Agustina A. B.

Education

Beasiswa S3: Where and How to Get Them

by on Nov.26, 2016, under Education

Ada beberapa sponsor beasiswa besar yang juga membiayai S3, seperti Erasmus, Dikti, LPDP, AAS, DAAD, ADB, dan masih banyak lagi. Di sini saya tidak ingin menceritakan tentang beasiswa itu, tetapi lebih kepada “beasiswa” by project, yaitu ketika kita bekerja untuk suatu grup riset. Grup riset di sini bukan hanya berupa universitas, tetapi juga institusi penelitian yang biasanya bekerja sama dengan universitas untuk nantinya mewisuda kita. Di sebagian besar negara Eropa dan USA (kecuali Inggris), S3 memang suatu pekerjaan dimana kita dikontrak secara profesional dan digaji setiap bulan.

Where to Find Them?

Untuk bidang science (natural science atau life science), berikut link yang biasa saya pakai:

  • https://www.findaphd.com/ Sebagian besar berlokasi di UK. Kebanyakan post hanya menawarkan topik tanpa beasiswa atau hanya untuk orang UK saja sehingga kita harus mencari beasiswa sendiri dari provider beasiswa umum.
  • https://www.academictransfer.com/ Sebagian besar berlokasi di Belanda. Biasanya fully funded tetapi tidak terlalu banyak pilihan.
  • http://academicpositions.eu/ Secara umum menampilkan iklan dari Eropa. Banyak varian baik topik maupun negara. Ini website favorit saya.
  • Website-website universitas atau penelitian. Ini agak tricky karena kita harus rajin membuka satu-persatu. Sangat disarankan untuk institusi sangat besar (Max Planck, Leibniz, Cambridge, Wellcome Trust, dll) atau institusi favorit kita (segi lokasi, topik, atau mungkin prestige), atau ketika anda sedang kurang kerjaan, bisa dilihat di tab “Job Vacancy” atau “Open Position” di website mereka.

Disclaimer: link di atas saya cari untuk bidang saya, yaitu Analytical Chemistry / Pharmaceutical Analysis. Saya tidak menjamin setiap bidang ada di link-link di atas.

How to Get Them?

Tentu tidak ada langkah baku untuk mendapatkannya. Saya ingin menceritakan hal-hal yang biasa saya lakukan (tapi kadang-kadang saya melakukan hal tidak biasa).

Pertama, tentukan topik. Untuk mencari di website-website di atas, saya sarankan untuk menentukan topik besar (untuk membantu mencari keyword) tetapi tidak terlalu spesifik karena Principle Investigator (PI) / Project Leader akan menuliskan hal detail di deskripsi project. Jadi, jika anda sudah mempunyai keinginan sangat spesifik, sebaiknya langsung menghubungi PI. Contoh: bidang saya analytical chemistry, saya sudah punya filter pribadi tentang topik mana yang mungkin menarik (mass spectrometer, laser ablation, everything with biological samples) atau tidak (not to mention).

Kedua, persiapan dokumen. Dokumen yang diminta biasanya simpel, yaitu motivation letter, CV, rekomendasi, transkrip dan ijasah berbahasa Inggris. Tidak perlu sertifikat bahasa, tetapi harus dicek di ketentuan universitasnya. Motivation letter kita bisa gunakan “template”, yaitu sebagian besar isinya mirip untuk setiap job application kita, tetapi harus sedikit diubah supaya nyambung dengan topik yang diiklankan. Biasanya paragraf awal (tentang background pendidikan dan achievement saya, mengapa saya tertarik analytical chemistry secara umum) dan paragraf akhir (rencana ke depan, pernyataan bahwa grup anda sangat bagus dan saya ingin bergabung) yang saya buat selalu sama, kecuali untuk nama universitas/PI/grup risetnya (ini jangan sampai salah!). Paragraf yang di tengah isinya lebih ilmiah, misalnya apa yang kita ketahui tentang topik / grup riset ini. Biasanya saya membaca profil grup riset (masing-masing punya, silakan search nama PI di google) atau publikasi mereka (in brief).

Ketiga, langkah paling penting: mendaftar! Ga perlu takut ga diterima. Seleksi biasanya ada dua tahap, yaitu seleksi dokumen dan wawancara. Dokumen seperti yang saya sebutkan di atas. Jika diundang wawancara (biasanya Skype), peluang diterima lebih besar. Kita perlu membaca lebih dalam tentang apa yang mereka lakukan dan menajamkan alasan mengapa kita ingin bergabung tetapi isinya jangan sampai bertentangan dengan yang ada di dokumen kita. Saya biasanya benar-benar membaca background riset dan publikasi mereka. Saya sarankan, dokumentasikan setiap pendaftaran yang dilakukan, catat nama PI-nya. Ini dilakukan untuk men-track usaha kita dan bahan pembelajaran di aplikasi selanjutnya. Satu lagi, ga lucu kalo kita ternyata sudah pernah mendaftar ke PI dan kemudian mendaftar ke mereka lagi (although I desperately did).

Keempat, lupakan kalau kita pernah mendaftar. Saya sarankan untuk mendaftar di tempat lain juga karena keseluruhan proses biasanya memakan waktu sebulan – dua bulan – atau lebih. Saya pernah dipanggil wawancara setelah sekitar 3 bulan mendaftar.

Peluang?

Ketika kita mendaftar, kemungkinan diterima atau tidak diterima. Jadi, kemungkinan diterima 50%. Kemungkinan ini bisa naik atau turun tergantung profil kita. Misalnya, jika prestasi bagus, background nyambung, referensi OK, peluang diterima akan besar, setidaknya kita bisa mendapat wawancara. Wawancara ini butuh latihan dan trik yang bisa ditemukan di Google. Katakanlah peluang diterima kita 95%, yang 5% adalah faktor X yang sangat susah diprediksi dan dikendalikan. Ingat, yang bisa mencari dan menemukan topik yang kita daftar adalah hanya orang-orang yang niat dan background yang cukup nyambung, dari seluruh dunia. Untuk mereka (PI/institusi yang kita daftar), sangat sulit menentukan siapa yang akhirnya dipilih sehingga faktor X sangat berperan. Misalnya, seseorang yang sudah pernah internship di institusi tersebut, atau orang yang pernah melakukan riset yang sedikit nyambung, atau mungkin preferensi negara asal kandidat. Saya punya impresi bahwa PI sudah punya kandidat kuat yang akan dipilih bahkan sebelum wawancara*. Untuk itu, faktor X ini tergantung kehendak yang di atas dan kita perlu banyak berdoa.

Secara total, saya intensif mendaftar sekitar 10 bulan. Total saya mendaftar (dan menghubungi profesor secara manual) sekitar 30 aplikasi, dipanggil wawancara sekitar 5-7 kali. Sebagian job vacancy ternyata sudah terisi ketika saya mendaftar (this is really annoying!), terutama untuk iklan yang tidak ada deadlinenya. Kita bisa bertanya dulu apakah masih open recruitment atau tidak. Pengalaman wawancara sangat menarik. Memang capek perlu membaca publikasi berkali-kali di bidang yang berbeda-beda, tapi bisa ngobrol dengan profesor-profesor terkenal buat saya suatu anugrah tersendiri. Sekali lagi, ga perlu takut ga diterima. Semakin banyak ga diterima, ketika diterima rasanya akan makin mantab!

