Agustina A. B.

Life Story

Rheinfall, Lucerne, Zurich

by on Mar.07, 2017, under Life Story

Sebenarnya saya sudah jalan-jalan ke beberapa kota lagi, tapi karena sangat sibuk saya akan cerita kunjungan favorit saja. Beberapa minggu yang lalu saya mengunjungi beberapa kota di Swiss bersama rombongan PM2AM Student Trip. Saya sebenarnya nggak suka pergi bareng tur, tapi Swiss pengecualian karena transportasi di dalam negaranya sangat mahal. Kami berangkat dari Belgia (Leuven) pukul 10 malam dan tiba di Rheinfall pagi harinya. Rheinfall katanya “the biggest plain waterfall in Europe”. Whatever that means, yang jelas air terjunnya kecil banget. Kami juga hanya diberi waktu 30 menit yang sangat nggak cukup untuk keliling-keliling. Not impressive.

Selanjutnya kami ke Lucerne, ibukota Swiss jaman dulu. Kotanya tidak terlalu besar dan cukup banyak orang di sana jadi saya kurang menikmati. Terdapat sebuah sungai yang membelah kota. Yang saya heran, sungai itu bersih dan sangat jernih, bahkan kita bisa melihat batuan di dasar sungai, padahal Lucerne bukan desa yang sepi. Baru pertama kali ini saya lihat ada sungai di tengah kota yang jernih. Di sungai itu ada beberapa jembatan tua dan di atapnya digantung lukisan-lukisan unik. Dari hasil menguping percakapan orang, lukisan-lukisan itu selalu diganti pada interval waktu tertentu (baca: saya lupa berapa lama tepatnya). Di Lucerne ada sebuah patung ukiran singa di dinding tebing yang cukup impresif. Saya bilang impresif karena sepertinya tebing itu sengaja dibelah untuk membuat ukiran singa.

Setelah dua tempat yang (menurut saya) berkategori oke, kami menuju ke Zurich. Saya tidak berekspektasi terlalu tinggi untuk tujuan ini. Zurich kota metropolitan yang besar. Zurich bukan ibukota Swiss ya, tapi Bern. Tujuan pertama jalan-jalan saya adalah ke Üetliberg, sebuah bukit di luar city center. Karena agak jauh, saya pergi naik tram. Di tengah perjalanan ke atas bukit, saya melihat hamparan salju meskipun matahari bersinar terang. Apa yang saya lihat benar-benar sangat indah, surreal, dan membuat mata saya berkaca-kaca. Saya sangat berharap di atas bukit benar-benar ada salju yang bisa saya pegang. Benar saja, bukit Üetliberg ditutupi salju cukup tebal. Di bukit itu ada banyak pohon pinus. Suasana seperti di dalam hutan Narnia. Untuk pertama kalinya saya memegang salju!

Saya berjalan naik ke atas bukit dari stasiun tram. Kota Zurich terlihat dari kejauhan bersama sungai yang membelah di tengahnya. Sampai di puncak bukit Üetliberg, saya tidak percaya apa yang saya lihat. Dari kejauhan terlihat perbukitan Alpen yang ditutupi salju! Mirip seperti kemasan Toblerone. Saya tidak menyesal membeli tiket tram yang mahal.

Nah karena tiket tram yang saya beli di atas rata-rata, saya berusaha menggunakan semaksimal mungkin 😀 . Dari Üetliberg, kami menuju ke sisi yang lain dari Zurich, yaitu ke Zoo. Entah kenapa saya kesana karena saya tau saya nggak akan masuk ke Zoo, karena mahal dan karena sudah mau tutup. Ternyata di sebelah Zoo ada FIFA Headquarter. Lumayan lah. Sekarang udah ga jaman buat saya ngunjungin stadion, sekarang levelnya udah FIFA HQ 😉

Dari FIFA HQ, saya naik tram ke ETH Zurich sambil nyemil heisse maroni. Pertama kali saya akan heisse maroni di Monschau. Heisse maroni adalah semacam kacang yang dipanggang, kacang yang mirip dengan scene awal di Ice Age. Back to the story, dari ETH Zurich kita dapat melihat kota Zurich dari sisi yang berseberangan dengan Üetliberg, meskipun tidak terlalu tinggi. Saya menikmati matahari terbenam dari bangku yang berjajar di belakang kampus tua itu. Setelah itu, saya berjalan turun ke city center dan mengelilingi city center. Hari memang sudah gelap dan sepi, tapi justru terasa sangat tenang, indah, dan romantis. Jalan tua berbatu yang sempit membuat suasana benar-benar Eropa banget, mirip di film-film. Jembatan-jembatan tua beserta gereja di sampingnya terpantul jelas di sungai Limmat.

Zurich had made my day. Zurich jelas menjadi salah satu tempat di top favourite vacation saya. Negatifnya, Swiss sangat mahal. Sekarang saya mengerti apa yang dikatakan orang-orang. Masa ke toilet aja bayar 2 euro. Tapi kalau setahun sekali masih bolehlah, terutama untuk anak ndeso from tropical country seperti saya.

Rombogan bis pulang dari Zurich pukul 22.00 dan sampai ke Belgia pagi hari. Jadi kami lebih lama di bisa daripada di Swiss. Sampai di kos saya tidur seharian dan hari Seninnya masih ngantuk-ngantuk di kantor. Saking excited-nya, saya baru sadar kalau saya jalan selama 12 jam hampir non-stop. Teman sekantor saya (yang bule-bule itu) bilang kalau perjalanan saya: totally nuts!

Leave a Comment :, , more...

Ieper/Ypres

by on Dec.25, 2016, under Life Story

Ieper, sebuah kota kecil di bagian utara Belgia yang merupakan salah satu tempat puncak terjadinya Perang Dunia I. Turun di stasiun, saya berjalan melalui Ramparts walk, yaitu jalur yang melalui benteng kota. Benteng ini sebenarnya dibuat berabad-abad yang lalu, tetapi dimodifikasi berulang kali, dan disesuaikan juga ketika terjadi Perang Dunia I. Kebetulan sekarang H-1 Natal dan masih pagi sehingga suasana masih sepi. Saya sangat menikmati berjaan di pinggir sungai sambil ditemani semilir angin musim dingin. Terdapat berbagai penjelasan tentang bagian-bagian benteng ini di sepanjang jalan. Perjalanan berakhir di Menenpoort, yaitu sebuah bangunan yang memuat nama-nama tentara Perang Dunia I yang meninggal tetapi tidak ditemukan jasadnya. Perasaan seperti disayat ketika berjalan di antara nama-nama ini.

