Agustina A. B.

One Month One City ā€“ Canterbury

by on Apr.12, 2015, under Life Story

Sebenernya saya udah males jalan-jalan karena semua tempat mirip-mirip. Tapi gara-gara tugas essay 5000 kata yang super ngebosenin, jadilah saya pesan tiket ke Canterbury. Tumben-tumben beli tiket sehari sebelum berangkat.

Semua udah disiapin, Itinerary detail udah ada, bekal, air minum semua udah siap. Berangkat! Sampai di tengah perjalanan liat weather forecast, bakalan hujan di pagi hari. Harus ganti itinerary nih. Eh, malah ternyata kertasnya ga kebawa. Yang kebawa malah method ngelab, yaelah sepertinya saya dihantui penunggu lab :3

Kesan pertama: sepi bangeeett. Jarang nemu orang. Begitu ketemu, semuanya bule. Tujuan pertama Canterbury Cathedral. Jarang-jarang saya mau bayar untuk masuk ke tempat wisata, soalnya yang gratisan banyak. Tapi karena Canterbury kotanya kecil, yaudah deh mau ga mau ya kesitu. Ternyata cathedral-nya super gede. Ada tempat rahasia di bawah tanah juga. Ada tempat tinggal pengurus katedral di belakangnya. Jadi semacam kota kecil. Ga rugi bayar!

Habis itu: naik semacam perahu menyusuri sungai (semacem dulu di Cambridge). Kecil banget sih sungainya, tapi lumayan bersejarah. Katanya Canterbury dulu kota penting buat Roman, karena merupakan penghubung Dover (pantai selatan Inggris) dengan London (yang sejak jaman itu udah jadi kota penting). River boat sekitar 40 menit, lumayan lah.

Habis itu muter-muter city centre yang penuh tempat belanjaan. Menyusuri sungai, sekarang gantian jalan kaki. Kotanya super indah! Kecil tapi bagus dan tua. Sangat tua. Kemudian masuk ke Greyfriar Island (yang sama sekali bukan island) dan Greyfriar Garden. Truly beautiful! Perjalanan lanjut ke timur, ke Canterbury Norman Castle. Dibangun sekitar tahun 1000 setelah Masehi tapi keadaannya memprihatinkan, dalam artian tinggal puing-puing saja. Ceritanya pemerintah Inggris telat menyelamatkan aset bersejarahnya. Padahal kalau di Indonesia candi-candinya lebih tua dan lebih kokoh berdiri. Jadi bangga sama Indonesia. Hehe.

Karena sepertinya sudah mewakili semua sudut kota Canterbury, pulanglah saya ke London. Cukup 5 jam saja di Canterbury, but it’s worth to visit, worth every penny.

Nantikan jalan-jalan selanjutnya. Saya udah beli tiket nih. Maklum, ada ujian jadinya mau jalan-jalan tepat setelah ujian. Hehehe.

Leave a Comment : more...

One Month One City ā€“ Birmingham

by on Mar.08, 2015, under Life Story

Kali ini saya pergi ke Birmingham bukan untuk jalan-jalan, tetapi untuk menonton All England, tepatnya di babak semifinal. Tetapi terlebih dahulu saya mampir liat-liat stadionnya Aston Villa. Di tengah perjalanan, saya melewati city centre dan Victoria Square. Stadion Villa Park mirip seperti stadionnya Tottenham, kecil, sepi, ga terlalu wow, mana jauh pula dari tengah kota.

Sekembalinya ke venue All England, yaitu National Indoor Arena atau sekarang berganti nama menjadi Barclays Arena, saya menyempatkan makan siang dulu. Tapi karena masih terlalu pagi (jam 11), hanya ada breakfast dan antrinya satu stadion! Walhasil nunggu makanan sambil deg-degan takut telat. Lucunya, saya memesan scrambled egg dan setelah nunggu 20 menit, ternyata telurnya abis šŸ˜Ā  Saya ditawarin menu lain tetapi bayarnya seharga scrambled egg. Yaudah saya minta apa aja yang penting cepet dah. Kata mas-mas yang jual, hari itu luar biasa ramai dan biasanya ga pernah seramai ini. Setelah makan, langsung masuk stadion dan saya bingung mencari tempat duduk. Akhirya setelah naik turun tangga ketemu juga.