 

Bersambung ke pengalaman aplikasi yang cukup menarik: Max Planck Institute, Ghent University.

 

*Contoh. Di awal wawancara PI berkata: “Saya tidak yakin background kamu nyambung dengan riset saya, tetapi saya ingin mewawancaraimu.” Saya tidak diterima. Di wawancara lain, ada PI yang salah menyebut kata ganti “you” yang seharusnya “whoever will get the job”. Akhirnya saya diterima. Ini bukan indikasi mutlak tetapi hint saja.

Leave a Comment :, more...

Pendidikan di Inggris

by on Nov.25, 2015, under Education, My Point of View

Saya mendapat pertanyaan menarik dari seorang pengunjung blog tentang bagaimana sistem pendidikan di London. Dalam artikel ini, saya ingin berbagi sudut pandang saya sebagai mahasiswa yang kuliah S1 di Indonesia dan S2 di London. Tulisan ini akan sangat subyektif, tidak bermaksud men-generalisir maupun menjelek-jelekkan. Saya hanya ingin menggambarkan apa yang saya alami.

Sistem Universitas

Meskipun universitas saya terpencar di berbagai sudut kota London, saya benar-benar merasa sebagai warga universitas, tidak hanya sebagai warga fakultas. Saya bisa menggunakan fasilitas umum di semua kampus (seperti perpustakaan dan ruang komputer), tetapi ada ruang-ruang yang hanya bisa diakses orang-orang/kelompok tertentu (seperti kantor dan laboratorium penelitian). Yang menarik, segregasi antar fakultas tidak menonjol. Sebagai contoh, di bangunan kampus yang saya tempati terdapat berbagai program studi, mulai dari yang berafiliasi ke fakultas social science hingga life science. Mungkin memang karena keterbatasan tempat (tanah di London mahal!), tetapi sisi positifnya kita mendapat informasi kegiatan prodi lain (seperti diskusi, kuliah umum, presentasi) dan tidak canggung mengikutinya. Wawasan saya jadi lebih terbuka dan saya (akhirnya) menemukan ketertarikan di bidang-bidang yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, seperti politik dan musik. Sumber daya juga menjadi amat efisien: pegawai seperti maintenance, security, cleaning service lebih tersentral; ruang kuliah dan dan auditorium bisa digunakan oleh semua prodi, tidak perlu tiap prodi/fakultas menyediakan ruang untuk mahasiswanya sendiri. Tapi perlu digarisbawahi bahwa jumlah mahasiswa di London tentu jauh lebih sedikit daripada di kampus-kampus Indonesia.

Ujian juga terintegrasi ke universitas. Universitas mempunyai suatu divisi tersendiri bernama Exam Office yang mengurusi segala hal yang berkaitan dengan ujian. Ujian tentu dibuat oleh dosen yang bersangkutan, tetapi penyelenggaraannya diatur oleh Exam Office, seperti menyediakan tempat, menyediakan pengawas ujian, hingga mengurusi ijin mahasiswa untuk tidak mengikuti ujian. Dalam suatu term, ada minggu khusus yang dialokasikan untuk ujian. Ujian terasa seperti ujian masuk universitas di Indonesia; kami ditempatkan di suatu hall besar di luar bangunan universitas dan dalam satu ruangan kami ujian bersama prodi & fakultas lain.

Ketersediaan Informasi

Ketika berkuliah di luar negeri, ilmu itu seperti berserakan di jalan, tinggal kita mau mengambil atau tidak. Hampir setiap hari ada diskusi / seminar (atau apalah disebutnya) yang kita bebas mengikuti. Setiap akhir minggu, kami dikirimi jadwal diskusi/seminar oleh fakultas tempat kami berafiliasi untuk seminggu kedepan. Fakultas di sini gemuk-gemuk, dalam artian program studinya banyak, sehingga kegiatan diskusi pun amat banyak dan beragam. Bahkan ada juga informasi diskusi di luar universitas tapi masih dalam rumpun ilmu yang sama, biasanya kegiatan dari anggota University of London yang lain.

Untuk perpustakaan, buku keluaran terbaru biasanya tersedia. Bila tidak tersedia, kita bisa: 1. memberi saran kepada perpustakaan untuk dibelikan; atau 2. meminta perpustakaan untuk meminjamkan dari universitas lain/ perpustakaan kota. Jujur saya tidak pernah ke perpustakaan karena saya lebih suka membaca e-journal atau e-book. Universitas saya termasuk sangat lengkap koleksinya. Spot favorit di perpustakaan: Free Books! Di salah satu sudut perpustakaan terdapat rak berisi buku-buku yang di-reject karena perpustakaan sudah membeli edisi terbaru. Buku ini boleh diambil secara gratis. Lumayan, saya dapat buku bagus Atkins’ Physical Chemistry.

Fasilitas

Well, bukan rahasia bahwa fasilitas di negara maju jauh lebih baik daripada di Indonesia. Saya tidak akan komplain karena dulu saya bayar SPP 5 jt per tahun di Indonesia sedangkan di London 400 jt per tahun. Selain kucuran dari pemerintah yang sudah banyak, sumbangan dari charity juga membantu sangat membantu penelitian. Semisal charity yang peduli penyakin kulit, mereka dengan mudah menyediakan pasien untuk diteliti sehingga menghemat waktu dan biaya. Charity juga kadang membantu dari segi keuangan, bahkan salah satu pusat penelitian di kampus saya dibangun dari 50 % dana charity dan 50 % dana pemerintah.

Plagiarism is A Really Big Thing!

Copy paste is a big no-no untuk pendidikan di Inggris pada umumnya. Bahkan salah satu dosen saya sewaktu induction (semacam ospek) pernah bilang, “As a scholar, if you steal something, it’s probably okay, if you kill someone, perhaps still okay, but if you plagiarise, it’s a big sin!” (tentu dosen saya bercanda, but it’s a really big deal, I’ve warned you). Sebelum dinilai, essay atau report diupload ke suatu software pendeteksi plagiarisme (untuk universitas saya bernama Turnitin) yang akan memunculkan persentase kemiripan dengan (mungkin) semua database yang ada, bisa dari artikel internet, jurnal, buku, bahkan karya yang disubmit oleh student sebelumnya. Jadi, tidak ada lagi istilah nyontek kerjaan kakak tingkat.

Suasana Kelas

Tidak sepertiΒ  bayangan saya sebelumnya, ternyata saat kuliah di Inggris mahasiswanya juga tidak aktif bertanya. Saya tidak tahu apakah memang rata-rata tidak aktif atau karena hampir semua mahasiswa adalah orang Asia. Tapi saya merasa lebih bebas dan berani bertanya/berpendapat, mungkin karena kultur budaya barat yang lebih bebas dan gap antara dosen-mahasiswa tidak terlalu berbeda.

Salah seorang pengunjung blog bertanya bagaimana kinerja dosen di London. Saya rasa dimana-mana sama, kadang ada dosen yang bikin ngantuk, ada yang menarik, ada yang biasa-biasa saja. Lebih ke arah kultur, yang sedikit berbeda bahwa dosen disana jarang sekali terlambat, pernah suatu kali dosen saya terlambat karena lupa kalau ada jadwal mengajar 😐 , seorang lainnya pernah terlambat karena keretanya terlambat dan beliaunya merasa sangat bersalah. Dosen saya di Inggris juga tidak pernah kosong, bahkan ketika transportasi lumpuh karena mogok kerja ada pengumuman dari universitas bahwa diharapkan dosen tidak terlambat dan tidak kosong, tapi mahasiswa boleh bolos. Benar-benar sesuatu!

