardiff cuma lurus doang. Bahkan demi menjaga kelurusan, dibuat jembatan mirip Suramadu untuk menyeberangi “lekukan” menuju Wales (silakan liat sendiri di peta).

Setelah 3,5 jam akhirnya tiba juga di Cardiff. Oiya, di Wales, semua tulisan ditulis daalam 2 bahasa – Inggris dan Welsh. Ternyata bis yang kami tumpangi turun di pusat kota. Hari itu sangat ramai karena ternyata ada pertandingan rugby timnas Wales vs Afrika Selatan. Sungguh beruntung! Kami benar-benar merasakan atmosfer pertandingan yang sangat seru. Kemudian kami ke Cardiff Castle meskipun hanya melihat dari kejauhan (karena biaya masuknya cukup mahal). Tujuan selanjutnya ke National Museum Cardiff. Namun di tengah jalan, kami melihat kerumunan orang di depan hotel Hilton. Ternyata mereka sedang menunggu timnas Afsel yang mau keluar menuju stadion. Sungguh beruntung bisa melihat pemain kelas dunia. Sayangnya saya sama sekali gatau tentang rugby.

Di dalam National Museum Cardiff biasa aja sih, sama seperti musem-museum yang lain. Kemudian kami melihat sebentar ke Cardiff University, melewati Alexandra Gardens, dan foto-foto dulu di depan Millennium Stadium. Stadion ini adalah stadion nasionalnya Wales, jadi semacam Wembley-nya Wales. Stadion ini terletak di tepi sungai dan terlihat indah dari jembatan yang memotong sungai. Sebelum ke Cardiff Bay, kami numpang sholat di Jalalia Mosque. Ternyata teluknya cukup jauh dan butuh waktu sejam berjalan kaki. Tidak seindah yang dibayangkan, pantes aja bule-bule suka ke pantai di Indonesia. Jalan kaki sejam benar-benar not worthed. Kemudian kami balik ke city centre karena takut telat naik bis. Karena kaki sudah tidak kuat berjalan lagi, akhirnya kami naik bis kota ke city centre. Sebenarnya masih jam 5 tapi karena musim gugur jadi hari sudah sangat gelap. Ditambah pertandingan rugby yang sudah selesai dan adanya christmas market, city centre jadi lautan orang dan banyak orang mabuk. Lampu-lampu jalanan terlihat indah menghiasi langit yang sangat gelap.

Kami sempat melihat pusat hiburan (semacam pasar malam tapi ga cuma malem doang, adanya cuma menjelang natal) sebelum akhirnya kembali ke London. Overall impression: Cardiff kota kecil, city centre-nya not bad to see, teluk-nya not recommended.

Cardiff City Centre

Leave a Comment :, more...

Indonesia vs Spanyol

by on Nov.22, 2014, under Education

Ceritanya aku sekelompok praktikum sama orang Spanyol. Dia S1 di University of Barcelona.

Praktikum 1 (bikin kapsul pakai alat pengisi kapsul)

A: ini dipake di industri apa apotek?

B: apotek. kamu ga dapet ini pas kuliah?

A: enggak

B: emang kalo di apotek kalian pake apa?

A: pake tangan

B: 😯 😯 😯

Spanyol 1 – 0 Indonesia

Praktikum 2 (disolusi)

B: ini caranya gimana

A: oh gini (mencet-mencet)

B: aku lupa, kayaknya ga dapet pas S1. kamu dapet ga?

A: dapet 😀

Spanyol 1 – 1 Indonesia

Leave a Comment :, more...

Mungkinkah Indonesia Maju

by on Nov.18, 2014, under My Point of View

Sewaktu saya ikut Pelatihan Kepemimpinan LPDP, di sana digembar-gemborkan Indonesia Emas 2045. 20 tahun lagi Indonesia bakal menjadi negara superpower. Waktu itu saya ga percaya, mana mungkin negeri kita bisa maju. Kalau liat negeri maju semacam Inggis, Amerika, Jerman, mereka sudah maju sejak jaman Indonesia masih dijajah.

Tapi saya berubah pikiran. Teman saya WN Cina bercerita kalau neneknya sama sekali tidak bisa membaca, bahkan tidak bisa membaca uang. Orang tuanya sangat miskin. Sewaktu kecil, mereka berbagi telur, suatu makanan mewah, sekeluarga (mirip seperti Indonesia dulu). Dulu disana petani setelah bekerja akan diberi voucher untuk ditukar dengan makanan. Sekarang, mereka bisa menyekolahkan anak mereka dengan biaya sendiri, di London, suatu kota yang amat mahal. Cina bisa menjadi negara yang cukup maju dalam waktu relatif cepat. Dalam 1 generasi sudah bisa mengatasi sebagian besar kemiskinan.

20 tahun lagi, Indonesia akan diisi orang-orang seumuran saya. Banyak yang sudah mengecam pendidikan di luar negeri. Mahasiswa Indonesia tidak bodoh, banyak yang jauh lebih pintar dari orang Eropa. Hidup di luar negeri akan membuka wawasan, bagaimana orang-orang di luar negeri bisa maju dan sukses, bagaimana cara mengatur hidup mereka. Saya yakin sebagian besar mahasiswa Indonesia akan pulang dan ikut membangun negeri.

Menjadi negara maju bukan hal yang mustahil.

Leave a Comment :, more...

Stadium oh Stadium

by on Nov.07, 2014, under My Point of View

As a football fan, one thing that came to my mind once I knew I was going to London was going to football stadium. I couldn’t imagine how could a city has so many international stadium, it must be so close one another. So  in the first week I went to three stadiums owned by big football clubs in London: Arsenal, Chelsea, Tottenham Hotspurs. It isn’t like what I thought. The location is very far one another. The stadium is so small. I mean the stadium is only stadium surrounded by road (entrance/exit in White Hart Lane directly facing road). No trees. Nothing green. Now I know why the stadiums in Europe do not have running track: because it is too small to have it.