Selanjutnya saya menuju In Flanders Fields Museum, yaitu museum tentang Perang Dunia I. Saya juga membeli tiket untuk naik ke bell tower, yang mana saya harus naik tangga melingkar sebanyak 231 anak tangga, sampai di atas sangat dingin dan malangnya lagi loncengnya sedang berbunyi. Not recommended!

Lupakan tentang bell tower, museumnya sendiri menurut saya sangat bangus. Tidak sebesar, semewah, dan selengkap Imperial War Museum di London tapi In Flanders Fields Museum terasa lebih personal dan sangat menyentuh. Banyak kisah personal tentara, dari pangkat rendah hingga pangkat tinggi, yang diceritakan ketika berperang di Ieper dan sekitarnya. Misalnya seorang tentara yang menulis kartu pos untuk mengabarkan bahwa dia baik-baik saja kepada istrinya. Kartu pos itu disimpan di saku baju dan belum sempat dikirim. Tentara itu tertembak, meninggal, dan pelurunya menembus kartu pos itu. Ada juga kisah tentang gadis-gadis muda yang pertama kali masuk rumah sakit untuk menjadi perawat (tanpa pelatihan) dan melihat banyak tentara yang terluka. Perawat-perawat itu tidak tega, “It does not hurt the dead but the witness.”

Beberapa kisah diceritakan dengan bentuk video seperti orang yang benar-benar mengobrol dengan kita sehingga terasa sangat personal. Pada perang ini, Jerman pertama kalinya menggunakan senjata kimia, yaitu gas klorin. Salah satu video menerangkan aliran angin yang membawa gas, dengan peta jaman sekarang. Sewaktu pulang melewati lapangan-lapangan ini, saya jadi membayangkan kepedihan peristiwa seratus tahun lalu.

Penjelasan tidak melulu pro Allied Powers. Diceritakan beberapa propaganda perang dimana Jerman tidak berhasil karena persebaran surat kabar kurang merata. Sedangkan propaganda Allied Powers berhasil membuat rakyat percaya bahwa Jerman bangsa yang barbar dengan menceritakan bahwa mereka menyiksa dan membunuh wanita, orang tua, dan anak-anak. Hingga pada waktunya Jerman mengirim gas beracun, orang-orang makin percaya bahwa mereka benar-benar barbar. Koleksi seragam dinarasikan bahwa ketika seseorang setuju menerima dan memakai baju seragam untuk pertama kalinya, saat itu juga dia kehilangan hak-hak rakyat sipil, kemudian dia juga akan kehilangan hak kebebasan.

Saya salut bahwa bangsa-bangsa yang terlibat dalam perang ini benar-benar menghargai tentaranya. Tidak hanya dari suku atau ras mereka, misalnya British Empire juga membuat plakat untuk mengenang tentara dari India. Perancis juga melakukan hal yang sama untuk tentara dari Aljazair, dengan spesifik menyebut mereka beragama Islam.

Dari kisah-kisah di atas, saya heran mengapa orang masih perang dan perang. Caption dari Perang Dunia I adalah “The war to end war” tapi tentu sekarang kita tahu itu tidak benar. Di galeri selanjutnya saya menemukan sebuah (dari banyak) jawaban. Ada (mungkin banyak) orang yang terobsesi berperang. Salah satu kisah menceritakan seorang Amerika yang ingin menjadi pilot perang hingga pergi ke Kanada untuk mengkuti pelatihan. Tetapi dia selesai pelatihan ketika perang juga berakhir. Dia depresi dan berusaha meniru kedaan orang yang teruka akibat perang selama bertahun-tahun sampai akhirnya dia menemukan “pelarian” dengan menulis cerita.

Ieper kota kecil yang indah. Kisah tentang perang memang menyayat hati bila benar-benar diselami. Di sekitar Ieper juga terdapat banyak makam-makam tentara perang, tetapi sayangnya saya belum sempat mengunjungi karena sudah mulai mendung dan gelap (saya tidak ingin terbawa suasana malam-malam). I’ll be back Ieper!

Leave a Comment :, , , , more...

Rumah Baru Itu di Belgia

by on Nov.05, 2016, under Life Story

Satu tahun saya berjuang mendapatkan sponsor untuk studi lanjut S3. Jatuh (dan jatuh dan jatuh) bangun akhirnya membuahkan hasil dan saya akhirnya mendapat suatu tempat di Belgia, lebih tepatnya di kota Ghent (bahasa Inggris) atau orang lokal menyebutnya Gent. Mungkin kapan-kapan saya bisa cerita lika-liku mendapatkan beasiswa yang cukup menguras mental (karena ga dapet2 🙄 ).

Perjalanan datang ke Belgia cukup menarik. Tiket yang saya beli dengan rute Solo sampai ke Brussel hanya membutuhkan waktu 22 jam. Tetapi, ternyata connecting flight Amsterdam ke Brussels cuma 1,5 jam, pesawatnya telat 30 menit dan, meskipun sudah lari-lari dari ujung ke ujung Schipol, pesawatnya tidak terkejar. Saya diberi tiket selanjutnya dan harus menunggu 5 jam lagi. Tiket saya ga jadi 22 jam tapi 27 jam nungguinnya sampai ngantuk-ngantuk di bandara. Padahal Amsterdam ke Brussels itu cuma 3 jam naik kereta 😕

Beberapa waktu lalu saya sempat ke Hamburg, Jerman yang membukakan mata saya bahwa London is not a city, it’s a world on its own. Jadi sewaktu saya di Gent, saya menurunkan standar serendah-rendahnya supaya tidak kecewa. Ternyata sampai saat ini (sekitar seminggu di sini) keadaan tidak seburuk yang saya bayangkan, meskipun ada hal-hal yang agak mengecewakan. Meskipun begitu, saya masih suka membanding-bandingkan segala sesuatunya dengan London. Kata orang, tempat tinggal di luar negeri pertama kali itu akan menjadi baseline pandangan kita pada tempat-tempat lain di dunia, sepertinya London bukan tempat yang tepat untuk dipilih.