Secara keilmuan mungkin saya tidak terlalu mendapat banyak materi baru dari pendidikan S2 karena sebagian besar sudah saya dapatkan sewaktu S1 (hal ini juga dirasakan teman-teman saya dari Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya seperti India dan Cina), tetapi saya lebih kepada learn how to learn. Saya belajar bagaimana melihat dan mengkritisi suatu hal dari sisi positif dan negatif, bagaimana memilih dan memilah informasi, dan saya merasa kemampuan menulis saya meningkat tajam.

2 Comments more...

Dissertation – orang Indonesia bilang tesis (bagian 2-habis)

by on Nov.03, 2015, under Education, Life Story

Kelulusan mahasiswa dari program master di Inggris pada umumnya tidak memakai defense, atau semacam sidang. Di program saya (MSc PAQC at King’s), penilaian mencakup beberapa aspek terutama report, poster dan literature review.

Setelah beberapa minggu ngelab, saya akhirnya sudah hampir selesai mendapatkan data untuk disertasi. Di akhir kegiatan ngelab saya yang kebetulan di bulan puasa, saya menjadi sangat produktif karena berangkat pagi (jam 8 udah amat sangat pagi) dan pulang sore (jam 6an) tanpa makan siang. Masih tersisa dua minggu sebelum Lebaran dan beberapa sampel untuk diuji, saya memutuskan pulang kampung untuk Lebaran di Indonesia. Alasannya karena hampir semua teman Indonesia saya pulang kampung 😐 . Saya beli tiket hari Minggu, email untuk ijin ke Pak Supervisor (yang tumben langsung dibalas di hari Minggu), dan pulang hari Seninnya. Memang amat sangat nekat karena saya pikir saya bakal selo banget dan kalau cuma nulis doang di kos bisa bosan bin lumutan. Dua minggu di Indonesia tentu bukan liburan, tapi istilahnya working from home. Saya tetap menulis disertasi, konsultasi, revisi, dll. Saya sudah hampir menyelesaikan disertasi dan tinggal menambahkan sampel yang memang belum saya uji.

2 minggu sebelum ujian poster – 3 minggu sebelum pengumpulan report

Setelah sampai di London lagi, hari Senin pagi saya sudah masuk lab dan preparasi sampel. Sewaktu sampel mau dibaca dengan spektrofluorimeter, kuvetnya saya cari di lemari ga ada (silakan search sendiri apa itu kuvet). Saya cari Pak Supervisor ga ada di ruangan, diemail ga dibales. Setelah agak siang, saya bertemu mahasiswa bimbingan yang lain dan ternyata…. he is doing research in France! For a week! Okay I don’t need him but his cuvette. Kuvetnya diambil dan disimpan terkunci di ruangannya. Oh my God, such a nightmare! Sebagai informasi, kuvet yang saya gunakan itu khusus untuk fluorescence dengan panjang 2 mm x lebar 4 mm. Alhasil saya harus nyari orang yang punya kuvet itu. Dan ga ada satupun orang yang punya. Setelah 3 hari mencari, akhirnya supervisor saya menemukan orang yang punya kuvet mirip (2 mm x 2 mm, the smaller the better). And the person is his wife, yang juga sedang di Prancis, tetapi kuvetnya disimpan sama mahasiswanya. Brilliant!

Di tengah keseloan saya akibat kuvet yang hilang, saya membuat poster untuk bahan ujian. Saya belum pernah bikin poster sebelumnya, saya ga bisa pakai Corel atau software fancy lainnya, dan saya ga tau bagaimana cara mencetak poster yang ukurannya lebih gede dari badan saya. Draft poster saya print secara tile dengan kertas A4 dan disusun sebesar A0, pokoknya butuh kertas banyak banget. Saya juga tanya komentar teman-teman seflat mengenai poster saya (beruntung saya punya 12 teman seflat!). Sebenarnya saya ga niat-niat banget, tapi daripada nulis report lebih asyik bikin poster. Hahaha.

1 minggu sebelum ujian poster – 2 minggu sebelum pengumpulan report

Setelah akhirnya ketemu Pak Supervisor, komentar awal beliau, “I usually have problem with students who write too many words, but you don’t have enough.” Well, saya memang ga pinter nulis dan buat saya yang penting poster saya bisa jadi tapi ga malu-maluin, dan saya pikir menambah kata-kata di poster lebih mudah daripada mengurangi. Setelah edit sana-sini akhirnya saya print poster A0. Deg-degan juga waktu ngeprint, soalnya mahal banget. Saya ngeprint di Captain Cyan, dapat diskon 5 pounds karena follow twitternya, lumayan lah. Sehari sebelum Poster Day, saya baru tau kalau sewaktu Poster Day kami akan ditanya-tanya seperti ujian. What??? Kenapa Pak Supervisor ga bilang apa-apa. Tapi ya sudahlah akhirnya saya belajar teori yang berat-berat, semacam kenapa laurdan bisa mempunyai panjang gelombang emisi berbeda jika berada pada fase yang berbeda.

Poster Day

Ternyata pertanyaan saat Poster Day malah sangat sederhana, berkutat pada hasil beserta interpretasinya dan kedepannya mau seperti apa. Sama sekali ga ada yang teoritis! Beda banget sama ujian skripsi saya (ups). Salah satu penguji saya adalah PhD student yang sama-sama menggunakan fluorescence dan mungkin melihat perubahan fase juga. Saat dia tau kalau saya melihat perubahan fase tiap 1 derajat Celcius, dia kaget dan bilang, “it must take a very long time!” Indeed, and it’s bloody boring.

Setelah ujian poster dimana saya harus berdiri 2 jam, ada selingan kuliah umum dari Prof. David Cowan, dosen favorit saya karena penelitiannya yang luar biasa menarik buat saya (silakan cari sendiri). Kemudian yang paling ditunggu-tunggu: makan siang! Prasmanan lagi, sesuatu banget (biasanya cuma sandwich yang buat saya cuma seperti snack).

Acara diakhiri dengan pengumuman poster terbaik oleh semacam ketua jurusan. Nomor tiga teman saya. Nomor dua teman saya juga. Dan yang jadi juara…. saya! I didn’t see it coming! I was so happy, so did my supervisor. I smilled on my way back home. Dan saya juga dapat voucher Amazon 50 pounds yang sampai sekarang belum sempat saya habiskan.

Minggu terakhir pengumpulan report

Penjilidan di London itu amat sangat mahal, like you can’t imagine. Jauh-jauh hari sudah harus dijilid kalau mau dapat lumayan murah. Eh, ternyata malah deadlinenya diundur karena banyak yang pingin dapat jilid murah juga. Yang penting saya kumpulin deh. Saya jilid 3 buku, 2 dikumpulin, 1 buat kenang-kenangan.