Let me talk about stadium in my hometown. I live in Solo. We have big stadium called Manahan Stadium where you can find almost all kind of sport facilities, football, tennis, badminton, basketball, and even there’s a velodrom inside. It is huge. There are a lot of trees and open parks, also beautiful statues in every corner. This is one of the biggest stadium in Indonesia. Although we do not have so many huge parks like in London, but we have football fields like everywhere. There’s a football field in 1 km south of Manahan and there’s another field 1 km further, only 2 minutes walk from my home.

Well, even I go to stadium, I didn’t go inside because the ticket is so expensive. I believe that the facilities inside are better than one in my hometown. But they are private stadium, they get a lot of profit from everything. So I cannot say that mine is bad enough. It is good enough based on the money that we have. They have modern appearance (Emirates stadium looks more modern than the others), but nothing’s special about this. It’s just like other buildings here in London.

So now I’m not really curious about other stadiums here.

Oh I really love my country. Nothing can beat it.

Leave a Comment :, more...

One Month One City – Cambridge

by on Nov.07, 2014, under Life Story

Saya bukan orang yang suka jalan-jalan. Sewaktu di Indonesia pun saya jarang sekali keluar kota, bahkan keluar rumah pun jarang. Tapi setelah berkunjung ke Cambridge, saya jadi pingin jalan-jalan berbagai kota. So, resolusi untuk setahun ke depan: one city one month (kecuali Desember karena mau nonton konser), at least once in every country in the UK, watching football once, watching music concert once.

So, let’s count London as the first city in the first month (September). Karena London terlalu lengkap, saya jadi ingin melihat kota lain di UK. Tujuan pertama saya: Cambridge, 30 Oktober 2014. One day travel ini salah satu tujuannya saya ingin melihat musim gugur yang benar-benar kayak di desktop-desktop gitu. Maklum di London isinya aspal sama gedung doang. Pertama kalinya saya naik kereta disini, sendirian lagi. Berangkat dari Liverpool Street Station sampai di Cambridge pukul 10, butuh waktu sekitar 1,5 jam. Saya berkeliling Cambridge bersama seorang teman yang kuliah disana. Kotanya cukup kecil. Kami mengitari kota selama sekitar 6 jam berjalan kaki karena kereta balik saya pukul 4 sore. Sebagai gambaran, sesepi-sepinya Indonesia masih lebih ramai daripada London (yang notabene salah satu kota terbesar di dunia) dan Cambridge itu lebih sepi dari London. Jadinya super sepi banget.

Fitzwilliam Museum, tipikal museum di Inggris, ada beberapa bilik dengan koleksi dari berbagai penjuru dunia. Salah satu yang berbeda dan sangat menarik adalah ruang Armory. Pakaian-pakaian tentara abad pertengahan yang terbuat dari besi (atau baja?) dan berbagai pedang, tameng, topeng sangat menarik. Sayang saya lupa tidak mengambil kamera karena tas harus dititipin.

Selanjutnya kami masuk ke beberapa bangunan universitas Cambridge. Bangunan itu tersebar di berbagai sudut kota. Beberapa butuh tiket untuk masuk kecuali punya student card (yang mana teman saya punya). Saya juga ikut gratis karena 1 orang dengan student card bisa membawa 2 tamu.  Beberapa bangunan sangat indah dan mirip seperti di kartu pos (bahkan lebih indah). Yang menarik adalah kotanya sangat sepi dan santai, tidak seperti London yang semua orang berjalan seperti mau ngejar maling. Suasana musim gugur sangat terasa karena banyak pohon dan taman, juga sungai kecil di belakang bangunan universitas. Kami menyempatkan untuk punting di sungai tersebut. Punting adalah semacam perahu yang digerakkan dengan menancapkan tongkat hingga ke dasar sungai dan mendorongnya ke belakang. Ada sih yang bisa sewa aja kemudian punting sendiri, tapi ogah banget. Mendingan duduk-duduk sambil ngedengerin cerita masnya, berasa di Venesia (ups, belum pernah kesana sih). Enak banget dah suasananya.

Kami menyempatkan makan siang di restoran Turki. Di Cambridge tidak seperti London yang sangat multikultural. Di sini kebanyakan bule lokal sehingga agak susah cari makanan halal. Ini pertama kalinya saya makan di rstoran yang bener-bener restoran di Inggris (Chicken Cottage sama KFC ga diitung ya), maklumlah namanya juga mahasiwa. Setelah makan, kami sempat masuk ke 2 bangunan yang cukup terkenal (tapi saya lupa namanya. Habis itu segera lari ke stasiun karena udah hampir jam 4. Enam jam mungkin cukup untuk mengitari Cambridge tanpa masuk ke museum.

Sebagai mahasiswa yang sudah pernah ngekos selama 4 tahun, naluri berhemat sangatlah mendarah daging. Berikut pengeluaran saya di Cambridge:

– naik bis dari London Bridge (tempat tinggal) ke Liverpool Street Station        £ 1.45

– tiket PP London -Cambridge + booking fee                                                             £ 12.5

– punting                                                                                                                             £ 15

– makan siang di restoran Turki                                                                                    £ 11

Total                                                                                                                                    £ 39.95

Memang terlihat mahal tetapi ini sangat murah bila tidak di-kurs-kan. Bisa lebih berhemat lagi jika makan di tempat yang bukan restoran.

See you next month in the next destination.

Leave a Comment :, more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...