Memang agak sulit mencari informasi tentang Belgia di internet, tidak seperti UK yang mahasiswanya sangat aktif di forum (atau saya menggunakan bahasa yang salah??) jadi agak sulit membuat ekspektasi. Untuk bahan makanan mentah (groceries), di Gent lebih mahal dari di London. Saya shock waktu pertama kali belanja, tidak terlalu banyak, tapi sudah menghabiskan belasan Euro. Perkakas dapur juga lebih mahal (yang belum saya survei pakaian). Di sini juga tidak jual susu segar seperti di UK, tetapi susu pak UHT yang mungkin kurang sehat (?), yang jelas terlalu manis. Makanan mateng amat sangat mahal jadi harus lebih sering masak di sini. Untunglah ada toko penyelamat mahasiswa bernama Lidl (di London juga ada tapi tidak terlalu worthed pergi kesana). Saya seminggu ini beberapa kali mencoba coklat Belgia tapi manisnya parah dan harus sangat hati-hati karena banyak yang mengandung alkohol (malah ada yang di dalamnya ada liquor-nya).

Transportasi jelas sangat murah, apalagi kalau masih muda (kayak saya hehe). Sayangnya ga ada diskon untuk student (ini juga berlaku untuk membeli barang-barang lain atau masuk museum, tidak seperti di UK). Tapi disini karena bangunan tidak sedempet-dempetan di London, jarak halte ke pintu masuknya agak jauh. Paling ideal naik sepeda karena kota ini cukup kecil. Saya belum punya nyali untuk naik sepeda di sebelah kanan jalan. Jangankan naik sepeda, nyebrang aja saya masih bingung harus tengok kanan atau kiri dulu 🙁

Orang-orang di sini tidak seterbuka di Inggris. Kalau di Inggris, sering orang-orang secara spontan ngajak bicara. Kalau disini mungkin lebih kaku dan agak pemalu mungkin, kalau kita senyum mereka akan balas senyum. Di sini lebih mudah menemukan orang Belgia daripada menemukan orang Inggris di London. Untungnya, di grup riset saya banyak mahasiswa internasional jadi bahasa yang digunakan lebih dominan Inggris. Saya kemarin sudah mencoba menghapal beberapa kata bahasa Belanda tapi ternyata orang-orang sini bahasa Inggrisnya lancar dan saya malah bingung mau ngomong bahasa Belanda 😀

Di Belgia itu banyak banget libur tanggal merahnya. Sebagai staf/student PhD saya juga dapat tambahan 39 hari cuti. Bulan November aja ada 4 tanggal merah. Desember ada semingguan lebih. Bandingkan di UK yang tanggal merahnya mungkin hanya 4 kali ya (lupa). Masalahnya di sini semua toko tutup sewaktu libur nasional dan hari Minggu. Kalau di London masih ada beberapa toko yang buka. Masak iya saya cuma tiduran aja kalau libur 😐

Fasilitas kampus bisa dikatakan cukup bagus. Mungkin saya beruntung karena grup profesor saya kaya. Di kantor ada coffee machine, kulkas, tempat pemanas air, bahkan dishwasher! Saya juga dapat meja kerja, laptop plus layar monitor (meskipun profesor saya mungkin ga ridho, tapi beliaunya sedang cuti sekarang). Sayangnya ga ada musholla disini. Saya sholat di gudang yang ada di loteng meskipun hari pertama sholat di ruangan dan ada teman saya disitu jadi agak-agak aneh rasanya.

Sekian prolog cerita saya di Belgia. Mudah-mudahan akan lebih betah karena Belgia akan menjadi rumah saya selama 4 tahun ke depan.

3 Comments :, , more...

Dissertation – orang Indonesia bilang tesis (bagian 2-habis)

by on Nov.03, 2015, under Education, Life Story

Kelulusan mahasiswa dari program master di Inggris pada umumnya tidak memakai defense, atau semacam sidang. Di program saya (MSc PAQC at King’s), penilaian mencakup beberapa aspek terutama report, poster dan literature review.

Setelah beberapa minggu ngelab, saya akhirnya sudah hampir selesai mendapatkan data untuk disertasi. Di akhir kegiatan ngelab saya yang kebetulan di bulan puasa, saya menjadi sangat produktif karena berangkat pagi (jam 8 udah amat sangat pagi) dan pulang sore (jam 6an) tanpa makan siang. Masih tersisa dua minggu sebelum Lebaran dan beberapa sampel untuk diuji, saya memutuskan pulang kampung untuk Lebaran di Indonesia. Alasannya karena hampir semua teman Indonesia saya pulang kampung 😐 . Saya beli tiket hari Minggu, email untuk ijin ke Pak Supervisor (yang tumben langsung dibalas di hari Minggu), dan pulang hari Seninnya. Memang amat sangat nekat karena saya pikir saya bakal selo banget dan kalau cuma nulis doang di kos bisa bosan bin lumutan. Dua minggu di Indonesia tentu bukan liburan, tapi istilahnya working from home. Saya tetap menulis disertasi, konsultasi, revisi, dll. Saya sudah hampir menyelesaikan disertasi dan tinggal menambahkan sampel yang memang belum saya uji.

2 minggu sebelum ujian poster – 3 minggu sebelum pengumpulan report

Setelah sampai di London lagi, hari Senin pagi saya sudah masuk lab dan preparasi sampel. Sewaktu sampel mau dibaca dengan spektrofluorimeter, kuvetnya saya cari di lemari ga ada (silakan search sendiri apa itu kuvet). Saya cari Pak Supervisor ga ada di ruangan, diemail ga dibales. Setelah agak siang, saya bertemu mahasiswa bimbingan yang lain dan ternyata…. he is doing research in France! For a week! Okay I don’t need him but his cuvette. Kuvetnya diambil dan disimpan terkunci di ruangannya. Oh my God, such a nightmare! Sebagai informasi, kuvet yang saya gunakan itu khusus untuk fluorescence dengan panjang 2 mm x lebar 4 mm. Alhasil saya harus nyari orang yang punya kuvet itu. Dan ga ada satupun orang yang punya. Setelah 3 hari mencari, akhirnya supervisor saya menemukan orang yang punya kuvet mirip (2 mm x 2 mm, the smaller the better). And the person is his wife, yang juga sedang di Prancis, tetapi kuvetnya disimpan sama mahasiswanya. Brilliant!