Berakhirlah cerita disertasi saya. Secara keseluruhan, saya hanya ngelab full sekitar sebulan lebih sedikit. Meskipun banyak bolos dan plesir, supervisor saya malah bilang, “thank you for your hardwork.” Saya ga tau apakah ini sarkastik atau benar-benar memuji, kalau dari raut mukanya sih memuji. Nilai disertasi saya tidak terlalu buruk, tapi di bawah rata-rata nilai akhir saya. Saya awalnya agak-agak kecewa tetapi melihat teman saya yang 24/7 ngerjain disertasi, bahkan pernah juga tidur di lab, saya harus banyak-banyak bersyukur. Yang penting saya enjoy, bertambah ilmu baru di bidang yang baru, dan kesan saya terhadap physical chemistry yang dulunya benci sekarang jadi lumayan netral. Satu hal yang juga mengobati rasa kecewa saya: saya mendapat Lingard Prize sebagai best student di MSc PAQC. Sayangnya saya tidak dapat hadir di malam penghargaannya karena sudah pulang ke Indonesia.

Leave a Comment :, more...

Dissertation – orang Indonesia bilang tesis (bagian 1)

by on Oct.30, 2015, under Education, Life Story

30 Oktober 2015. Pukul 3 dini hari WIB.

Entah kenapa tiba-tiba saya terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Saya melihat sebuah pesan dari teman lama saya yang masih di London, yang sekarang PhD di kampus saya dulu. “I met your supervisor,” katanya. Baiklah, saya tiba-tiba mendapat mood untuk menulis tentang dissertation saya karena teringat pak supervisor. Dissertation adalah tugas akhir untuk jenjang master di UK. Di Indonesia, kita menyebutnya dengan istilah tesis. Tulisan ini mungkin merangkum berbagai hal tentang dissertation saya, baik akademis maupun non-akademis.

Sekitar Februari 2015.

Siang itu kami mendapat praktikum mikrobiologi yang dipimpin seorang dosen yang tidak mengajar kami di kelas. Ketika beliau mendemonstrasikan cara memindahkan kultur dalam tube secara aseptis, tangannya bagai menari-nari di atas nyala api (api Bunsen maksudnya), luwes banget deh pokoknya, padahal pakai tangan kiri (saat itu saya tidak sadar kalau bisa saja beliau left-handed, tapi akhirnya saya tau kalau beliau tidak left-handed). Saking kerennya, tiba-tiba saya bilang ke teman saya, “That’s so cool! I want him to be my supervisor.” Saya berkata tanpa maksud apa-apa, karena toh saya juga tidak suka dekat-dekat dengan mikroba. Kalau disuruh numbuhin mikroba kemungkinan mikrobanya mati atau malah cawannya jamuran πŸ˜€

Satu minggu kemudian.

Dalam program saya (MSc PAQC, King’s), student memilih project yang diberikan project module coordinator. Kami disuruh memilih 4 diantara sekitar 50an projects, tetapi harus memilih supervisor yang berbeda. Meskipun Pak koordinator berkata bahwa pilihan kita tidak berdasarkan prioritas (artinya semua pilihan adalah seimbang), tetapi sulit juga tidak menempatkan prioritas pertama di nomor 1. Memilih supervisor juga sama pentingnya dengan memilih project, meskipun kalau apes dapat supervisor yang ga bbanget, kita cuma “menderita” beberapa bulan. Kriteria dalam memilih project dan supervisor: saya dan beliau harus sama-sama mengerti cara bicaranya (beberapa dosen mempunyai aksen daerah yang sangat kental, susah sekali dicerna), menghindari supervisor yang ga banget (saya kurang sejalan dengan beberapa (sedikit sih) orang), terakhir adalah kita tertarik dengan project-nya (malah terakhir, haha!) Jadi saya pilih 4 projects:

  1. Analisis sesuatu dengan HPLC. Project-nya sangat amat menarik bagi saya. Sayangnya beliau sedang penelitian di Australia waktu itu, jadi saya cuma bisa bertanya detailnya lewat email. Calon supervisor ini belum pernah mengajar saya, tapi setelah lihat speech beliau di YouTube, sepertinya saya bisa mengerti aksen beliau.
  2. Pengembangan metode dengan FTIR. Calon supervisor ini mengajar kelas kami hampir tiap minggu! Saya yakin banyak yang memilih beliau. Tapi apa salahnya mencoba. Sebenarnya project beliau terbilang (just) okay buat saya. Beliau mengembangkan metode dengan cara yang menurut saya agak aneh karena basic beliau adalah engineer yang suka ngutak-ngatik alat. Kalau kayak gini mana bisa diterapkan di Indonesia, sayang dong alatnya 😐
  3. (Awalnya saya pikir) analisis sesuatu dengan FTIR atau fluorescence spectroscopy. Ini adalah dosen mikrobiologi di lab minggu lalu. Well, his accent is understandable. Karena saya agak malas (toh pilihan ketiga), saya hanya bertanya lewat email apakah saya perlu men-sesuatu-kan mikroba. Dan ketika dijawab tidak: okay cus!
  4. Sesuatu pakai PCR. Ini pilihan paling random hanya karena saya pernah beberapa waktu pakai PCR. Dan email pertanyaan saya dijawab beliau setelah list-nya saya kumpulkan 😐

Beberapa waktu kemudian.

Announcement time! So exciting!Β  Dan saya membuka email dengan deg-degan, saya dapat: pilihan 3! Pak mikrobiologi! Saya ga tau harus senang πŸ™‚ atau sedih πŸ™ . Tapi yang jelas saya senyum-senyum sendiri karena rupanya ada malaikat lewat yang mengamini omongan kecil saya. Haha!

Pertemuan pertama dengan Pak Supervisor, beliau menjelaskan panjang lebar tentang project yang akan saya kerjakan. Saya ga ngerti sama sekali dan cuma diam saja sepanjang pertemuan. Panic mode: ON. Kemudian beliau memberikan beberapa jurnal untuk dibaca supaya saya lebih ada gambaran. Sebagai catatan, tidak akan ada PhD student atau post-doc yang menemani saya,Β  jadi kalau ada apa-apa saya harus bertanya langsung ke supervisor. Even for the silliest things, which I often did!

Kami juga membicarakan timeline kerja, rencana pengenalan lab, adab-adab yang biasanya dilakukan di lab, cara menulis notebook, dll. Timeline sangat penting karena saya akan mengikuti exam di akhir Mei. Karena harus belajar juga, saya bilang kalau saya tidak mau datang ngelab tiap hari. When he give a little pause with a kind of this 😯 expression, saya baru sadar kalau saya terlalu berani ngomong hal itu. But I won my position. Haha!

Sekitar 2 minggu kemudian.

Nilai report praktikum mikrobiologi diumumkan. I got the worst score in this semester! Panic mode: go to higher level. Di suatu kesempatan saya bertanya ke supervisor, “Will you mark my work?” He said, “Mostly yes, with another staff.” Panic mode: even higher.

Ketika saya baca jurnal dan akhirnya mengerti apa yang dijelaskan supervisor, saya baru sadar kalau ternyata project saya bukan analisis. Tetapi sesuatu yang disebut biofisika. Memahami fenomena fisika hal-hal biologis. Fisika! It sounds scary. And it really was! Untunglah supervisor saya super baik dan ganteng. Tips: kalau tidak tau, langsung saja bilang “I don’t know”, terutama bila berkaitan dengan masalah bahasa. Orang bule (yang saya kenal) lebih suka kalau kita bilang kita tidak mengerti daripada diam saja, karena bisa salah sangka.

