Agustina A. B.

Archive for March, 2017

Rheinfall, Lucerne, Zurich

by on Mar.07, 2017, under Life Story

Sebenarnya saya sudah jalan-jalan ke beberapa kota lagi, tapi karena sangat sibuk saya akan cerita kunjungan favorit saja. Beberapa minggu yang lalu saya mengunjungi beberapa kota di Swiss bersama rombongan PM2AM Student Trip. Saya sebenarnya nggak suka pergi bareng tur, tapi Swiss pengecualian karena transportasi di dalam negaranya sangat mahal. Kami berangkat dari Belgia (Leuven) pukul 10 malam dan tiba di Rheinfall pagi harinya. Rheinfall katanya “the biggest plain waterfall in Europe”. Whatever that means, yang jelas air terjunnya kecil banget. Kami juga hanya diberi waktu 30 menit yang sangat nggak cukup untuk keliling-keliling. Not impressive.

Selanjutnya kami ke Lucerne, ibukota Swiss jaman dulu. Kotanya tidak terlalu besar dan cukup banyak orang di sana jadi saya kurang menikmati. Terdapat sebuah sungai yang membelah kota. Yang saya heran, sungai itu bersih dan sangat jernih, bahkan kita bisa melihat batuan di dasar sungai, padahal Lucerne bukan desa yang sepi. Baru pertama kali ini saya lihat ada sungai di tengah kota yang jernih. Di sungai itu ada beberapa jembatan tua dan di atapnya digantung lukisan-lukisan unik. Dari hasil menguping percakapan orang, lukisan-lukisan itu selalu diganti pada interval waktu tertentu (baca: saya lupa berapa lama tepatnya). Di Lucerne ada sebuah patung ukiran singa di dinding tebing yang cukup impresif. Saya bilang impresif karena sepertinya tebing itu sengaja dibelah untuk membuat ukiran singa.

Setelah dua tempat yang (menurut saya) berkategori oke, kami menuju ke Zurich. Saya tidak berekspektasi terlalu tinggi untuk tujuan ini. Zurich kota metropolitan yang besar. Zurich bukan ibukota Swiss ya, tapi Bern. Tujuan pertama jalan-jalan saya adalah ke Üetliberg, sebuah bukit di luar city center. Karena agak jauh, saya pergi naik tram. Di tengah perjalanan ke atas bukit, saya melihat hamparan salju meskipun matahari bersinar terang. Apa yang saya lihat benar-benar sangat indah, surreal, dan membuat mata saya berkaca-kaca. Saya sangat berharap di atas bukit benar-benar ada salju yang bisa saya pegang. Benar saja, bukit Üetliberg ditutupi salju cukup tebal. Di bukit itu ada banyak pohon pinus. Suasana seperti di dalam hutan Narnia. Untuk pertama kalinya saya memegang salju!

Saya berjalan naik ke atas bukit dari stasiun tram. Kota Zurich terlihat dari kejauhan bersama sungai yang membelah di tengahnya. Sampai di puncak bukit Üetliberg, saya tidak percaya apa yang saya lihat. Dari kejauhan terlihat perbukitan Alpen yang ditutupi salju! Mirip seperti kemasan Toblerone. Saya tidak menyesal membeli tiket tram yang mahal.

Nah karena tiket tram yang saya beli di atas rata-rata, saya berusaha menggunakan semaksimal mungkin 😀 . Dari Üetliberg, kami menuju ke sisi yang lain dari Zurich, yaitu ke Zoo. Entah kenapa saya kesana karena saya tau saya nggak akan masuk ke Zoo, karena mahal dan karena sudah mau tutup. Ternyata di sebelah Zoo ada FIFA Headquarter. Lumayan lah. Sekarang udah ga jaman buat saya ngunjungin stadion, sekarang levelnya udah FIFA HQ 😉

Dari FIFA HQ, saya naik tram ke ETH Zurich sambil nyemil heisse maroni. Pertama kali saya akan heisse maroni di Monschau. Heisse maroni adalah semacam kacang yang dipanggang, kacang yang mirip dengan scene awal di Ice Age. Back to the story, dari ETH Zurich kita dapat melihat kota Zurich dari sisi yang berseberangan dengan Üetliberg, meskipun tidak terlalu tinggi. Saya menikmati matahari terbenam dari bangku yang berjajar di belakang kampus tua itu. Setelah itu, saya berjalan turun ke city center dan mengelilingi city center. Hari memang sudah gelap dan sepi, tapi justru terasa sangat tenang, indah, dan romantis. Jalan tua berbatu yang sempit membuat suasana benar-benar Eropa banget, mirip di film-film. Jembatan-jembatan tua beserta gereja di sampingnya terpantul jelas di sungai Limmat.

Zurich had made my day. Zurich jelas menjadi salah satu tempat di top favourite vacation saya. Negatifnya, Swiss sangat mahal. Sekarang saya mengerti apa yang dikatakan orang-orang. Masa ke toilet aja bayar 2 euro. Tapi kalau setahun sekali masih bolehlah, terutama untuk anak ndeso from tropical country seperti saya.

Rombogan bis pulang dari Zurich pukul 22.00 dan sampai ke Belgia pagi hari. Jadi kami lebih lama di bisa daripada di Swiss. Sampai di kos saya tidur seharian dan hari Seninnya masih ngantuk-ngantuk di kantor. Saking excited-nya, saya baru sadar kalau saya jalan selama 12 jam hampir non-stop. Teman sekantor saya (yang bule-bule itu) bilang kalau perjalanan saya: totally nuts!

Leave a Comment :, , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...