Di tengah keseloan saya akibat kuvet yang hilang, saya membuat poster untuk bahan ujian. Saya belum pernah bikin poster sebelumnya, saya ga bisa pakai Corel atau software fancy lainnya, dan saya ga tau bagaimana cara mencetak poster yang ukurannya lebih gede dari badan saya. Draft poster saya print secara tile dengan kertas A4 dan disusun sebesar A0, pokoknya butuh kertas banyak banget. Saya juga tanya komentar teman-teman seflat mengenai poster saya (beruntung saya punya 12 teman seflat!). Sebenarnya saya ga niat-niat banget, tapi daripada nulis report lebih asyik bikin poster. Hahaha.

1 minggu sebelum ujian poster – 2 minggu sebelum pengumpulan report

Setelah akhirnya ketemu Pak Supervisor, komentar awal beliau, “I usually have problem with students who write too many words, but you don’t have enough.” Well, saya memang ga pinter nulis dan buat saya yang penting poster saya bisa jadi tapi ga malu-maluin, dan saya pikir menambah kata-kata di poster lebih mudah daripada mengurangi. Setelah edit sana-sini akhirnya saya print poster A0. Deg-degan juga waktu ngeprint, soalnya mahal banget. Saya ngeprint di Captain Cyan, dapat diskon 5 pounds karena follow twitternya, lumayan lah. Sehari sebelum Poster Day, saya baru tau kalau sewaktu Poster Day kami akan ditanya-tanya seperti ujian. What??? Kenapa Pak Supervisor ga bilang apa-apa. Tapi ya sudahlah akhirnya saya belajar teori yang berat-berat, semacam kenapa laurdan bisa mempunyai panjang gelombang emisi berbeda jika berada pada fase yang berbeda.

Poster Day

Ternyata pertanyaan saat Poster Day malah sangat sederhana, berkutat pada hasil beserta interpretasinya dan kedepannya mau seperti apa. Sama sekali ga ada yang teoritis! Beda banget sama ujian skripsi saya (ups). Salah satu penguji saya adalah PhD student yang sama-sama menggunakan fluorescence dan mungkin melihat perubahan fase juga. Saat dia tau kalau saya melihat perubahan fase tiap 1 derajat Celcius, dia kaget dan bilang, “it must take a very long time!” Indeed, and it’s bloody boring.

Setelah ujian poster dimana saya harus berdiri 2 jam, ada selingan kuliah umum dari Prof. David Cowan, dosen favorit saya karena penelitiannya yang luar biasa menarik buat saya (silakan cari sendiri). Kemudian yang paling ditunggu-tunggu: makan siang! Prasmanan lagi, sesuatu banget (biasanya cuma sandwich yang buat saya cuma seperti snack).

Acara diakhiri dengan pengumuman poster terbaik oleh semacam ketua jurusan. Nomor tiga teman saya. Nomor dua teman saya juga. Dan yang jadi juara…. saya! I didn’t see it coming! I was so happy, so did my supervisor. I smilled on my way back home. Dan saya juga dapat voucher Amazon 50 pounds yang sampai sekarang belum sempat saya habiskan.

Minggu terakhir pengumpulan report

Penjilidan di London itu amat sangat mahal, like you can’t imagine. Jauh-jauh hari sudah harus dijilid kalau mau dapat lumayan murah. Eh, ternyata malah deadlinenya diundur karena banyak yang pingin dapat jilid murah juga. Yang penting saya kumpulin deh. Saya jilid 3 buku, 2 dikumpulin, 1 buat kenang-kenangan.

Berakhirlah cerita disertasi saya. Secara keseluruhan, saya hanya ngelab full sekitar sebulan lebih sedikit. Meskipun banyak bolos dan plesir, supervisor saya malah bilang, “thank you for your hardwork.” Saya ga tau apakah ini sarkastik atau benar-benar memuji, kalau dari raut mukanya sih memuji. Nilai disertasi saya tidak terlalu buruk, tapi di bawah rata-rata nilai akhir saya. Saya awalnya agak-agak kecewa tetapi melihat teman saya yang 24/7 ngerjain disertasi, bahkan pernah juga tidur di lab, saya harus banyak-banyak bersyukur. Yang penting saya enjoy, bertambah ilmu baru di bidang yang baru, dan kesan saya terhadap physical chemistry yang dulunya benci sekarang jadi lumayan netral. Satu hal yang juga mengobati rasa kecewa saya: saya mendapat Lingard Prize sebagai best student di MSc PAQC. Sayangnya saya tidak dapat hadir di malam penghargaannya karena sudah pulang ke Indonesia.

Leave a Comment :, more...

Dissertation – orang Indonesia bilang tesis (bagian 1)

by on Oct.30, 2015, under Education, Life Story

30 Oktober 2015. Pukul 3 dini hari WIB.

Entah kenapa tiba-tiba saya terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Saya melihat sebuah pesan dari teman lama saya yang masih di London, yang sekarang PhD di kampus saya dulu. “I met your supervisor,” katanya. Baiklah, saya tiba-tiba mendapat mood untuk menulis tentang dissertation saya karena teringat pak supervisor. Dissertation adalah tugas akhir untuk jenjang master di UK. Di Indonesia, kita menyebutnya dengan istilah tesis. Tulisan ini mungkin merangkum berbagai hal tentang dissertation saya, baik akademis maupun non-akademis.

Sekitar Februari 2015.

Siang itu kami mendapat praktikum mikrobiologi yang dipimpin seorang dosen yang tidak mengajar kami di kelas. Ketika beliau mendemonstrasikan cara memindahkan kultur dalam tube secara aseptis, tangannya bagai menari-nari di atas nyala api (api Bunsen maksudnya), luwes banget deh pokoknya, padahal pakai tangan kiri (saat itu saya tidak sadar kalau bisa saja beliau left-handed, tapi akhirnya saya tau kalau beliau tidak left-handed). Saking kerennya, tiba-tiba saya bilang ke teman saya, “That’s so cool! I want him to be my supervisor.” Saya berkata tanpa maksud apa-apa, karena toh saya juga tidak suka dekat-dekat dengan mikroba. Kalau disuruh numbuhin mikroba kemungkinan mikrobanya mati atau malah cawannya jamuran 😀

Satu minggu kemudian.