Akhir April 2015.

Sebulan sebelum ujian, saya sakit dan harus dioperasi. Bukan, bukan operasi yang seram menakutkan, bahkan saya tidak mau disebut sakit karena saya tidak sakit. Saya bilang saya injured dan tidak bisa menggunakan tangan kanan selama sebulan karena diperban. Saya tidak bisa ngelab, nulis saja tidak bisa. Sebenarnya sayasudah libur untuk belajar waktu itu, tapi saya juga mengabarkan ke supervisor kalau-kalau tangan saya perlu waktu lama untuk sembuh.

Akhir Mei 2015.

Saya sudah sembuh. Saya kembali lagi ke lab. Hooray! KaliΒ  ini full time. Saya mulai memahami biofisika. Sebelum exam saya lebih ke optimasi metode dan sekarang saya mulai ambil data. Saya pakai rotary evaporator tapi di tengah-tengah penelitian, airnya suka masuk ke tube. Mungkin sebenarnya saya yang ga bisa menggunakannya. Jadi kadang-kadang bejo kadang-kadang enggak. Haha.

Oh ya, karena saya (awalnya sampai tengah-tengah) tidak suka sama fisika, saya jadi agak males-malesan. Saya malah suka banget travelling, bahkan sempat ke Spanyol dan Lake District beberapa hari, juga ke beberapa kota juga tiap weekend. Saya juga tidak dari pagi sampai sore ngelab karena instrumennya harus berbagi dengan orang lain. Apalagi setelah saya tau kalau saya (cuma) butuh 60 poin untuk mendapat distinction, saya jadi kadang niat kadang enggak. Setiap ada apa-apa saya selalu tanya ke supervisor, sampai-sampai kalau saya tidak nongol di office beliau, beliau bilang, “I assume you are fine. Otherwise you’ll knock on my door thousand times”. You know me so well! Seperti orang British pada umumnya, supervisor saya suka banget bercanda meskipun beberapa kali saya ga paham tapi tetap ikut ketawa.

Akan tetapi, saya juga kadang-kadang keliatan so stupid in front of him. Suatu ketika tiba-tiba temperature probe (semacam termometer) yang saya pakai error. Masak air panas kok suhunya minus. Ketika saya bilang ke Pak Supervisor kalau alatnya rusak, he was like 😐 , “You put the positive charge to the negative side, that’s why it decreases.” OMG! Rasanya malu banget dan pingin ketawa, tapi masak ngetawain diri sendiri, toh supervisor saya ga ketawa.

Trus suatu ketika beliau menyuruh saya menyimpan sampel di fridge. Saya bilang, “But it’s water, it will be frozen”. Saya memang kadang-kadang salah menyebut fridge dengan freezer karena di Indonesia kan kita diajarinnya refrigerator. Malah ngeles, hehe. Pas beliau mau menjawab, saya langsung bilang, “Oh fridge. I thought freezer.” Kemudian beliau menjelaskan letak kulkasnya, “You know when you get in, your bench is in the left, go straight until archway, turn left. It’s in the middle of the archway.” Masalahnya saya waktu itu saya ga ngerti apa itu archway. Yang saya tau kalau naik bus nomor 17 dari London Bridge, si mbak-mbak yang suka bunyi di bus itu bilang, “seventeen, to Archway”. Lah apa hubungannya? Akhirnya beliau gambarlah denahnya. Haha! Image saya langsung ngedrop di pertemuan itu.

 

Ternyata panjang juga ya. Saya mau kuliah dulu. -to be continued-

Leave a Comment :, more...

How Hard to Speak English

by on Apr.14, 2015, under Education, Life Story, My Point of View

Once upon a time, in an early morning, like really early, at 8 AM actually (I know, it’s not early enough for Indonesian), I was going to go to Canterbury. I arrived in a tiny station, called Waterloo East. It is too tiny, even it does not have information board as big as in Waterloo for example. The problem was that Canterbury West, my destination, is not the last destination. I don’t have time to wait for the running text to show all calling points. So I asked the information desk.

“Excuse me, which platform is to Canterbury?”

“Glastonbury? 8O” (It’s not even in South East England, not served by Southeastern Train so she was quite shock)

“Can-ter-bury”

“Oh, platform 3”

Like really? I know my pronunciation, especially the tone, is terrible but Canterbury is not a tricky word. It’s pretty straightforward. I have a huge problem to mention the place where I live. I live in Southwark, which is pronounced as /ˈsΚŒΓ°Ι™rk/ SUDH-Ι™rk (that’s what Wikipedia says, try Google if you’re not sure). So I never say I live in Southwark. I prefer to say that I live in London Bridge, which is actually not a name of a region. If you come to my university, there is a nice library named Maughan. It’s called /mΙ’n/ but I what I hear is like mourn. Other tricky things is like Greenwich, Woolwich, Chiswick, you don’t want to pronounce the w if you want to be recognized. Place like Birmingham, Nottingham, Durham, you don’t pronounce ham clearly, so it’s like Birmingem, Nottingem, Durem. However, Tottenham is different. Do Google it, because I was not really sure as well. The thing is, do search in Google how to pronounce a place if you want to go there. Just in case your Google Maps doesn’t work, you can still ask people. I remember I was almost lost in my very first day in London just because I can’t pronounce the road where I supposed to live correctly.

However, I’ve experienced something worst. I complained about lamp in my residence that did not work. They didn’t know what I’m talking about. “Your what”, they said. In my language, there is no word that ends with two consonant in the end, except ng. So, I never pronounce e.g. p in lamp, d in friend, something like that. For the first time, I needed few minutes to explain, plus some body language because I didn’t know what the case was. In the second complain, when they asked what it was, I just repeated lamp with very strong p behind the word. It did work.

The most pathetic was when I said guard. I have thick Javanese accent so when I say guard, the g will be very thick. My friend couldn’t recognize. I spelled it but it didn’t work as well. So I needed to elaborate in a paragraph just to say a very usual word.

I do have problems but it is a fun thing. I come here to learn. Once my friend (not Indonesian) said “I like your accent”, I was so happy. That was the first time a person said that to me, Indonesian will never say that because my accent is too thick. But actually, my friend said that because when I speak, I also use body language just in case people don’t understand. I never do that back home and now I do it even when I’m unintentional. Sometimes I like it, sometimes I don’t like because it is too funny to be done.

2 Comments : more...

Indonesia vs Spanyol

by on Nov.22, 2014, under Education

Ceritanya aku sekelompok praktikum sama orang Spanyol. Dia S1 di University of Barcelona.

Praktikum 1 (bikin kapsul pakai alat pengisi kapsul)

A: ini dipake di industri apa apotek?

B: apotek. kamu ga dapet ini pas kuliah?

A: enggak

B: emang kalo di apotek kalian pake apa?

A: pake tangan

B: 😯 😯 😯

Spanyol 1 – 0 Indonesia

Praktikum 2 (disolusi)

B: ini caranya gimana

A: oh gini (mencet-mencet)

B: aku lupa, kayaknya ga dapet pas S1. kamu dapet ga?