Ganda campuran Indonesia main di partai pertama dan keempat. Partai pertama adalah Praveen Jordan dan Debby Susanto vs Zhang Nan dan Zhao Yunlei. Sayangnya saya berada di Block yang tidak berbarengan dengan kumpulan orang-orang Indonesia. Sepertinya suporter Indonesia masih belum panas. Dan di sisi sebelah lapangan, ada orang India bari main. Karena pendukung mereka cukup banyak, jadi suara pendukung kurang menyatu. Dan akhirnya wakil Indonesia kalah.

Kemudian 2 artai selanjutnya sukses membuat saya hampir tertidur. Ceritanya paginya saya naik kereta menghadap belankang, jadilah saya pusing dan minum Antimo Antimo beneran yang saya bawa dari Indonesia). Saya kemudian jalan-jalan dulu liat-liat orang-orang jualan di venue.

Ketika partai keempat Lilyana Natsir-Tontowi Ahmad vs Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen sudah mau mulai, saya memutuskan pindah ke Block suporter Indonesia. Sambil berlari kecil karena jaraknya cukup jauh, saya berharap mereka belum mulai. Kali ini suporter Indonesia benar-benar kompak dan heboh, samai beberapa kali diliatin penonton yang ada di bawah (lower block) dan beberapa kali di shoot. Sayangnya saya ga benar-benar di tengah-tengah mereka, jadinya ga masuk tipi. Kami teriak-teriak pakai bahasa Indonesia, pusinglah pasti bule-bule itu. Seru bangeh deh! Ini pertama kalinya saya liat olahraga profesional. Maklum, saya tidak tinggal di Jakarta jadi susah kalau mau nonton langsung. Akhirnya Toontowi Ahmad dan Lilyana Natsir menang! Sebuah momen luar biasa bisa mendukung wakil Indonesia di All England. Sayang sekali saya tidak beli tiket final.

Setelah selesai, saya dan teman-teman ceritanya mau makan. Kami keliling venue dulu, foto sama Pak Dubes (walopun kayaknya saya ga keliatan), beli-beli baju. Waktu beli baju, kami ketemu dan berfoto bersama Greysia Polii! Dia benar-benar seperti orang normal gitu deh, saya sampai bingung dianya yang mana. Dia juga bersama pasangan mainnya yang saya ga kenal, jadi saya ga foto. Hehehe.

Waktu keluar venue, saya liat ada beberapa orang nunggu di deket pintu. Ternyata mereka sedang nunggu pemain keluar. Dan pas banget Chen Long keluar. Tetapi dia sombong banget ga mau foto bareng. Katanya tadi Lin Dan juga gamau foto, bete kali abis kalah. Ada juga 4 pemain Cina ganda putri, tapi kami ga kenal jadilah ga foto. Waktu kami jalan mau makan, tmereka ternyata belanja-belanja, bener-bener kayak orang normal, tapi bawaannya tas buat badminton yang segede kontainer. Beberapa teman kami masih menunggu di venue, mau ketemu Lilyana & Tontowi. Mereka berhasil ketemu. Dua atlet Indonesia itu katanya benar-benar ramah. Bahkan Tontowi mengucap terima kasih karena sudah mendukung duluan waktu ketemu dengan teman-teman yang menunggu mereka.

Kami makan di dekat stasiun, namanya Buffet Hut, 5 pounds all you can eat. Enak, halal, bumbunya kuat (kayaknya banyak motonya), Indonesia banget. Ternyata orang Indonesia juga banyak disana. Dan mereka juga berisik, meskipun ga seberisik di stadion. Hahaha. Jadilah suasana seperti di warteg! Sewaktu menuju ke stasiun, kami bertemu orang Indonesia dan bersapa-sapa dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Pokoknya Birmingham rasa Indonesia deh.

Sedih banget cuma bisa nonton final dari tipi. Tiketnya sudah ludes terjual šŸ™

Leave a Comment : more...

One Month One City ā€“ Surrey

by on Mar.02, 2015, under Life Story

Surrey sebenarnya bukan kota, tetapi seperti provinsi. Tetapi karena kemarin jalan-jalannya di antara desa kecil-kecil, saya namakan jalan-jalan ke Surrey. Surrey berada di perbatasan London. Desa yang saya tuju bernama Egham, sekitar 37 menit dari London. Ceritanya saya ingin merasakan musim semi yang seperti di tv, dan akhirnya saya temukan: Savill Garden, free from December to February! Dan saya pun pergi kesana tgl 28 February. Brilliant!