Dalam program saya (MSc PAQC, King’s), student memilih project yang diberikan project module coordinator. Kami disuruh memilih 4 diantara sekitar 50an projects, tetapi harus memilih supervisor yang berbeda. Meskipun Pak koordinator berkata bahwa pilihan kita tidak berdasarkan prioritas (artinya semua pilihan adalah seimbang), tetapi sulit juga tidak menempatkan prioritas pertama di nomor 1. Memilih supervisor juga sama pentingnya dengan memilih project, meskipun kalau apes dapat supervisor yang ga bbanget, kita cuma “menderita” beberapa bulan. Kriteria dalam memilih project dan supervisor: saya dan beliau harus sama-sama mengerti cara bicaranya (beberapa dosen mempunyai aksen daerah yang sangat kental, susah sekali dicerna), menghindari supervisor yang ga banget (saya kurang sejalan dengan beberapa (sedikit sih) orang), terakhir adalah kita tertarik dengan project-nya (malah terakhir, haha!) Jadi saya pilih 4 projects:

  1. Analisis sesuatu dengan HPLC. Project-nya sangat amat menarik bagi saya. Sayangnya beliau sedang penelitian di Australia waktu itu, jadi saya cuma bisa bertanya detailnya lewat email. Calon supervisor ini belum pernah mengajar saya, tapi setelah lihat speech beliau di YouTube, sepertinya saya bisa mengerti aksen beliau.
  2. Pengembangan metode dengan FTIR. Calon supervisor ini mengajar kelas kami hampir tiap minggu! Saya yakin banyak yang memilih beliau. Tapi apa salahnya mencoba. Sebenarnya project beliau terbilang (just) okay buat saya. Beliau mengembangkan metode dengan cara yang menurut saya agak aneh karena basic beliau adalah engineer yang suka ngutak-ngatik alat. Kalau kayak gini mana bisa diterapkan di Indonesia, sayang dong alatnya 😐
  3. (Awalnya saya pikir) analisis sesuatu dengan FTIR atau fluorescence spectroscopy. Ini adalah dosen mikrobiologi di lab minggu lalu. Well, his accent is understandable. Karena saya agak malas (toh pilihan ketiga), saya hanya bertanya lewat email apakah saya perlu men-sesuatu-kan mikroba. Dan ketika dijawab tidak: okay cus!
  4. Sesuatu pakai PCR. Ini pilihan paling random hanya karena saya pernah beberapa waktu pakai PCR. Dan email pertanyaan saya dijawab beliau setelah list-nya saya kumpulkan 😐

Beberapa waktu kemudian.

Announcement time! So exciting!  Dan saya membuka email dengan deg-degan, saya dapat: pilihan 3! Pak mikrobiologi! Saya ga tau harus senang 🙂 atau sedih 🙁 . Tapi yang jelas saya senyum-senyum sendiri karena rupanya ada malaikat lewat yang mengamini omongan kecil saya. Haha!

Pertemuan pertama dengan Pak Supervisor, beliau menjelaskan panjang lebar tentang project yang akan saya kerjakan. Saya ga ngerti sama sekali dan cuma diam saja sepanjang pertemuan. Panic mode: ON. Kemudian beliau memberikan beberapa jurnal untuk dibaca supaya saya lebih ada gambaran. Sebagai catatan, tidak akan ada PhD student atau post-doc yang menemani saya,  jadi kalau ada apa-apa saya harus bertanya langsung ke supervisor. Even for the silliest things, which I often did!

Kami juga membicarakan timeline kerja, rencana pengenalan lab, adab-adab yang biasanya dilakukan di lab, cara menulis notebook, dll. Timeline sangat penting karena saya akan mengikuti exam di akhir Mei. Karena harus belajar juga, saya bilang kalau saya tidak mau datang ngelab tiap hari. When he give a little pause with a kind of this 😯 expression, saya baru sadar kalau saya terlalu berani ngomong hal itu. But I won my position. Haha!

Sekitar 2 minggu kemudian.

Nilai report praktikum mikrobiologi diumumkan. I got the worst score in this semester! Panic mode: go to higher level. Di suatu kesempatan saya bertanya ke supervisor, “Will you mark my work?” He said, “Mostly yes, with another staff.” Panic mode: even higher.

Ketika saya baca jurnal dan akhirnya mengerti apa yang dijelaskan supervisor, saya baru sadar kalau ternyata project saya bukan analisis. Tetapi sesuatu yang disebut biofisika. Memahami fenomena fisika hal-hal biologis. Fisika! It sounds scary. And it really was! Untunglah supervisor saya super baik dan ganteng. Tips: kalau tidak tau, langsung saja bilang “I don’t know”, terutama bila berkaitan dengan masalah bahasa. Orang bule (yang saya kenal) lebih suka kalau kita bilang kita tidak mengerti daripada diam saja, karena bisa salah sangka.

Akhir April 2015.

Sebulan sebelum ujian, saya sakit dan harus dioperasi. Bukan, bukan operasi yang seram menakutkan, bahkan saya tidak mau disebut sakit karena saya tidak sakit. Saya bilang saya injured dan tidak bisa menggunakan tangan kanan selama sebulan karena diperban. Saya tidak bisa ngelab, nulis saja tidak bisa. Sebenarnya sayasudah libur untuk belajar waktu itu, tapi saya juga mengabarkan ke supervisor kalau-kalau tangan saya perlu waktu lama untuk sembuh.

Akhir Mei 2015.

Saya sudah sembuh. Saya kembali lagi ke lab. Hooray! Kali  ini full time. Saya mulai memahami biofisika. Sebelum exam saya lebih ke optimasi metode dan sekarang saya mulai ambil data. Saya pakai rotary evaporator tapi di tengah-tengah penelitian, airnya suka masuk ke tube. Mungkin sebenarnya saya yang ga bisa menggunakannya. Jadi kadang-kadang bejo kadang-kadang enggak. Haha.

Oh ya, karena saya (awalnya sampai tengah-tengah) tidak suka sama fisika, saya jadi agak males-malesan. Saya malah suka banget travelling, bahkan sempat ke Spanyol dan Lake District beberapa hari, juga ke beberapa kota juga tiap weekend. Saya juga tidak dari pagi sampai sore ngelab karena instrumennya harus berbagi dengan orang lain. Apalagi setelah saya tau kalau saya (cuma) butuh 60 poin untuk mendapat distinction, saya jadi kadang niat kadang enggak. Setiap ada apa-apa saya selalu tanya ke supervisor, sampai-sampai kalau saya tidak nongol di office beliau, beliau bilang, “I assume you are fine. Otherwise you’ll knock on my door thousand times”. You know me so well! Seperti orang British pada umumnya, supervisor saya suka banget bercanda meskipun beberapa kali saya ga paham tapi tetap ikut ketawa.