A: dapet πŸ˜€

Spanyol 1 – 1 Indonesia

Leave a Comment :, more...

Tips Mendapatkan LoA

by on Jul.13, 2014, under Education

Sepertinya tulisan semacam ini sudah banyak di internet. Bahkan saya dulu juga belajar dari situ juga. Saya mau cerita versi saya, terutama yang saya alami. So, ini buka copas ya!

LoA adalah singkatan dari Letter of Acceptance, yaitu surat pernyataan diterima di suatu universitas dan diterbitkan oleh universitas tersebut (bukan oleh supervisor (dosen)). Beberapa beasiswa mensyaratkan LoA (misal NFP, StuNed), beberapa lainya bersifat optional (misal LPDP, Chevening), dan yang lain tidak mensyaratkan (misal Erasmus). Untuk kebutuhan optional, jika LoA sudah dimiliki, biasanya kemungkinan diterima beasiswa akan meningkat. Untuk beasiswa yang tidak mensyaratkan LoA, biasanya LoA akan dibantu/diuruskan oleh provider beasiswa.

 

Menentukan Tujuan Belajar

Ini adalah langkah paling penting dan menurut saya paling susah. Tentukanlah dulu bidang yang ingin dipelajari, semakin spesifik semakin baik karena pencarian akan semakin mudah. Misalnya, saya mencari bidang kimia analisis yang menggunakan sampel-sampel farmasi, tetapi tidak terlalu banyak membahas alat-alatnya (tidak terlalu instrumental). Dari beberapa universitas, pilih yang paling cocok, atau kalau mau daftar aja semuanya. Kalau saya menggunakan beberapa preferensi, misalnya saya memilih universitas tanpa application fee, tanpa perlu mengirim berkas ke universitas, adakah beasiswa, dan perkuliahan menggunakan bahasa Inggris.

Jika masih bingung dengan bidang yang ingin diambil, mungkin bisa melanjutkan bidang yang ditekuni di jenjang sebelumnya, atau ingin berkarier di bidang apa. Lebih baik diskusikan dengan orang yang ahli di bidang tersebut, misalnya dosen. Biasanya beliau juga mempunyai informasi tentang universitas yang ahli di bidang tersebut. Jika bidang yang diinginkan tidak menyediakan kuliah, universitas di Inggris dan Australia menyediakan Master by Research. Jika di universitas tersebut ada ahli di bidang yang anda inginkan, sebaiknya hubungi beliau untuk menanyakan apakah bersedia menjadi supervisor.

 

Persiapkan Dokumen

Salah satu preferensi lainnya dalam memilih universitas adalah dokumen yang diminta. Saya memilih universitas yang meminta dokumen-dokumen standar aja. Dokumen-dokumen ini dijelaskan di web universitas. Dokumen yang biasa diminta saat aplikasi biasanya adalah sebagai berikut:

  1. Ijasah dan transkrip*. Selain yang asli, diperlukan terjemahan dalam bahasa Inggris. Kalau universitas saya, terjemahan bisa diminta di kantor akademik fakultas.
  2. Sertifikat bahasa*. Untuk program berbahasa Inggris, hampir semua universitas menerima TOEFL iBT atau IELTS. Universitas di US lebih menyukai TOEFL sedangkan universitas di Inggris dan Australia lebih menyukai IELTS. Untuk masalah keimigrasian, mulai 1 Juli 2014, imigrasi Inggris sudah tidak menerima TOEFL sebagai bukti kemampuan berbahasa. Jadi, yang ingin sekolah di UK memang harusΒ  mengambil IELTS.
  3. Surat rekomendasi*. Biasanya dimintai 2 surat rekomendasi dari dosen selama S1. Untuk yang sudah bekerja, salah satu rekomendasi bisa berasal dari atasan tempat bekerja. Ikutilah petunjuk dari universitas terkait surat ini, apakah ada form/tidak, apakah perlu dikirim langsung oleh dosen, apakah bisa lewat email atau harus lewat pos. Jika dikirim lewat email, biasanya harus dikirim dari email dengan domain universitas (misal xxx.ac.id).
  4. Personal statement atau motivation letter. Ini merupakan tulisan yang berisi alasan memilih program atau universitas.
  5. GRE atau GMAT. GMAT mirip GRE tetapi hanya untuk bidang manajemen. Sejauh yang saya ketahui, universitas di US dan beberapa di Jerman dan Swis meminta sertifikat ini.
  6. Surat kesanggupan dari supervisor. Untuk program Master by Research, surat ini penting untuk dilampirkan (beberapa universitas mewajibkan).
  7. Proposal penelitian. Untuk program Master by Research, proposal penelitian sifatnya wajib.

*pasti diminta oleh universitas

 

Apply Now

Beberapa universitas membuka pendaftaran sepanjang tahun. Jika sudah yakin dengan pilihan anda, silakan mendaftar. Beberapa universitas menerima aplikasi yang tidak lengkap, sehingga jika diterima status anda adalah mendapat conditional offer. Kekurangan dokumen harus dilengkapi sebelum kuliah. Sewaktu saya mendaftar, saya hanya melampirkan transkrip hingga semester 6 saja dan diterima (meskipun masih kurang IELTS, ijasah dan rekomendasi).

Beberapa universitas akan mengadakan interview sebelum anda diterima. Bahkan ada yang interviewnya di universitas yang dituju, dengan biaya akomodasi ditanggung universitas! Seru kan, udah daftarnya gratis, bisa jalan-jalan gratis.

 

Menurut saya, diterima di universitas tidak terlalu sulit. Saya mendaftar di beberapa universitas dan diterima meskipun berkas belum lengkap. So, take an action now!

 

5 Comments : more...

Catatan Perjalanan 2 Tahun

by on Jun.20, 2014, under Education

Gara-gara waktu SD liat Jerman di World Cup 2002, saya jadi ngebeeet banget pingin sekolah disana. Beranjak dewasa, saya mulai berpikir realistis dan menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang impossible. Tapi setelah kuliah, asa itu kembali muncul. Dosen-dosen kebanyakan lulusan luar negeri, temen-temen juga udah banyak yang go international. It’s not that impossible! Dua tahun lalu saya memulai perjuangan mencari beasiswa. Setelah mendaki gunung lewati lembah, akhirnya penantian itu membuahkan hasil. I’m going to study in the UK!

Yep, saya perlu dua tahun untuk dapat 1 beasiswa. Semenjak akhir semester 4, saya mulai mencari universitas yang menyediakan prodi yang cocok dengan minat saya, kimia analisis. Tiap hari tak pernah absen mantengin web-web universitas di luar negeri (sambil nge-game sih, makanya betah πŸ˜€ ). Tujuan awal tentu Jerman. Akan tetapi, untuk kuliah disana perlu bisa berbahasa Jerman (dibuktikan dengan TestDaF, semacam TOEFL-nya bahasa Jerman) yang setara dengan C1 atau C2. Okelah, saya mulai les bahasa Jerman. Eh tapi tapi, saya baru tau kalo ternyata level C itu tinggi buanget. Di tempat les saya (paling murah se-Jogja karena milik kampus), paling mentok cuma sampai B1. Saya les cuma sampai level 2 di A1, level 3-nya udah males banget πŸ˜€

Nggak semua kuliah di Jerman pakai bahasa Jerman. Untuk international classes, perkuliahan dalam bahasa Inggris. Tetapi prodi yang ditawarkan hanya beberapa saja, terutama untuk ilmu-ilmu yang lagi booming. Saya masih berpikir bahwa saya ingin kuliah karena ingin ke Jerman, mau nonton bola, tur stadion di Eropa, pokoknya bukan karena hal-hal yang akademis. Tujuan pencarian berubah dari kimia analisis ke sesuatu yang lain (rahasia ya :)) Setelah banyak berdiskusi, alhamdulillah saya kembali ke jalan yang benar dan niat ke sana untuk sekolah :). Dari situlah saya sudah tidak mulai ngotot ke Jerman.

