Agustina A. B.

Archive for January, 2015

One Month One City – Glasgow

by on Jan.12, 2015, under Life Story

Scotland is my favourite! Sewaktu di Edinburgh saya merasa disana adalah kota terbaik yang saya kunjungi sejauh ini. Sewaktu ke Glasgow, this is the best! Kota tua yang sangat terasa aroma Eropa-nya, if you know what I mean, tidak seperti London kota metropolitan yang bisa ditemui dimana saja.

Saya pergi berdua dengan teman dari Edinburgh, sebelumnya sudah merencanakan dengan sangat matang dan detail semua perjalanan kami beserta detail jam dan bis dalam kota yang harus dipakai. Rencana hanyalah rencana, kereta kami telat 15 menit dan teman saya kelupaan membawa kunci kamar temannya. Untungnya temannya itu juga sedang di Glasgow, tapi kami harus mengantarkan kuncinya ke bus station. Kami mengambil sebanyak mungkin peta di bus station dan berusaha seminimal mungkin menggunakan Google Maps selama perjalanan. Kami hanya melewati tujuan pertama kami: George Square. Alun-alun kota kalau di Indonesia.

Tujuan kedua: Celtic Park. Stadion Glasgow Celtic yang terletak di atas bukit. Akhirnya untuk pertama kalinya saya membeli jersey klub setelah beberapa kali mengunjungi klub sepakbola. Lumayan bisa smart buy, dapat amat sangat murah. FYI, semua klub mau terkenal atau enggak, harga jerseynya sama, sama-sama mahal. Dan disini, eng ing eng, first snow! Hujan salju meskipun saljunya tidak menumpuk di jalan. Untunglah saya memakai jaket gunung sehingga cukup hangat. Tetapi tangan saya mati rasa!

Tujuan ketiga: Necropolis. Disini kami sangat butuh Google Maps. Kami sudah sampai di sana tetapi tidak menemukan jalan masuk -_-. Pagar tinggi mengelilingi kuburan itu. Setelah capek-capek mengitari, akhirnya kami masuk ke kuburan itu. Necropolis terletak di atas bukit. Kuburan tua dengan nisan-nisan yang besar. Tidak ada aroma mistis sama sekali. Entahlah.

Tujuan keempat: Glasgow Cathedral. Gereja tua yang terhubung dengan Necropolis. Bangunan tua ini sangat detail dan artistik, berdiri kokoh dengan pilar-pilar yang sangat besar. Di dalamnya ada makam beberapa Saints.

Tujuan kelima: Kelvingrove Park. Taman kota ini terletak di depan University of Glasgow. Kami berada disini secara kebetulan. Kami naik bus tujuan Uni Glasgow. Ketika melihat tulisan Uni Glasgow, kami turun, tetapi ternyata bangunan yang seperti di postcard itu masih jauh. Sebuah keberuntungan karena taman kota ini sangat indah. Sungai membelah di tengan taman disertai penampakan bangunan universitas yang sangat tua di seberang. Beberapa patung orang-orang yang berjasa terdapat di dalamnya, yang saya tau sih Kelvin, fisikawan yang membuat skala temperatur itu. I do love this city!

Tujuan keenam: University of Glasgow. Bangunan tua yang sangat cantik. Lagi-lagi di atas bukit. Kami bersemangat melihat cloisternya, tetapi agak kecewa karena batunya tidak bersinar (bukan marmer) seperti di UGM. Tetapi bangunan tua ini sangat amat indah, tidak tergambarkan dengan kata-kata, silakan searching sendiri ya :D.

Kami kembali ke stasiun dan nongkrong dulu di Cafe Nero sambil menunggu kereta.

Inilah pentingnya merencakan perjalanan dengan matang: I could go to so many places in just 6 hours! Sebenarnya kami ingin mengunjungi St Andrew’s Cathedral dan Glasgow Central Mosque di dekat sungai. Tetapi karena waktunya agak berantakan di awal, kami mengubah rute ke Glasgow Cathedral dan Kelvingrove Park.

2 Comments :, , , more...

One Month One City – Edinburgh

by on Jan.12, 2015, under Life Story

Akhirnya bisa sweet escape ke Skotlandia setelah Winter break diisi dengan persiapan ujian. Karena cukup (baca: sangat) jauh, saya memutuskan untuk mengunjungi 2 kota sekaligus: Edinburgh dan Glasgow. Setelah perjalanan melelahkan selama 9 jam naik bus, dinginnya Edinburgh mulai menyapa. Kata teman bule: you’re crazy going to Scotland in the winter. Bagi saya, sama aja disini atau disana, sama-sama dingin, tetap di Skotlandia memang cenderung lebih dingin. Some advice: gunakan windproof jacket (lebih baik lagi windproof dan waterproof) ketika mengunjungi Skotlandia, jangan bawa payung.

Tujuan pertama: Arthur’s Seat. Sebuah bukit di Holyrood Park, tidak jauh dari city center. Terlihat hampir seluruh kota dari atas bukit. Sebuah pulau di seberang laut, stadion, dan Calton Hill juga jelas terlihat. Baru setengah jalan udah capek + gak kuat. Terlebih saya tidak akan sempat mengunjungi tempat lain kalau memutuskan sampai ke puncak. Akhirnya menyudah perjalanan dan kembali ke penginapan. Saya menginap di tempat kos teman, University of Edinburgh residence hall. Udah kapok naik bukit, saya tidak jadi ke Calton Hill.

Karena suatu hal cukup konyol saya jadi kehilangan waktu jalan-jalan di Edinburgh. Kami kemudian ke Dean Village, salah satu WHO World Heritage. Desa yang sangat tua, bangunan cantik dari bebatuan. Tetapi, desa ini sama sekali berbeda dengan foto-foto di Google. Kami mengunjunginya di musim yang salah. Kalau di musim semi mungkin terlihat indah. Di musim dingin desa ini jadi beraroma mistis. Pohon tanpa daun di tepi sungai, ditemani hujan yang membuat alirannya deras. Di atasnya terlihat jembatan tua dan sebuah bangunan tua di puncak bukit serasa rumah drakula. Bagi anak desa seperti saya: lumayan mengobati rindu kampung halaman.

Di musim dingin waktu jadi sangat pendek karena malam cepat menghampiri. Kami kemudian kembali ke penginapan dan makam malam di sebuah restoran Cina, tentu karena tidak ada restoran Indonesia di sana.

Saya merasa Edinburgh seperti kampung halaman. Di sana ada sungai, bukit, laut, dekat dengan desa tetapi sebenarnya adalah sebuah kota yang berpengaruh di UK. Terlebih saya menginap di tempat teman dari Jogja, yang akhirnya saya bisa berbahasa Jawa seharian, dan sarapan sayur lodeh. Bahagia itu sederhana.

Leave a Comment :, , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...