Akan tetapi, saya juga kadang-kadang keliatan so stupid in front of him. Suatu ketika tiba-tiba temperature probe (semacam termometer) yang saya pakai error. Masak air panas kok suhunya minus. Ketika saya bilang ke Pak Supervisor kalau alatnya rusak, he was like 😐 , “You put the positive charge to the negative side, that’s why it decreases.” OMG! Rasanya malu banget dan pingin ketawa, tapi masak ngetawain diri sendiri, toh supervisor saya ga ketawa.

Trus suatu ketika beliau menyuruh saya menyimpan sampel di fridge. Saya bilang, “But it’s water, it will be frozen”. Saya memang kadang-kadang salah menyebut fridge dengan freezer karena di Indonesia kan kita diajarinnya refrigerator. Malah ngeles, hehe. Pas beliau mau menjawab, saya langsung bilang, “Oh fridge. I thought freezer.” Kemudian beliau menjelaskan letak kulkasnya, “You know when you get in, your bench is in the left, go straight until archway, turn left. It’s in the middle of the archway.” Masalahnya saya waktu itu saya ga ngerti apa itu archway. Yang saya tau kalau naik bus nomor 17 dari London Bridge, si mbak-mbak yang suka bunyi di bus itu bilang, “seventeen, to Archway”. Lah apa hubungannya? Akhirnya beliau gambarlah denahnya. Haha! Image saya langsung ngedrop di pertemuan itu.

 

Ternyata panjang juga ya. Saya mau kuliah dulu. -to be continued-

Leave a Comment :, more...

Reversed Cultural Shock

by on Oct.30, 2015, under Life Story

Udah lamaaaa banget ga nulis di blog. Terakhir nulis setelah jalan-jalan di Dover. Hari itu adalah hari sebelum saya kerja full di lab untuk dissertation saya. Ga full2 amat sih, masih sempet One City One Month juga sih (Spain included!) bahkan sempet pulang kampung pas Lebaran. Tapi namanya juga lagi nulis dissertation, kalau dibuat nulis yang lain itu rasanya bersalah banget padahal males aja sih. Kapan-kapan saya mau cerita dissertation saya deh kalau sempet dan ga males.

So, sekarang saya  sudah dua bulan di Indonesia, kuliah lagi ambil profesi apoteker. Awalnya saya mengalami reversed cultural shock, dan amat sangat terasa sewaktu kuliah di sini. Kuliah di Indonesia terasa amat berat sekali. Selain banyak tugas, tiap hari masuk, masuknya dari jam 7 pula! Kalau di London sih kuliahnya paling pagi jam 9, seminggu cuma dua kali (ini parah sih programku). Ditambah lagi kosan sekarang yang awful, dan ga ada jendelanya sama sekali, bandingin dengan kos di London yang lantai 14 di tengah2 kota 🙁 . Plus, di Jogja panas banget! Tetapi lambat laun perasaan itu mulai berkurang meskipun kadang-kadang kangen London, terutama kalau ada teman yang upload foto disana 😐

Reversed cultural shock yang lain: nyebrang jalan! Gara-gara kalau di Inggris itu kalau nyebrang jalan di zebra cross kendaraannya pada berhenti, saya jadi lebih sering nyebrang di zebra cross which is good) tapi nyebrangnya seenaknya sendiri (which is bad). Hehehe.

Masih banyak sih cerita-cerita lain. Tapi kalau mau ditulis malah lupa. Kadang-kadang kalau pas ngalamin sesuatu pasti bandingin sama pas di London 🙁

Alhamdulillah sekarang di kos ada wifi kenceng, jadi udah mirip di kos yang dulu. Bisa dengerin BBC Radio 1 juga. dan yang jelas makanan  di sini murah meriah. Dulu pas awal-awal pulang makan ini itu yang ga pernah dimakan di London.

Yang ga bisa move on ga cuma saya aja. Hampir semua teman se flat ga bisa move on juga. Memang yang bagus bukan cuma lokasinya (meskipun dalemnya kalau kata temen saya seperti refugee camp), tapi karena kedekatan kami: jalan-jalan bareng, kesusahan disertasi juga bareng, pokoknya seru deh. Ga nyangka bisa deket sama temen-temen dari bangsa yang berbeda (masih bangsa manusia!). Tuh kan jadi kangen lagi 🙁

Ya mohon maap tulisan kali ini malah jadi curhat. Besok kapan-kapan saya bikin tulisan yang lebih manfaat untuk nusa dan bangsa. Hehehe.

Leave a Comment : more...

One Month One City – Dover

by on May.25, 2015, under Life Story

Liburan kali ini benar-benar membuat saya bahagia. Setelah melalui bulan yang berat karena sakit dan ujian, saya menyempatkan diri pergi ke Dover, kota pantai di Inggris yang paling dekat dengan benua Eropa. Saking dekatnya, telepon genggang saya malah menerima sinyal dari Perancis. Dover terkenal dengan tebing putih di tepi pantai.

Kami berangkat cukup pagi. Perjalanan dua jam terasa singkat karena kami melalui tempat baru, bukit-bukit pertanian yang sedang berbunga, sungguh indah. Sampai di Dover, kami berusaha mencari Western Dock karena ingin mengikuti boat tour. Kami sempat tersesat, tetapi seperti biasa, kami beruntung karena dengan keramahan orang Inggris (terutama orang di countryside), seseorang mau mengantarkan kami ke Western Dock. Pagi itu pantai masih sangat sepi, sangat tenang dan damai. Kami makan dulu di pinggir pantai, seperti biasa, fish and chips. Harganya cukup mahal, lebih mahal dari tempat lain. Akhirnya saya sadar kalau kami makan di hotel besar di tepi pantai.

Kami melanjutkan perjalanan dengan mengikuti boat tour mengelilingi Dover Port selama 45 menit. Sayangnya cuaca kurang bersahabat, hujan rintikdengan kabut tebal yang menghalangi pemandangan tebing. Tapi saya cukup bahagia karena diperbolehkan sang kapten memegang kemudi kapal. It’s just so cool!