Dari stasiun Egham, saya naik bis setengah perjalanan dan disambung jalan kaki sekitar 30 menit. Perjalanan yang melelahkan, lebih karena bosan jalan di tempat sepi. Ternyata Savill Garden cukup ramai. Hampir semua pengunjungnya bule. Cuma kami berdua dan 1 orang India. Mungkin memang kurang terkenal dan sulit dijangkau. Taman itu dibagi dalam beberapa bagian, tiap musim ada bagiannya sendiri. Karena sedang winter, yang sedang berbunga (atau at least berwarna) cuma bagian winter. Pantes aja gratis. Tapi tak apalah, di Indonesia kan ga ada tanaman macam itu. Winter beds dan snow drop. Cukup memberi warna di salah satu bagian taman. DI tengah taman ada danau kecil dan sungai kecil. Suasana yang nyaman (meskipun sangat dingin), ditemani kicauan burung-burung.

Setelah mengitari taman, kami istirahat sejenak sambil menikmati coklat panas dan sepotong kue. Kemudian kami pergi ke Virginia Water, 1.25 miles dari Savill Garden, sekitar 45 menit jalan kaki. Kami melewati Obelisk Pond dan Valley Garden di tengah jalan. Rasanya capek dan ga nyampek-nyampek, tapi karena jalan di tengah taman (atau hutan?), jadi mau ga mau harus lanjut jalan kaki. Virginia Water adalah danau buatan terbesar di Britania (kata tulisan di depan danau). Kemudian kami menuju stasiun untuk pulang, yang mana harus jalan kaki selama 45 menit. Kalau ditotal mungkin saya sudah jalan sekitar 4-5 miles hari itu, sama seperti perjalanan dari Savill Garden ke Windsor Castle!

Leave a Comment :, more...

One Month One City ā€“ Brighton & Seaford

by on Feb.17, 2015, under Life Story

Because of recommendation of the man that his home I’ve visited 2 weeks ago, I have 2 destination to go: Whitby. And I also want to go to Lake District which is very famous here. But the itinerary is not possible since it is too far to London. I don’t want to spend money on accomodation, just one day out! So, my choice is Seven Sisters Country Park.

When I ask my friend a one day out, he wants to go to Brighton. I didn’t think it’s nice but no problem, I can still go to Seaford which is just close by. I was right. Brighton perhaps is very big but the touristy place is very small. We went to Royal Pavilion but it is not as beautiful as the picture from Google. We went to the beach. Beaches in my country is much more beautiful, with coconut trees (of course!). Brighton Pier is nice. It is a fun fair which I will consider as cheap here. The price of similar place in my hometown, called “THR Sriwedari” is much cheaper though. After 2 hours wandering around, we had a meal. Seafood, of course. I imagined it would be like seafood in my country, like real one. But everything is mostly fish & chips. I ordered crab but it was crab cake.

We had nothing else to do in Brighton. We went to Seven Sisters Country Park, around 1 hour by bus from Brighton. We bought Plus Bus which is very worth. The view from the bus is stunning! Do choose front upper deck of the bus if you go there. You can see cliff and sea in the right, while in the left you can see farm and beautiful old British houses, just like Whitby. One hour didn’t feel so long.

We arrived in Visitor Center and we asked the volunteer where to go. It’s better to drop here because they will tell you which track that you need to take if you want to see certain part, like for example classic view of Seven Sisters. The track is so muddy. I didn’t expect that since I thought it’s just a usual park, so I used wrong shoes.Ā  It was white and it didn’t stay white. It’sĀ  okay because the view is so beautiful there. Perfect! there is natural river, with farm, and little lake where you can see reflection. We chose “red route” to see classic view of Seven Sisters. It took around 2 hours return but we walked and stopped to enjoy the view. I can’t say much about it. If you want to go there without going to Brighton, Seaford has a station. You won’t regret!

IMG_3245

Leave a Comment :, , more...

Being British in 3 Days

by on Feb.02, 2015, under Life Story

This edition of one city one month is so much special. Not only because I spent in more than 1 city, but because I had host visit! I applied in host visit, means that I want to be a guest in a British family for the whole weekend and I got somewhere in Hayling Island. Yes, it is an island! Sounds exciting huh? Indeed, it was beyond my expectation.

I spent 2 days and 2 nights with the Loveridge. They are so lovely. Mr. Loveridge picked me up at Havant station, nearest station from Hayling. They welcome us so warm (o yeah, I was with the other 2 students). We spoke a lot of things. Like almost all the time without any pause. They already traveled all around the world, they have more than enough story to tell. Very interesting since I really want to go somewhere around Europe. They did it sometimes with caravan or cycle. I can’t believe! They are so old, but with so much energy.

