Agustina A. B.

Archive for March, 2015

One Month One City – Birmingham

by on Mar.08, 2015, under Life Story

Kali ini saya pergi ke Birmingham bukan untuk jalan-jalan, tetapi untuk menonton All England, tepatnya di babak semifinal. Tetapi terlebih dahulu saya mampir liat-liat stadionnya Aston Villa. Di tengah perjalanan, saya melewati city centre dan Victoria Square. Stadion Villa Park mirip seperti stadionnya Tottenham, kecil, sepi, ga terlalu wow, mana jauh pula dari tengah kota.

Sekembalinya ke venue All England, yaitu National Indoor Arena atau sekarang berganti nama menjadi Barclays Arena, saya menyempatkan makan siang dulu. Tapi karena masih terlalu pagi (jam 11), hanya ada breakfast dan antrinya satu stadion! Walhasil nunggu makanan sambil deg-degan takut telat. Lucunya, saya memesan scrambled egg dan setelah nunggu 20 menit, ternyata telurnya abis 😐  Saya ditawarin menu lain tetapi bayarnya seharga scrambled egg. Yaudah saya minta apa aja yang penting cepet dah. Kata mas-mas yang jual, hari itu luar biasa ramai dan biasanya ga pernah seramai ini. Setelah makan, langsung masuk stadion dan saya bingung mencari tempat duduk. Akhirya setelah naik turun tangga ketemu juga.

Ganda campuran Indonesia main di partai pertama dan keempat. Partai pertama adalah Praveen Jordan dan Debby Susanto vs Zhang Nan dan Zhao Yunlei. Sayangnya saya berada di Block yang tidak berbarengan dengan kumpulan orang-orang Indonesia. Sepertinya suporter Indonesia masih belum panas. Dan di sisi sebelah lapangan, ada orang India bari main. Karena pendukung mereka cukup banyak, jadi suara pendukung kurang menyatu. Dan akhirnya wakil Indonesia kalah.

Kemudian 2 artai selanjutnya sukses membuat saya hampir tertidur. Ceritanya paginya saya naik kereta menghadap belankang, jadilah saya pusing dan minum Antimo Antimo beneran yang saya bawa dari Indonesia). Saya kemudian jalan-jalan dulu liat-liat orang-orang jualan di venue.

Ketika partai keempat Lilyana Natsir-Tontowi Ahmad vs Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen sudah mau mulai, saya memutuskan pindah ke Block suporter Indonesia. Sambil berlari kecil karena jaraknya cukup jauh, saya berharap mereka belum mulai. Kali ini suporter Indonesia benar-benar kompak dan heboh, samai beberapa kali diliatin penonton yang ada di bawah (lower block) dan beberapa kali di shoot. Sayangnya saya ga benar-benar di tengah-tengah mereka, jadinya ga masuk tipi. Kami teriak-teriak pakai bahasa Indonesia, pusinglah pasti bule-bule itu. Seru bangeh deh! Ini pertama kalinya saya liat olahraga profesional. Maklum, saya tidak tinggal di Jakarta jadi susah kalau mau nonton langsung. Akhirnya Toontowi Ahmad dan Lilyana Natsir menang! Sebuah momen luar biasa bisa mendukung wakil Indonesia di All England. Sayang sekali saya tidak beli tiket final.

Setelah selesai, saya dan teman-teman ceritanya mau makan. Kami keliling venue dulu, foto sama Pak Dubes (walopun kayaknya saya ga keliatan), beli-beli baju. Waktu beli baju, kami ketemu dan berfoto bersama Greysia Polii! Dia benar-benar seperti orang normal gitu deh, saya sampai bingung dianya yang mana. Dia juga bersama pasangan mainnya yang saya ga kenal, jadi saya ga foto. Hehehe.

Waktu keluar venue, saya liat ada beberapa orang nunggu di deket pintu. Ternyata mereka sedang nunggu pemain keluar. Dan pas banget Chen Long keluar. Tetapi dia sombong banget ga mau foto bareng. Katanya tadi Lin Dan juga gamau foto, bete kali abis kalah. Ada juga 4 pemain Cina ganda putri, tapi kami ga kenal jadilah ga foto. Waktu kami jalan mau makan, tmereka ternyata belanja-belanja, bener-bener kayak orang normal, tapi bawaannya tas buat badminton yang segede kontainer. Beberapa teman kami masih menunggu di venue, mau ketemu Lilyana & Tontowi. Mereka berhasil ketemu. Dua atlet Indonesia itu katanya benar-benar ramah. Bahkan Tontowi mengucap terima kasih karena sudah mendukung duluan waktu ketemu dengan teman-teman yang menunggu mereka.

Kami makan di dekat stasiun, namanya Buffet Hut, 5 pounds all you can eat. Enak, halal, bumbunya kuat (kayaknya banyak motonya), Indonesia banget. Ternyata orang Indonesia juga banyak disana. Dan mereka juga berisik, meskipun ga seberisik di stadion. Hahaha. Jadilah suasana seperti di warteg! Sewaktu menuju ke stasiun, kami bertemu orang Indonesia dan bersapa-sapa dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Pokoknya Birmingham rasa Indonesia deh.

Sedih banget cuma bisa nonton final dari tipi. Tiketnya sudah ludes terjual 🙁

Leave a Comment : more...

One Month One City – Surrey

by on Mar.02, 2015, under Life Story

Surrey sebenarnya bukan kota, tetapi seperti provinsi. Tetapi karena kemarin jalan-jalannya di antara desa kecil-kecil, saya namakan jalan-jalan ke Surrey. Surrey berada di perbatasan London. Desa yang saya tuju bernama Egham, sekitar 37 menit dari London. Ceritanya saya ingin merasakan musim semi yang seperti di tv, dan akhirnya saya temukan: Savill Garden, free from December to February! Dan saya pun pergi kesana tgl 28 February. Brilliant!

Dari stasiun Egham, saya naik bis setengah perjalanan dan disambung jalan kaki sekitar 30 menit. Perjalanan yang melelahkan, lebih karena bosan jalan di tempat sepi. Ternyata Savill Garden cukup ramai. Hampir semua pengunjungnya bule. Cuma kami berdua dan 1 orang India. Mungkin memang kurang terkenal dan sulit dijangkau. Taman itu dibagi dalam beberapa bagian, tiap musim ada bagiannya sendiri. Karena sedang winter, yang sedang berbunga (atau at least berwarna) cuma bagian winter. Pantes aja gratis. Tapi tak apalah, di Indonesia kan ga ada tanaman macam itu. Winter beds dan snow drop. Cukup memberi warna di salah satu bagian taman. DI tengah taman ada danau kecil dan sungai kecil. Suasana yang nyaman (meskipun sangat dingin), ditemani kicauan burung-burung.

Setelah mengitari taman, kami istirahat sejenak sambil menikmati coklat panas dan sepotong kue. Kemudian kami pergi ke Virginia Water, 1.25 miles dari Savill Garden, sekitar 45 menit jalan kaki. Kami melewati Obelisk Pond dan Valley Garden di tengah jalan. Rasanya capek dan ga nyampek-nyampek, tapi karena jalan di tengah taman (atau hutan?), jadi mau ga mau harus lanjut jalan kaki. Virginia Water adalah danau buatan terbesar di Britania (kata tulisan di depan danau). Kemudian kami menuju stasiun untuk pulang, yang mana harus jalan kaki selama 45 menit. Kalau ditotal mungkin saya sudah jalan sekitar 4-5 miles hari itu, sama seperti perjalanan dari Savill Garden ke Windsor Castle!

Leave a Comment :, more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...