Agustina A. B.

Archive for December, 2014

One Month One City – Oxford

by on Dec.21, 2014, under Life Story

Salah satu keuntungan tinggal di London: bisa kemana saja tanpa perlu transit. Semua jurusan antar kota – antar propinsi – bahkan antar negara lengkap. Edisi Oxford ini murah meriah, cuma 1 pound! PP + booking fee jadinya 2.5 pounds, padahal dari kos ke Coach Station 2.2 pounds 😐

Okey, so Sabtu pagi saya ke stasiun seperti biasa. Bus berangkat pukul 7.35 selama sekitar 100 menit. Cukup dekat memang. Sampai di Oxford, teman saya (a.k.a. tour guide) belum dateng, jadi jalan-jalan dulu sendiri. Dingin banget disana, sampai menggigil di jalan. Kotanya penuh dengan bangunan University of Oxford yang megah, tua, dan cantik. Benar-benar seperti memasuki dunia Harry Potter. Ada pula lapangan dan meadow (semacam park) milik universitas yang sangat besar. Sebenarnya saya ingin punting (baca artikel Cambridge), tapi sayang mereka tutup waktu winter. Bedanya dengan Cambridge, punting di Oxford tidak berada di sungai yang membelah universitas, jadi tidak bisa mengagumi bangunannya sambil bersantai-santai. Tidak lupa saya membeli beberapa lembar postcards.

Setelah teman saya datang, saya baru masuk ke dalam bangunan universitas, karena kalau tidak punya teman yang kuliah disitu, harus beli tiket masuk. Sayang sekali dining hall yang dipakai buat syuting Harry Potter lagi ditutup. Letaknya di dalam college yang bernama Christ Church. Di chapel yang ada di college tersebut, ada beberapa makam kuno yang tertanam di bawah gereja. Coba kalau di Indonesia pasti udah ada cerita mistis macem-macem. Landmark terkenal lain adalah Radcliffe Camera, bangunan bundar dengan kubah berwarna hijau. Camera dalam bahasa Latin berarti ruangan. Di halamannya terdapat tanda tangan … aduh lupa kemarin, apa Radcliffe itu ya. Pokoknya tanda tangannya berbentuk petir, yang menginspirasi JK Rowling untuk membuat tanda di dahinya Harry Potter.

Kami juga menyempatkan makan siang di Saturday Market, yang kebetulan ada yang jualan makanan Indonesia. Ada tahu goreng, nikmatnya bisa makan makanan kesukaan – setelah 3 bulan gak makan. Makanan besarnya cukup murah, tapi tahu gorengnya cukup mahal. Mahal banget kalo dikurs-in malah. Kalau disini dapat 1, di Indonesia bisa dapet sekresek penuh. Gapapa lah, sambil mengobati rasa kangen. Setelah itu kami pergi ke Ashmolean Museum dan Natural History Museum, keduanya milik universitas. Natural History Museum mirip dengan punya London tetapi lebih kecil. Yang menarik di halamannya terdapat jejak kaki dinosaurus yang dibuat menyerupai aslinya.

Dan setelah itu, kejadian-kejadian terdahulu terulang lagi: hampir telat naik bus. Jadinya harus lari-lari lagi sampai ngos-ngosan. Tepat 1 menit sebelum berangkat bisa masuk ke bus. Pulang naik bus pukul 15.26 dan sampai setelah 2 jam perjalanan, biasalah, London macet.

Radcliffe Camera

Leave a Comment : more...

One Month One City – Leicester

by on Dec.15, 2014, under Life Story

Leicester mungkin bukan kota besar dengan banyak tempat yang bisa dikunjungi, tapi tempat ini punya historical value buat saya. Saat saya mencoba meraih cita menuju Eropa, saya banyak berkonsultasi dengan dosen yang kuliah di Leicester. Beliau banyak bercerita tentang kehidupan di sana. Itulah mengapa saya sangat ingin kesana.

Perjalanan berangkat dari London butuh waktu 2,5 jam. Kemarin saya berangkat di saat malamnya adalah malam terdingin selama satu tahun. Dalam perjalanan, saya sempat melihat (mungkin) salju. Saya menghabiskan sebagian besar waktu perjalanan dengan tidur 😀

Sesampainya di terminal, kami menuju rumah salah satu teman dengan taksi. Ternyata taksi disana sangat murah. Setelah sarapan, kami menuju King Power Stadium, stadionnya Leicester City yang tahun ini berlaga di Premier League meskipun sekarang di posisi paling buncit. Teman saya beli jersey Leicester City yang sukses bikin ngiri. Cuaca hari itu cera dengan dihiasi hujan sebentar. Angin sangat kencang sehingga dinginnya sampai menusuk tulang. Yang menarik, kemungkinan malamnya ada hujan es karena siang itu es di jalan terlihat mulai mencair. Saking dinginnya cuaca, kami tidak bisa merasakan dinginnya es.

Kami melanjutkan perjalanan menaiki bukit menuju University of Leicester. Banyak banner terpasang tentang universitas ini. Salah satu yang menarik tentu saja: The invention of DNA fingerprinting. Ada juga prestasi lain, yaitu penemuan jasad Richard III. Raja Inggris ini meninggal dalam perang dan jasadnya baru ditemukan tahun 2012 di parkiran suatu gedung. Bangunan kampus ini sangat tua dengan beberapa bagian yang modern. Sepanjang jalan University Road terdapat bagian-bagian kampus yang beberapa tersebar.  Di belakang universitas ini terdapat taman yang besar, Victoria Park. Setelah makan siang, kami mengelilingi City Centre. Landmark yang terkenal adalah Clock Tower dan City Hall. Kami sempat mengunjungi kantor BBC Leicester sebelum menuju ke terminal.

Perjalanan pulang butuh waktu 3 jam karena lagi-lagi London macet. Saya memang tidak menaruh ekspektasi berlebih pada kunjungan ke Leicester. So, saya cukup puas kali ini.

University of Leicester

Leave a Comment : more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...