Selanjutnya kami mengunjungi White Cliff of Dover. Tujuan pertama tentu saja visitor centre yang cukup jauh dari jalan raya. Sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi kami harus menaiki beratus-ratus anak tangga untuk naik ke atas bukit. Sesampainya di visitor centre, kami beristirahat sejenak sambil membeli sedikit souvenir. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menapaki bukit dan lembah menuju mercusuar, tempat pemberhentian berikutnya. Trek perjalanan cukup berat karena naik turun dan berada tepat di tepi tebing. Tapi semua terbayar setelah sampai di atas bukit. Pemandangan sungguh indah. Hamparan rumput yang berbunga di tepi tebing putih dengan pemandangan laut di depan mata sungguh menyejukkan. Liburan ini semakin sempurna dengan munculnyya matahari di tengah perjalanan. Perjalanan yang menurut petunjuk hanya 50 menit menjadi sangat lama karena kami terus-terusan berhenti di tengah perjalanan. Saya benar-benar ingin bermalam dan mendirikan tenda di sana.

Sampai di lighthouse, kami kembali melengkapi bekal untuk kembali. Kami melewati jalur yang berbeda, jalur yang lebih menantang karena melewati lembah curam. Lembah bernama Fan Bay itu benar-benar indah. Bentuknya seperti kipas, kecil tapi cukup dalam. Unbelievable.

Setelah sampai di tengah kota, kami makan malam dan pulang ke London. Kami memang tidak mengunjungi banyak tempat, tetapi liburan ini sangat berbekas. Hingga saya pun sempat bermimpi kalau saya masih berada di tengah-tengah hamparan rumput yang luas.

2 Comments :, more...

How Hard to Speak English

by on Apr.14, 2015, under Education, Life Story, My Point of View

Once upon a time, in an early morning, like really early, at 8 AM actually (I know, it’s not early enough for Indonesian), I was going to go to Canterbury. I arrived in a tiny station, called Waterloo East. It is too tiny, even it does not have information board as big as in Waterloo for example. The problem was that Canterbury West, my destination, is not the last destination. I don’t have time to wait for the running text to show all calling points. So I asked the information desk.

“Excuse me, which platform is to Canterbury?”

“Glastonbury? 8O” (It’s not even in South East England, not served by Southeastern Train so she was quite shock)

“Can-ter-bury”

“Oh, platform 3”

Like really? I know my pronunciation, especially the tone, is terrible but Canterbury is not a tricky word. It’s pretty straightforward. I have a huge problem to mention the place where I live. I live in Southwark, which is pronounced as /ˈsʌðərk/ SUDH-ərk (that’s what Wikipedia says, try Google if you’re not sure). So I never say I live in Southwark. I prefer to say that I live in London Bridge, which is actually not a name of a region. If you come to my university, there is a nice library named Maughan. It’s called /mɒn/ but I what I hear is like mourn. Other tricky things is like Greenwich, Woolwich, Chiswick, you don’t want to pronounce the w if you want to be recognized. Place like Birmingham, Nottingham, Durham, you don’t pronounce ham clearly, so it’s like Birmingem, Nottingem, Durem. However, Tottenham is different. Do Google it, because I was not really sure as well. The thing is, do search in Google how to pronounce a place if you want to go there. Just in case your Google Maps doesn’t work, you can still ask people. I remember I was almost lost in my very first day in London just because I can’t pronounce the road where I supposed to live correctly.

However, I’ve experienced something worst. I complained about lamp in my residence that did not work. They didn’t know what I’m talking about. “Your what”, they said. In my language, there is no word that ends with two consonant in the end, except ng. So, I never pronounce e.g. p in lamp, d in friend, something like that. For the first time, I needed few minutes to explain, plus some body language because I didn’t know what the case was. In the second complain, when they asked what it was, I just repeated lamp with very strong p behind the word. It did work.

The most pathetic was when I said guard. I have thick Javanese accent so when I say guard, the g will be very thick. My friend couldn’t recognize. I spelled it but it didn’t work as well. So I needed to elaborate in a paragraph just to say a very usual word.

I do have problems but it is a fun thing. I come here to learn. Once my friend (not Indonesian) said “I like your accent”, I was so happy. That was the first time a person said that to me, Indonesian will never say that because my accent is too thick. But actually, my friend said that because when I speak, I also use body language just in case people don’t understand. I never do that back home and now I do it even when I’m unintentional. Sometimes I like it, sometimes I don’t like because it is too funny to be done.

2 Comments : more...

One Month One City – Canterbury

by on Apr.12, 2015, under Life Story

Sebenernya saya udah males jalan-jalan karena semua tempat mirip-mirip. Tapi gara-gara tugas essay 5000 kata yang super ngebosenin, jadilah saya pesan tiket ke Canterbury. Tumben-tumben beli tiket sehari sebelum berangkat.

Semua udah disiapin, Itinerary detail udah ada, bekal, air minum semua udah siap. Berangkat! Sampai di tengah perjalanan liat weather forecast, bakalan hujan di pagi hari. Harus ganti itinerary nih. Eh, malah ternyata kertasnya ga kebawa. Yang kebawa malah method ngelab, yaelah sepertinya saya dihantui penunggu lab :3

Kesan pertama: sepi bangeeett. Jarang nemu orang. Begitu ketemu, semuanya bule. Tujuan pertama Canterbury Cathedral. Jarang-jarang saya mau bayar untuk masuk ke tempat wisata, soalnya yang gratisan banyak. Tapi karena Canterbury kotanya kecil, yaudah deh mau ga mau ya kesitu. Ternyata cathedral-nya super gede. Ada tempat rahasia di bawah tanah juga. Ada tempat tinggal pengurus katedral di belakangnya. Jadi semacam kota kecil. Ga rugi bayar!

Habis itu: naik semacam perahu menyusuri sungai (semacem dulu di Cambridge). Kecil banget sih sungainya, tapi lumayan bersejarah. Katanya Canterbury dulu kota penting buat Roman, karena merupakan penghubung Dover (pantai selatan Inggris) dengan London (yang sejak jaman itu udah jadi kota penting). River boat sekitar 40 menit, lumayan lah.

