Agustina A. B.

Archive for November, 2015

Pendidikan di Inggris

by on Nov.25, 2015, under Education, My Point of View

Saya mendapat pertanyaan menarik dari seorang pengunjung blog tentang bagaimana sistem pendidikan di London. Dalam artikel ini, saya ingin berbagi sudut pandang saya sebagai mahasiswa yang kuliah S1 di Indonesia dan S2 di London. Tulisan ini akan sangat subyektif, tidak bermaksud men-generalisir maupun menjelek-jelekkan. Saya hanya ingin menggambarkan apa yang saya alami.

Sistem Universitas

Meskipun universitas saya terpencar di berbagai sudut kota London, saya benar-benar merasa sebagai warga universitas, tidak hanya sebagai warga fakultas. Saya bisa menggunakan fasilitas umum di semua kampus (seperti perpustakaan dan ruang komputer), tetapi ada ruang-ruang yang hanya bisa diakses orang-orang/kelompok tertentu (seperti kantor dan laboratorium penelitian). Yang menarik, segregasi antar fakultas tidak menonjol. Sebagai contoh, di bangunan kampus yang saya tempati terdapat berbagai program studi, mulai dari yang berafiliasi ke fakultas social science hingga life science. Mungkin memang karena keterbatasan tempat (tanah di London mahal!), tetapi sisi positifnya kita mendapat informasi kegiatan prodi lain (seperti diskusi, kuliah umum, presentasi) dan tidak canggung mengikutinya. Wawasan saya jadi lebih terbuka dan saya (akhirnya) menemukan ketertarikan di bidang-bidang yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, seperti politik dan musik. Sumber daya juga menjadi amat efisien: pegawai seperti maintenance, security, cleaning service lebih tersentral; ruang kuliah dan dan auditorium bisa digunakan oleh semua prodi, tidak perlu tiap prodi/fakultas menyediakan ruang untuk mahasiswanya sendiri. Tapi perlu digarisbawahi bahwa jumlah mahasiswa di London tentu jauh lebih sedikit daripada di kampus-kampus Indonesia.

Ujian juga terintegrasi ke universitas. Universitas mempunyai suatu divisi tersendiri bernama Exam Office yang mengurusi segala hal yang berkaitan dengan ujian. Ujian tentu dibuat oleh dosen yang bersangkutan, tetapi penyelenggaraannya diatur oleh Exam Office, seperti menyediakan tempat, menyediakan pengawas ujian, hingga mengurusi ijin mahasiswa untuk tidak mengikuti ujian. Dalam suatu term, ada minggu khusus yang dialokasikan untuk ujian. Ujian terasa seperti ujian masuk universitas di Indonesia; kami ditempatkan di suatu hall besar di luar bangunan universitas dan dalam satu ruangan kami ujian bersama prodi & fakultas lain.

Ketersediaan Informasi

Ketika berkuliah di luar negeri, ilmu itu seperti berserakan di jalan, tinggal kita mau mengambil atau tidak. Hampir setiap hari ada diskusi / seminar (atau apalah disebutnya) yang kita bebas mengikuti. Setiap akhir minggu, kami dikirimi jadwal diskusi/seminar oleh fakultas tempat kami berafiliasi untuk seminggu kedepan. Fakultas di sini gemuk-gemuk, dalam artian program studinya banyak, sehingga kegiatan diskusi pun amat banyak dan beragam. Bahkan ada juga informasi diskusi di luar universitas tapi masih dalam rumpun ilmu yang sama, biasanya kegiatan dari anggota University of London yang lain.

Untuk perpustakaan, buku keluaran terbaru biasanya tersedia. Bila tidak tersedia, kita bisa: 1. memberi saran kepada perpustakaan untuk dibelikan; atau 2. meminta perpustakaan untuk meminjamkan dari universitas lain/ perpustakaan kota. Jujur saya tidak pernah ke perpustakaan karena saya lebih suka membaca e-journal atau e-book. Universitas saya termasuk sangat lengkap koleksinya. Spot favorit di perpustakaan: Free Books! Di salah satu sudut perpustakaan terdapat rak berisi buku-buku yang di-reject karena perpustakaan sudah membeli edisi terbaru. Buku ini boleh diambil secara gratis. Lumayan, saya dapat buku bagus Atkins’ Physical Chemistry.

Fasilitas

Well, bukan rahasia bahwa fasilitas di negara maju jauh lebih baik daripada di Indonesia. Saya tidak akan komplain karena dulu saya bayar SPP 5 jt per tahun di Indonesia sedangkan di London 400 jt per tahun. Selain kucuran dari pemerintah yang sudah banyak, sumbangan dari charity juga membantu sangat membantu penelitian. Semisal charity yang peduli penyakin kulit, mereka dengan mudah menyediakan pasien untuk diteliti sehingga menghemat waktu dan biaya. Charity juga kadang membantu dari segi keuangan, bahkan salah satu pusat penelitian di kampus saya dibangun dari 50 % dana charity dan 50 % dana pemerintah.