Saya beberapa kali ikut seminar-seminar beasiswa dan pameran pendidikan, tentu saya pilih yang gratisan. Tidak semua yang gratis itu jelek karena saya pernah menghadiri seminar gratis dengan pembicara Ahmad Fuadi dan Muhammad Assad (penulis Notes from Qatar). Tips: jangan lupa bertanya di acara tersebut, kan lumayan juga udah gratis pulangnya bawa souvenir πŸ˜€

Sepertinya saya sudah tau apa yang perlu dilakukan untuk bisa mendaftar. Tapi saya belum segera memulainya. Entah kenapa masih merasa nggak pede untuk daftar, takut kalau gagal. Setelah mendapatkan trigger dan momen yang pas, akhirnya saya mulai mendaftar. Satu, dua, akhirnya keterusan mendaftar dan mendaftar lagi. Puluhan profesor sudah saya kontak, belasan beasiswa sudah saya daftar, beberapa LoA sudah saya dapatkan. Alhamdulillah sekarang saya sudah lolos wawancara Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP. Memang secara resmi belum dinyatakan sebagai penerima beasiswa karena masih kurang 1 tahap lagi, tetapi setidaknya sudah ada titik terang. Berikut beasiswa yang pernah saya daftar:

  1. NIPS Scholarship
  2. Lotus III
  3. Chevening
  4. Faculty for the Future
  5. Swap and Transfer
  6. Lotus Unlimited
  7. Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI LPDP)
  8. Monbukagakusho
  9. Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI LPDP)
  10. Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI LPDP) *untuk kedua kalinya
  11. dan beberapa beasiswa dari universitas

Tips mendapatkan beasiswa:

  1. Niat dan tujuan. Ini yang membuat kita bisa betah berusaha.
  2. Ridho orang tua. Ini pertama dan utama karena terbukti manjur banget. Walaupun berkas udah very awesome, tanpa ini insyaallah ga diterima. Ridho ibu adalah ridho Allah.
  3. Doa itu penting. Semua ada waktunya, kalau belum rejeki ya berarti kita harus coba lagi dan lagi.
  4. Kumpulkan sebanyak mungkin informasi. Jangan malas membaca. Jangan malas bertanya, tapi tolong bertanyalah setelah selesai membaca. Kasian yang ditanyai jika terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya bisa dicari sendiri.
  5. Take action! Persiapkan semua berkas. Mendaftarlah jika anda memenuhi persyaratan beasiswa. 90% saya tidak diterima karena memang nggak eligible tapi nekat daftar (akibat banyak membaca beberapa pengalaman orang yang diterima meskipun syarat tidak terpenuhi).
  6. Diterima? Alhamdulillah. Tidak diterima? Ulangi step 3-5. Mendaftar untuk pertama kalinya adalah hal yang sulit. Jika tidak diterima, teruslah mencoba karena percobaan selanjutnya dijamin lebih gampang.

Break dulu sejenak. Tunggu cerita dan tips selanjutnya ya πŸ™‚

8 Comments :, , , , more...

IELTS: Ini Ceritaku (part 2 – habis)

by on Apr.03, 2014, under Education

Setelah kemarin bercerita tentang persiapan ujian IELTS, sekarang saya akan berbagi pengalaman saat ujian IELTS.Β  Tes IELTS di Yogyakarta diadakan di beberapa tempat, yaitu di Real English (IONs), IDP Education (UKDW), dan di Edlink+ConneX (Jl. Poncowinatan deket Pasar Kranggan). Bulan Januari 2014, saya datang ke IONs untuk mendaftar IELTS Maret, ternyata sudah full dan bulan Februari juga full. Akhirnya ke Edlink dan hanya ada jadwal tes Februari, sedangkan Maret belum ada rencana (belakangan saya tau kalau tes Maret di Edlink tidak ada). Syarat pendaftaran: fotokopi KTP/ paspor dan tentu saja uang (peraturan baru tidak perlu bawa foto). Lebih baik bayar pakai GBP karena kurs yang dipakai IALF lebih mahal.

Seminggu sebelum ujian dimulai, peserta akan diberitau pihak Edlink lokasi, waktu ujian, apa yang harus dibawa dan nggak boleh dibawa. Biasanya ujian dilaksanakan di LPPMP UNY. Peserta diminta untuk datang pukul 7. Ternyata absensi baru dimulai sekitar jam 8. Kita akan diminta menunjukkan KTP/ paspor (sesuai yang digunakan saat mendaftar), difoto, dan discan sidik jarinya sehingga kita tidak akan bisa tes IELTS lagi dimanapun dalam jangka 3 bulan. Meskipun pesertanya cuma 8, tapi absensi cukup lama karena mas bulenya ga bisa pakai kamera SLR πŸ˜•

Setelah absensi, peserta menitipkan barang bawaan di tempat yang disediakan dan segera masuk ruang ujian. Pengawas ujian juga cuma 1 orang (mas bulenya itu). Sebelum setiap bagian dimulai, mas bule akan membacakan peraturan ujian. Pertama Listening dulu 4 Sections dan kita diberi waktu 10 menit untuk memindah jawaban ke Answer Sheet. Jadi, saat soal diperdengarkan, jawaban bisa ditulis di soalnya. Kemudian soal Listening diambil dan diganti soal Reading. Ada 3 Sections dalam Reading dan waktunya 60 menit tanpa alokasi waktu untuk memindah jawaban. Kalau Reading sebaiknya jawaban langsung ditulis di Answer Sheet. Kemudian langsung lanjut Writing 60 menit untuk menulis 2 topik.

Setelah 3 bagian tanpa istirahat yang cukup melelahkan, akhirnya ada break sebelum Speaking. Masing-masing peserta diberi perkiraan kapan mulai ujian Speaking, tapi diminta sudah siap sejam sebelumnya. Kebetulan saya dapat giliran pertama (ujian menurut abjad) jadi bisa langsung ujian dan pulang. Speaking hanya sekitar 14-15 menit, tetapi saya kemarin hanya 12 menit karena udah speechless. Penguji Speaking adalah mas bulenya tadi, jadi kita sudah lumayan familiar dengan dialek masnya. Saat Speaking kita juga akan direkam, tapi katanya itu bukan untuk kita tetapi untuk assessment pengujinya. Setelah itu kita disuruh keluar, dan mungkin mas bule sedang menimbang-nimbang mau kasih nilai berapa, karena peserta selanjutnya nggak segera disuruh masuk.

Tes IELTS butuh waktu cukup lama. Untuk itu, tubuh harus fit saat ujian. Nggak usah panik karena suasana nyantai banget bro bahkan lebih santai daripada saat saya tes TOEFL ITP. Keep calm and do your best.