Habis itu muter-muter city centre yang penuh tempat belanjaan. Menyusuri sungai, sekarang gantian jalan kaki. Kotanya super indah! Kecil tapi bagus dan tua. Sangat tua. Kemudian masuk ke Greyfriar Island (yang sama sekali bukan island) dan Greyfriar Garden. Truly beautiful! Perjalanan lanjut ke timur, ke Canterbury Norman Castle. Dibangun sekitar tahun 1000 setelah Masehi tapi keadaannya memprihatinkan, dalam artian tinggal puing-puing saja. Ceritanya pemerintah Inggris telat menyelamatkan aset bersejarahnya. Padahal kalau di Indonesia candi-candinya lebih tua dan lebih kokoh berdiri. Jadi bangga sama Indonesia. Hehe.

Karena sepertinya sudah mewakili semua sudut kota Canterbury, pulanglah saya ke London. Cukup 5 jam saja di Canterbury, but it’s worth to visit, worth every penny.

Nantikan jalan-jalan selanjutnya. Saya udah beli tiket nih. Maklum, ada ujian jadinya mau jalan-jalan tepat setelah ujian. Hehehe.

Leave a Comment : more...

One Month One City – Birmingham

by on Mar.08, 2015, under Life Story

Kali ini saya pergi ke Birmingham bukan untuk jalan-jalan, tetapi untuk menonton All England, tepatnya di babak semifinal. Tetapi terlebih dahulu saya mampir liat-liat stadionnya Aston Villa. Di tengah perjalanan, saya melewati city centre dan Victoria Square. Stadion Villa Park mirip seperti stadionnya Tottenham, kecil, sepi, ga terlalu wow, mana jauh pula dari tengah kota.

Sekembalinya ke venue All England, yaitu National Indoor Arena atau sekarang berganti nama menjadi Barclays Arena, saya menyempatkan makan siang dulu. Tapi karena masih terlalu pagi (jam 11), hanya ada breakfast dan antrinya satu stadion! Walhasil nunggu makanan sambil deg-degan takut telat. Lucunya, saya memesan scrambled egg dan setelah nunggu 20 menit, ternyata telurnya abis 😐  Saya ditawarin menu lain tetapi bayarnya seharga scrambled egg. Yaudah saya minta apa aja yang penting cepet dah. Kata mas-mas yang jual, hari itu luar biasa ramai dan biasanya ga pernah seramai ini. Setelah makan, langsung masuk stadion dan saya bingung mencari tempat duduk. Akhirya setelah naik turun tangga ketemu juga.

Ganda campuran Indonesia main di partai pertama dan keempat. Partai pertama adalah Praveen Jordan dan Debby Susanto vs Zhang Nan dan Zhao Yunlei. Sayangnya saya berada di Block yang tidak berbarengan dengan kumpulan orang-orang Indonesia. Sepertinya suporter Indonesia masih belum panas. Dan di sisi sebelah lapangan, ada orang India bari main. Karena pendukung mereka cukup banyak, jadi suara pendukung kurang menyatu. Dan akhirnya wakil Indonesia kalah.

Kemudian 2 artai selanjutnya sukses membuat saya hampir tertidur. Ceritanya paginya saya naik kereta menghadap belankang, jadilah saya pusing dan minum Antimo Antimo beneran yang saya bawa dari Indonesia). Saya kemudian jalan-jalan dulu liat-liat orang-orang jualan di venue.

Ketika partai keempat Lilyana Natsir-Tontowi Ahmad vs Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen sudah mau mulai, saya memutuskan pindah ke Block suporter Indonesia. Sambil berlari kecil karena jaraknya cukup jauh, saya berharap mereka belum mulai. Kali ini suporter Indonesia benar-benar kompak dan heboh, samai beberapa kali diliatin penonton yang ada di bawah (lower block) dan beberapa kali di shoot. Sayangnya saya ga benar-benar di tengah-tengah mereka, jadinya ga masuk tipi. Kami teriak-teriak pakai bahasa Indonesia, pusinglah pasti bule-bule itu. Seru bangeh deh! Ini pertama kalinya saya liat olahraga profesional. Maklum, saya tidak tinggal di Jakarta jadi susah kalau mau nonton langsung. Akhirnya Toontowi Ahmad dan Lilyana Natsir menang! Sebuah momen luar biasa bisa mendukung wakil Indonesia di All England. Sayang sekali saya tidak beli tiket final.

Setelah selesai, saya dan teman-teman ceritanya mau makan. Kami keliling venue dulu, foto sama Pak Dubes (walopun kayaknya saya ga keliatan), beli-beli baju. Waktu beli baju, kami ketemu dan berfoto bersama Greysia Polii! Dia benar-benar seperti orang normal gitu deh, saya sampai bingung dianya yang mana. Dia juga bersama pasangan mainnya yang saya ga kenal, jadi saya ga foto. Hehehe.

Waktu keluar venue, saya liat ada beberapa orang nunggu di deket pintu. Ternyata mereka sedang nunggu pemain keluar. Dan pas banget Chen Long keluar. Tetapi dia sombong banget ga mau foto bareng. Katanya tadi Lin Dan juga gamau foto, bete kali abis kalah. Ada juga 4 pemain Cina ganda putri, tapi kami ga kenal jadilah ga foto. Waktu kami jalan mau makan, tmereka ternyata belanja-belanja, bener-bener kayak orang normal, tapi bawaannya tas buat badminton yang segede kontainer. Beberapa teman kami masih menunggu di venue, mau ketemu Lilyana & Tontowi. Mereka berhasil ketemu. Dua atlet Indonesia itu katanya benar-benar ramah. Bahkan Tontowi mengucap terima kasih karena sudah mendukung duluan waktu ketemu dengan teman-teman yang menunggu mereka.

Kami makan di dekat stasiun, namanya Buffet Hut, 5 pounds all you can eat. Enak, halal, bumbunya kuat (kayaknya banyak motonya), Indonesia banget. Ternyata orang Indonesia juga banyak disana. Dan mereka juga berisik, meskipun ga seberisik di stadion. Hahaha. Jadilah suasana seperti di warteg! Sewaktu menuju ke stasiun, kami bertemu orang Indonesia dan bersapa-sapa dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Pokoknya Birmingham rasa Indonesia deh.

Sedih banget cuma bisa nonton final dari tipi. Tiketnya sudah ludes terjual 🙁

Leave a Comment : more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...