Plagiarism is A Really Big Thing!

Copy paste is a big no-no untuk pendidikan di Inggris pada umumnya. Bahkan salah satu dosen saya sewaktu induction (semacam ospek) pernah bilang, “As a scholar, if you steal something, it’s probably okay, if you kill someone, perhaps still okay, but if you plagiarise, it’s a big sin!” (tentu dosen saya bercanda, but it’s a really big deal, I’ve warned you). Sebelum dinilai, essay atau report diupload ke suatu software pendeteksi plagiarisme (untuk universitas saya bernama Turnitin) yang akan memunculkan persentase kemiripan dengan (mungkin) semua database yang ada, bisa dari artikel internet, jurnal, buku, bahkan karya yang disubmit oleh student sebelumnya. Jadi, tidak ada lagi istilah nyontek kerjaan kakak tingkat.

Suasana Kelas

Tidak seperti  bayangan saya sebelumnya, ternyata saat kuliah di Inggris mahasiswanya juga tidak aktif bertanya. Saya tidak tahu apakah memang rata-rata tidak aktif atau karena hampir semua mahasiswa adalah orang Asia. Tapi saya merasa lebih bebas dan berani bertanya/berpendapat, mungkin karena kultur budaya barat yang lebih bebas dan gap antara dosen-mahasiswa tidak terlalu berbeda.

Salah seorang pengunjung blog bertanya bagaimana kinerja dosen di London. Saya rasa dimana-mana sama, kadang ada dosen yang bikin ngantuk, ada yang menarik, ada yang biasa-biasa saja. Lebih ke arah kultur, yang sedikit berbeda bahwa dosen disana jarang sekali terlambat, pernah suatu kali dosen saya terlambat karena lupa kalau ada jadwal mengajar 😐 , seorang lainnya pernah terlambat karena keretanya terlambat dan beliaunya merasa sangat bersalah. Dosen saya di Inggris juga tidak pernah kosong, bahkan ketika transportasi lumpuh karena mogok kerja ada pengumuman dari universitas bahwa diharapkan dosen tidak terlambat dan tidak kosong, tapi mahasiswa boleh bolos. Benar-benar sesuatu!

Secara keilmuan mungkin saya tidak terlalu mendapat banyak materi baru dari pendidikan S2 karena sebagian besar sudah saya dapatkan sewaktu S1 (hal ini juga dirasakan teman-teman saya dari Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya seperti India dan Cina), tetapi saya lebih kepada learn how to learn. Saya belajar bagaimana melihat dan mengkritisi suatu hal dari sisi positif dan negatif, bagaimana memilih dan memilah informasi, dan saya merasa kemampuan menulis saya meningkat tajam.

2 Comments more...

Dissertation – orang Indonesia bilang tesis (bagian 2-habis)

by on Nov.03, 2015, under Education, Life Story

Kelulusan mahasiswa dari program master di Inggris pada umumnya tidak memakai defense, atau semacam sidang. Di program saya (MSc PAQC at King’s), penilaian mencakup beberapa aspek terutama report, poster dan literature review.

Setelah beberapa minggu ngelab, saya akhirnya sudah hampir selesai mendapatkan data untuk disertasi. Di akhir kegiatan ngelab saya yang kebetulan di bulan puasa, saya menjadi sangat produktif karena berangkat pagi (jam 8 udah amat sangat pagi) dan pulang sore (jam 6an) tanpa makan siang. Masih tersisa dua minggu sebelum Lebaran dan beberapa sampel untuk diuji, saya memutuskan pulang kampung untuk Lebaran di Indonesia. Alasannya karena hampir semua teman Indonesia saya pulang kampung 😐 . Saya beli tiket hari Minggu, email untuk ijin ke Pak Supervisor (yang tumben langsung dibalas di hari Minggu), dan pulang hari Seninnya. Memang amat sangat nekat karena saya pikir saya bakal selo banget dan kalau cuma nulis doang di kos bisa bosan bin lumutan. Dua minggu di Indonesia tentu bukan liburan, tapi istilahnya working from home. Saya tetap menulis disertasi, konsultasi, revisi, dll. Saya sudah hampir menyelesaikan disertasi dan tinggal menambahkan sampel yang memang belum saya uji.

2 minggu sebelum ujian poster – 3 minggu sebelum pengumpulan report

Setelah sampai di London lagi, hari Senin pagi saya sudah masuk lab dan preparasi sampel. Sewaktu sampel mau dibaca dengan spektrofluorimeter, kuvetnya saya cari di lemari ga ada (silakan search sendiri apa itu kuvet). Saya cari Pak Supervisor ga ada di ruangan, diemail ga dibales. Setelah agak siang, saya bertemu mahasiswa bimbingan yang lain dan ternyata…. he is doing research in France! For a week! Okay I don’t need him but his cuvette. Kuvetnya diambil dan disimpan terkunci di ruangannya. Oh my God, such a nightmare! Sebagai informasi, kuvet yang saya gunakan itu khusus untuk fluorescence dengan panjang 2 mm x lebar 4 mm. Alhasil saya harus nyari orang yang punya kuvet itu. Dan ga ada satupun orang yang punya. Setelah 3 hari mencari, akhirnya supervisor saya menemukan orang yang punya kuvet mirip (2 mm x 2 mm, the smaller the better). And the person is his wife, yang juga sedang di Prancis, tetapi kuvetnya disimpan sama mahasiswanya. Brilliant!

