Agustina A. B.

Archive for November, 2016

Beasiswa S3: Where and How to Get Them

by on Nov.26, 2016, under Education

Ada beberapa sponsor beasiswa besar yang juga membiayai S3, seperti Erasmus, Dikti, LPDP, AAS, DAAD, ADB, dan masih banyak lagi. Di sini saya tidak ingin menceritakan tentang beasiswa itu, tetapi lebih kepada “beasiswa” by project, yaitu ketika kita bekerja untuk suatu grup riset. Grup riset di sini bukan hanya berupa universitas, tetapi juga institusi penelitian yang biasanya bekerja sama dengan universitas untuk nantinya mewisuda kita. Di sebagian besar negara Eropa dan USA (kecuali Inggris), S3 memang suatu pekerjaan dimana kita dikontrak secara profesional dan digaji setiap bulan.

Where to Find Them?

Untuk bidang science (natural science atau life science), berikut link yang biasa saya pakai:

  • https://www.findaphd.com/ Sebagian besar berlokasi di UK. Kebanyakan post hanya menawarkan topik tanpa beasiswa atau hanya untuk orang UK saja sehingga kita harus mencari beasiswa sendiri dari provider beasiswa umum.
  • https://www.academictransfer.com/ Sebagian besar berlokasi di Belanda. Biasanya fully funded tetapi tidak terlalu banyak pilihan.
  • http://academicpositions.eu/ Secara umum menampilkan iklan dari Eropa. Banyak varian baik topik maupun negara. Ini website favorit saya.
  • Website-website universitas atau penelitian. Ini agak tricky karena kita harus rajin membuka satu-persatu. Sangat disarankan untuk institusi sangat besar (Max Planck, Leibniz, Cambridge, Wellcome Trust, dll) atau institusi favorit kita (segi lokasi, topik, atau mungkin prestige), atau ketika anda sedang kurang kerjaan, bisa dilihat di tab “Job Vacancy” atau “Open Position” di website mereka.

Disclaimer: link di atas saya cari untuk bidang saya, yaitu Analytical Chemistry / Pharmaceutical Analysis. Saya tidak menjamin setiap bidang ada di link-link di atas.

How to Get Them?

Tentu tidak ada langkah baku untuk mendapatkannya. Saya ingin menceritakan hal-hal yang biasa saya lakukan (tapi kadang-kadang saya melakukan hal tidak biasa).

Pertama, tentukan topik. Untuk mencari di website-website di atas, saya sarankan untuk menentukan topik besar (untuk membantu mencari keyword) tetapi tidak terlalu spesifik karena Principle Investigator (PI) / Project Leader akan menuliskan hal detail di deskripsi project. Jadi, jika anda sudah mempunyai keinginan sangat spesifik, sebaiknya langsung menghubungi PI. Contoh: bidang saya analytical chemistry, saya sudah punya filter pribadi tentang topik mana yang mungkin menarik (mass spectrometer, laser ablation, everything with biological samples) atau tidak (not to mention).

Kedua, persiapan dokumen. Dokumen yang diminta biasanya simpel, yaitu motivation letter, CV, rekomendasi, transkrip dan ijasah berbahasa Inggris. Tidak perlu sertifikat bahasa, tetapi harus dicek di ketentuan universitasnya. Motivation letter kita bisa gunakan “template”, yaitu sebagian besar isinya mirip untuk setiap job application kita, tetapi harus sedikit diubah supaya nyambung dengan topik yang diiklankan. Biasanya paragraf awal (tentang background pendidikan dan achievement saya, mengapa saya tertarik analytical chemistry secara umum) dan paragraf akhir (rencana ke depan, pernyataan bahwa grup anda sangat bagus dan saya ingin bergabung) yang saya buat selalu sama, kecuali untuk nama universitas/PI/grup risetnya (ini jangan sampai salah!). Paragraf yang di tengah isinya lebih ilmiah, misalnya apa yang kita ketahui tentang topik / grup riset ini. Biasanya saya membaca profil grup riset (masing-masing punya, silakan search nama PI di google) atau publikasi mereka (in brief).