 

6 Comments : more...

IELTS: Ini Ceritaku (part 1)

by on Mar.14, 2014, under Education

Kali ini saya akan berbagi pengalaman pertama menghadapi tes IELTS. Alhamdulillah, sekali tembak dapat nilai cukup untuk daftarΒ  King’s College London. Ini hanya satu dari banyak cara untuk meningkatkan nilai berdasar pengalaman pribadi saya. Mungkin bisa untuk menambah ide teman-teman untuk belajar IELTS.

 

Apa Itu IELTS?

IELTS (International English Language Testing System) adalah salah satu tes bahasa Inggris berstandar internasional. Semacam TOEFL lah, tetapi ini versi British-nya. As the consequence, ejaan maupun dialeknya berbau British gitu deh. Tapi nggak usah khawatir, kalaupun kita nulis pakai ejaan atau dialek American tetap diperbolehkan.

Tes ini sendiri ada 2 macam, yaitu Academic dan General. Academic biasanya diperuntukkan dalam syarat masuk perguruan tinggi. Ada 4 sesi dalam IELTS, yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Untuk lebih jelasnya, silakan lihat-lihat di Google karena terlalu panjang kalo diceritain disini πŸ˜€

 

Belajar Secara Otodidak

Saya sudah berniat untuk belajar IELTS sejak Oktober 2013 untuk tes Maret 2014. Tapi niat cuma niat aja. Sampai pada tangggal 22 Januari 2014, tepat 1 bulan sebelum tes, saya daftar IELTS dengan modal nekat. Awalnya saya hanya berniat coba-coba dan tidak pasang target. Saya sudah niat untuk ambil IELTS lagi 3 bulan kemudian (FYI, untuk tes lagi diperlukan jeda 3 bulan). Tapi ketika duit 3 juta keluar itu rasanya sayang juga kalo cuma buat coba-coba, hehehe.

Melihat sempitnya waktu dan modal yang minim, sangat tidak memungkinkan untuk ikut les. Alhasil, saya coba mencari buku-buku IELTS. Buku yang saya gunakan adalah 101 Helpful Hints for IELTS dan Cambridge IELTS with Answers dengan berbagai seri. Mungkin buku-buku serupa banyak dijual di toko-toko buku kesayangan anda, tapi saya mendownload via 4shared.

Sebelum belajar, saya mencoba untuk pretes dari buku 101 Helpful Hints for IELTS. Skor saya: Below Average! Saya sempat shocked karena soal-soalnya sangat berbeda dengan tes TOEFL. Listening-nya beberapa nggak milih bro, tapi nulis! Jadi jawaban berupa kata-kata atau angka yang ditulis. Dan itu nggak 1 dialog 1 soal, tapi 1 dialog bisa buanyak soalnya dan nggak putus-putus. Bingung deh. Setelah itu saya baca semua panduan dalam buku itu. Dalam beberapa latihan selanjutnya, skor saya naik secara perlahan.

Setelah khatam 1 buku, saya tetapkan jadwal latihan 1 paket soal setiap hari dari buku Cambridge IELTS with Answers. Kondisi saat berlatih saya sesuaikan dengan yang sebenarnya, terutama waktu tes. Soal-soal dalam buku sebelumnya terasa lebih sulit dan beberapa tips agak berlebihan. Skor saya cukup bagus, tetapi fluktuatif. Untuk tipe-tipe soal tertentu saya kurang bisa menguasai dan berharap nggak keluar ketika ujian sungguhan :mrgreen:

 

Listening dan Reading

Dua sesi ini memang lebih familiar dan sangat bisa dipelajari sendiri. Semakin banyak berlatih, kita semakin terbiasa meskipun setelah mencapai titik tertentu nilai kita akan sulit naik. Untuk listening, kita bisa membiasakan diri dengan film-film berdialek British. Sebenarnya dialek dalam ujian tidak terlalu kental British-nya, meskipun beberapa agak sulit diikuti. Berbagai macam tipe soal ada dalam Listening dan tidak semuanya keluar dalam ujian. Biasanya ada dialog untuk mengisi formulir, semacam formulir pendaftaran. Section selanjutnya bisa berupa dialog yang menggambarkan peta daerah, atau dialog tertentu kemudian soalnya berupa pilihan ganda, atau berupa kuliah/seminar. Menurut saya soal pilihan ganda itu sulit karena kita harus membaca soal dan pilihan jawaban dalam waktu cepat.

Untuk reading, banyak membaca jurnal atau koran sangat membantu. Bila anda tidak berlangganan koran semacam Jakarta Post, bisa dibaca koran-koran online dari luar negeri. Sebaiknya baca koran yang agak serius, bukan gosip-gosip selebritis πŸ˜€ Awalnya saya menggunakan trik membaca soal baru mencari jawaban di paragraf yang kemungkinan mengandung jawaban. Lama-kelamaan saya merasa kurang efektif karena pemahaman bacaan menjadi kurang komprehensif. Saya lebih suka membaca cepat bacaan, kemudian membaca soal. Sekiranya saya tidak bisa menjawab, saya bisa tahu tempat untuk mencari jawaban dengan cepat.

 

Writing dan Speaking

Sulit untuk mengukur kedua macam tes ini sendiri. Yang bisa dilakukan hanya berlatih saja, meskipun tidak tahu benar atau salah. Menurut tips yang saya baca, menuliskan kembali kalimat di koran dapat meningkatkan skill Writing. Menurut saya ada benarnya, karena ketika membaca emang gampang dimengerti, tapi ketika ditulis, beberapa kata bisa salah tulis meskipun sudah familiar. Sayangnya kemarin saya agak males nulis koran, soalnya kayak kurang kerjaan banget dan awalnya ga percaya sama tips ini hahaha πŸ˜€ Saat berlatih, saya hanya fokus menulis untuk memenuhi jumlah kata yang dipersyaratkan.

Untuk speaking, ini lebih susah lagi. Kita dituntut berpikir secara cepat dan kreatif, karena pertanyaan-pertanyaannya sepele tapi susah dijawab, dan yang jelas harus bisa diungkapkan dengan tepat. Sedikit spoiler, bule yang menguji sudah berinteraksi dengan kita sejak awal tes. Dia yang registrasi peserta, bacain peraturan ujian, dll, sehingga saat tes nanti sudah lumayan familiar dengan ucapannya. Terlebih, bule yang nguji kemarin bisa berbahasa Indonesia, setidaknya dia tahu bagaimana orang Indonesia kalo ngomong pakai bahasa Inggris. Saat tes, penguji sama sekali nggak mancing-mancing kita untuk meskipun udah skak mat banget. Kemarin saya hanya speaking total sekitar 12 menit, dari yang seharusnya 15 menit karena bingung mau ngomong apa lagi. Saya kira cuma bakalan dapet 4.5, tapi ternyata jauh lebih tinggi dari ekspektasi saya.

 

Pada saat hari H ujian, persiapkan diri dengan baik. Jangan lupa banyak berdoa, istirahat cukup dan sarapan. Meskipun ujian hanya sekitar 3 jam, tapi segala tetek bengek yang menyertainya bisa memakan waktu seharian. Semoga tulisan saya yang sedikit ini bisa menginspirasi. Good luck!

 

22 Comments :, more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...