Di tengah keseloan saya akibat kuvet yang hilang, saya membuat poster untuk bahan ujian. Saya belum pernah bikin poster sebelumnya, saya ga bisa pakai Corel atau software fancy lainnya, dan saya ga tau bagaimana cara mencetak poster yang ukurannya lebih gede dari badan saya. Draft poster saya print secara tile dengan kertas A4 dan disusun sebesar A0, pokoknya butuh kertas banyak banget. Saya juga tanya komentar teman-teman seflat mengenai poster saya (beruntung saya punya 12 teman seflat!). Sebenarnya saya ga niat-niat banget, tapi daripada nulis report lebih asyik bikin poster. Hahaha.

1 minggu sebelum ujian poster – 2 minggu sebelum pengumpulan report

Setelah akhirnya ketemu Pak Supervisor, komentar awal beliau, “I usually have problem with students who write too many words, but you don’t have enough.” Well, saya memang ga pinter nulis dan buat saya yang penting poster saya bisa jadi tapi ga malu-maluin, dan saya pikir menambah kata-kata di poster lebih mudah daripada mengurangi. Setelah edit sana-sini akhirnya saya print poster A0. Deg-degan juga waktu ngeprint, soalnya mahal banget. Saya ngeprint di Captain Cyan, dapat diskon 5 pounds karena follow twitternya, lumayan lah. Sehari sebelum Poster Day, saya baru tau kalau sewaktu Poster Day kami akan ditanya-tanya seperti ujian. What??? Kenapa Pak Supervisor ga bilang apa-apa. Tapi ya sudahlah akhirnya saya belajar teori yang berat-berat, semacam kenapa laurdan bisa mempunyai panjang gelombang emisi berbeda jika berada pada fase yang berbeda.

Poster Day

Ternyata pertanyaan saat Poster Day malah sangat sederhana, berkutat pada hasil beserta interpretasinya dan kedepannya mau seperti apa. Sama sekali ga ada yang teoritis! Beda banget sama ujian skripsi saya (ups). Salah satu penguji saya adalah PhD student yang sama-sama menggunakan fluorescence dan mungkin melihat perubahan fase juga. Saat dia tau kalau saya melihat perubahan fase tiap 1 derajat Celcius, dia kaget dan bilang, “it must take a very long time!” Indeed, and it’s bloody boring.

Setelah ujian poster dimana saya harus berdiri 2 jam, ada selingan kuliah umum dari Prof. David Cowan, dosen favorit saya karena penelitiannya yang luar biasa menarik buat saya (silakan cari sendiri). Kemudian yang paling ditunggu-tunggu: makan siang! Prasmanan lagi, sesuatu banget (biasanya cuma sandwich yang buat saya cuma seperti snack).

Acara diakhiri dengan pengumuman poster terbaik oleh semacam ketua jurusan. Nomor tiga teman saya. Nomor dua teman saya juga. Dan yang jadi juara…. saya! I didn’t see it coming! I was so happy, so did my supervisor. I smilled on my way back home. Dan saya juga dapat voucher Amazon 50 pounds yang sampai sekarang belum sempat saya habiskan.

Minggu terakhir pengumpulan report

Penjilidan di London itu amat sangat mahal, like you can’t imagine. Jauh-jauh hari sudah harus dijilid kalau mau dapat lumayan murah. Eh, ternyata malah deadlinenya diundur karena banyak yang pingin dapat jilid murah juga. Yang penting saya kumpulin deh. Saya jilid 3 buku, 2 dikumpulin, 1 buat kenang-kenangan.

Berakhirlah cerita disertasi saya. Secara keseluruhan, saya hanya ngelab full sekitar sebulan lebih sedikit. Meskipun banyak bolos dan plesir, supervisor saya malah bilang, “thank you for your hardwork.” Saya ga tau apakah ini sarkastik atau benar-benar memuji, kalau dari raut mukanya sih memuji. Nilai disertasi saya tidak terlalu buruk, tapi di bawah rata-rata nilai akhir saya. Saya awalnya agak-agak kecewa tetapi melihat teman saya yang 24/7 ngerjain disertasi, bahkan pernah juga tidur di lab, saya harus banyak-banyak bersyukur. Yang penting saya enjoy, bertambah ilmu baru di bidang yang baru, dan kesan saya terhadap physical chemistry yang dulunya benci sekarang jadi lumayan netral. Satu hal yang juga mengobati rasa kecewa saya: saya mendapat Lingard Prize sebagai best student di MSc PAQC. Sayangnya saya tidak dapat hadir di malam penghargaannya karena sudah pulang ke Indonesia.

Leave a Comment :, more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...