Ketiga, langkah paling penting: mendaftar! Ga perlu takut ga diterima. Seleksi biasanya ada dua tahap, yaitu seleksi dokumen dan wawancara. Dokumen seperti yang saya sebutkan di atas. Jika diundang wawancara (biasanya Skype), peluang diterima lebih besar. Kita perlu membaca lebih dalam tentang apa yang mereka lakukan dan menajamkan alasan mengapa kita ingin bergabung tetapi isinya jangan sampai bertentangan dengan yang ada di dokumen kita. Saya biasanya benar-benar membaca background riset dan publikasi mereka. Saya sarankan, dokumentasikan setiap pendaftaran yang dilakukan, catat nama PI-nya. Ini dilakukan untuk men-track usaha kita dan bahan pembelajaran di aplikasi selanjutnya. Satu lagi, ga lucu kalo kita ternyata sudah pernah mendaftar ke PI dan kemudian mendaftar ke mereka lagi (although I desperately did).

Keempat, lupakan kalau kita pernah mendaftar. Saya sarankan untuk mendaftar di tempat lain juga karena keseluruhan proses biasanya memakan waktu sebulan – dua bulan – atau lebih. Saya pernah dipanggil wawancara setelah sekitar 3 bulan mendaftar.

Peluang?

Ketika kita mendaftar, kemungkinan diterima atau tidak diterima. Jadi, kemungkinan diterima 50%. Kemungkinan ini bisa naik atau turun tergantung profil kita. Misalnya, jika prestasi bagus, background nyambung, referensi OK, peluang diterima akan besar, setidaknya kita bisa mendapat wawancara. Wawancara ini butuh latihan dan trik yang bisa ditemukan di Google. Katakanlah peluang diterima kita 95%, yang 5% adalah faktor X yang sangat susah diprediksi dan dikendalikan. Ingat, yang bisa mencari dan menemukan topik yang kita daftar adalah hanya orang-orang yang niat dan background yang cukup nyambung, dari seluruh dunia. Untuk mereka (PI/institusi yang kita daftar), sangat sulit menentukan siapa yang akhirnya dipilih sehingga faktor X sangat berperan. Misalnya, seseorang yang sudah pernah internship di institusi tersebut, atau orang yang pernah melakukan riset yang sedikit nyambung, atau mungkin preferensi negara asal kandidat. Saya punya impresi bahwa PI sudah punya kandidat kuat yang akan dipilih bahkan sebelum wawancara*. Untuk itu, faktor X ini tergantung kehendak yang di atas dan kita perlu banyak berdoa.

Secara total, saya intensif mendaftar sekitar 10 bulan. Total saya mendaftar (dan menghubungi profesor secara manual) sekitar 30 aplikasi, dipanggil wawancara sekitar 5-7 kali. Sebagian job vacancy ternyata sudah terisi ketika saya mendaftar (this is really annoying!), terutama untuk iklan yang tidak ada deadlinenya. Kita bisa bertanya dulu apakah masih open recruitment atau tidak. Pengalaman wawancara sangat menarik. Memang capek perlu membaca publikasi berkali-kali di bidang yang berbeda-beda, tapi bisa ngobrol dengan profesor-profesor terkenal buat saya suatu anugrah tersendiri. Sekali lagi, ga perlu takut ga diterima. Semakin banyak ga diterima, ketika diterima rasanya akan makin mantab!

 

Bersambung ke pengalaman aplikasi yang cukup menarik: Max Planck Institute, Ghent University.

 

*Contoh. Di awal wawancara PI berkata: “Saya tidak yakin background kamu nyambung dengan riset saya, tetapi saya ingin mewawancaraimu.” Saya tidak diterima. Di wawancara lain, ada PI yang salah menyebut kata ganti “you” yang seharusnya “whoever will get the job”. Akhirnya saya diterima. Ini bukan indikasi mutlak tetapi hint saja.

Leave a Comment :, more...

Rumah Baru Itu di Belgia

by on Nov.05, 2016, under Life Story

Satu tahun saya berjuang mendapatkan sponsor untuk studi lanjut S3. Jatuh (dan jatuh dan jatuh) bangun akhirnya membuahkan hasil dan saya akhirnya mendapat suatu tempat di Belgia, lebih tepatnya di kota Ghent (bahasa Inggris) atau orang lokal menyebutnya Gent. Mungkin kapan-kapan saya bisa cerita lika-liku mendapatkan beasiswa yang cukup menguras mental (karena ga dapet2 🙄 ).

Perjalanan datang ke Belgia cukup menarik. Tiket yang saya beli dengan rute Solo sampai ke Brussel hanya membutuhkan waktu 22 jam. Tetapi, ternyata connecting flight Amsterdam ke Brussels cuma 1,5 jam, pesawatnya telat 30 menit dan, meskipun sudah lari-lari dari ujung ke ujung Schipol, pesawatnya tidak terkejar. Saya diberi tiket selanjutnya dan harus menunggu 5 jam lagi. Tiket saya ga jadi 22 jam tapi 27 jam nungguinnya sampai ngantuk-ngantuk di bandara. Padahal Amsterdam ke Brussels itu cuma 3 jam naik kereta 😕

Beberapa waktu lalu saya sempat ke Hamburg, Jerman yang membukakan mata saya bahwa London is not a city, it’s a world on its own. Jadi sewaktu saya di Gent, saya menurunkan standar serendah-rendahnya supaya tidak kecewa. Ternyata sampai saat ini (sekitar seminggu di sini) keadaan tidak seburuk yang saya bayangkan, meskipun ada hal-hal yang agak mengecewakan. Meskipun begitu, saya masih suka membanding-bandingkan segala sesuatunya dengan London. Kata orang, tempat tinggal di luar negeri pertama kali itu akan menjadi baseline pandangan kita pada tempat-tempat lain di dunia, sepertinya London bukan tempat yang tepat untuk dipilih.

Memang agak sulit mencari informasi tentang Belgia di internet, tidak seperti UK yang mahasiswanya sangat aktif di forum (atau saya menggunakan bahasa yang salah??) jadi agak sulit membuat ekspektasi. Untuk bahan makanan mentah (groceries), di Gent lebih mahal dari di London. Saya shock waktu pertama kali belanja, tidak terlalu banyak, tapi sudah menghabiskan belasan Euro. Perkakas dapur juga lebih mahal (yang belum saya survei pakaian). Di sini juga tidak jual susu segar seperti di UK, tetapi susu pak UHT yang mungkin kurang sehat (?), yang jelas terlalu manis. Makanan mateng amat sangat mahal jadi harus lebih sering masak di sini. Untunglah ada toko penyelamat mahasiswa bernama Lidl (di London juga ada tapi tidak terlalu worthed pergi kesana). Saya seminggu ini beberapa kali mencoba coklat Belgia tapi manisnya parah dan harus sangat hati-hati karena banyak yang mengandung alkohol (malah ada yang di dalamnya ada liquor-nya).

Transportasi jelas sangat murah, apalagi kalau masih muda (kayak saya hehe). Sayangnya ga ada diskon untuk student (ini juga berlaku untuk membeli barang-barang lain atau masuk museum, tidak seperti di UK). Tapi disini karena bangunan tidak sedempet-dempetan di London, jarak halte ke pintu masuknya agak jauh. Paling ideal naik sepeda karena kota ini cukup kecil. Saya belum punya nyali untuk naik sepeda di sebelah kanan jalan. Jangankan naik sepeda, nyebrang aja saya masih bingung harus tengok kanan atau kiri dulu 🙁

Orang-orang di sini tidak seterbuka di Inggris. Kalau di Inggris, sering orang-orang secara spontan ngajak bicara. Kalau disini mungkin lebih kaku dan agak pemalu mungkin, kalau kita senyum mereka akan balas senyum. Di sini lebih mudah menemukan orang Belgia daripada menemukan orang Inggris di London. Untungnya, di grup riset saya banyak mahasiswa internasional jadi bahasa yang digunakan lebih dominan Inggris. Saya kemarin sudah mencoba menghapal beberapa kata bahasa Belanda tapi ternyata orang-orang sini bahasa Inggrisnya lancar dan saya malah bingung mau ngomong bahasa Belanda 😀

Di Belgia itu banyak banget libur tanggal merahnya. Sebagai staf/student PhD saya juga dapat tambahan 39 hari cuti. Bulan November aja ada 4 tanggal merah. Desember ada semingguan lebih. Bandingkan di UK yang tanggal merahnya mungkin hanya 4 kali ya (lupa). Masalahnya di sini semua toko tutup sewaktu libur nasional dan hari Minggu. Kalau di London masih ada beberapa toko yang buka. Masak iya saya cuma tiduran aja kalau libur 😐

Fasilitas kampus bisa dikatakan cukup bagus. Mungkin saya beruntung karena grup profesor saya kaya. Di kantor ada coffee machine, kulkas, tempat pemanas air, bahkan dishwasher! Saya juga dapat meja kerja, laptop plus layar monitor (meskipun profesor saya mungkin ga ridho, tapi beliaunya sedang cuti sekarang). Sayangnya ga ada musholla disini. Saya sholat di gudang yang ada di loteng meskipun hari pertama sholat di ruangan dan ada teman saya disitu jadi agak-agak aneh rasanya.

Sekian prolog cerita saya di Belgia. Mudah-mudahan akan lebih betah karena Belgia akan menjadi rumah saya selama 4 tahun ke depan.

3 Comments :, , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...