Hayling Island is located in the very south part of England. We can go easily to France by the nearby city, Portsmouth. This island has no train station, so the only way to go is by bus (if you don’t use car). There is only one bridge to go in and out of the island. The view from the bridge is so beautiful. There were a lot of yachts parked there. In summer, they should do something on the sea! This lovely-peaceful-quiet-small town is perfect for retired person. When I went to church with Mrs. Loveridge, almost all people are old, like really really old. One of her friend is 90s years old. I have a phrase for Hayling: a country for old men (and women).

The Loveridge’s house is only 10 minutes walk from the beach. I took a little walk there just before breakfast, to see how’s the beach here compare to my country. It is stony, very cold, not really nice. But they have small hut for people who do sport here, to put their equipment. Good thing: very clean. Just beside the beach, there is a golf. I needed to go back soon because we would have a big day. We spent the whole Saturday afternoon all over the place by car. I remember some towns like Portsmouth, Emsworth, Chichester, Havant. They showed us every interesting places around, I mean literally showed, like we just stopped a minute and go to other places without stepping out of the car. If we had more time, it will be nice if we can take a little walk. The main destination is Weald & Downland Open Air Museum. It is a museum about how old village looks like. They brought houses from all over the UK to this museum. It is very interesting since I liked to play Travian, a game about building a village. It is so much like that (or you can name other similar games)! So I found it so fun. I imagined being a chief with all those building like cottages, village meeting point, hall, market, horse stable, farm, stone mason, blacksmith, woodyard, flour mill, everything you name it! And what was more amazing is that they showed us the activity! So in the blacksmith, there was a person who made horseshoe. A person crafted stone on stone mason. And real bull and horse, as well as pigs. The garden is there but it was nothing because it was winter. Now I realize why British like to conquer other places. They didn’t have heating facilities so that it must be very cold at that time. It was very cold as well when we went there. I didn’t prepare suitable clothes because I thought that it wasn’t that cold.

Amazing stories behind some English phrases which comes from medieval era. Like how phrase sleep tight comes from. It is because in the old time, people use rope under their bed and they needed to tighten it up before going to sleep. The phrase kept in the dark is from the story that unimportant people being excluded from the meeting in the dining table. The dining table is right in front of fire.Ā  Those who were excluded stayed in another room which was very dark (of course there were no light at that time). I’m sorry I can’t remember all the story because I had dozen of English words.

We went to have a lunch in (they said) a famous pub. I searched about them just now. The Fox Goes Free, a fancy name. It is 400 years old (whoa!). I had fish and chips because I wanted to feel very English. After full of meal, we drove the car all over the places again. We went up and down of the hills (just found out that that was in the middle of forest). Mr. Loveridge showed us so many interesting places: Goodwood Racecource (first time I saw horse racing circuit, I felt like a wealthy person gambling for the horse), Goodwood Motor Circuit (unfortunately it was so quiet), Rolls Royce factory (the factory itself is underground, so we barely see anything there), Chichester Cathedral, and the most interesting is Portsdown Hill Viewpoint. Unfortunately no one went out of the car although we stopped few minutes. It is a hill where we can see the whole Portsmouth from top, and a bit Hayling island, Isle of Wight, and some other ports. It is so beautiful! I really wanted to go out of the car but I couldn’t ask for more. It was getting dark and they wanted to show us an old church, St. Peter’s Church, in Hayling Island. It was okay. I saw so many big cathedrals but seeing something like small church is also interesting.

Beside having chit chat, we played timber. So we put 3 pieces of wood above the other 3 pieces until the woods are over. Then, we roll the dice, see what colour coming out, then we take one of the piece and place it above them. I was about to be the champion with 3 wins in a row, but then I screwed it up with 2 loses in a row. Mr. Loveridge thought I would be unstoppable because as a pharmacy student, I could concentrate well with tiny object. Funny!

I must talk about the food that they cooked. My friends were worried about me because I can’t eat Western food. I find it so plain, and some are sour which is so strange for me. I don’t eat sour food for meals! First night, I was so worried and my nightmare came true. It is because the starter which ruined everything. The main dish was risotto (of course without wine) and the dessert (some sweet-sour thing, I can’t remember) is fine. But the starter, some cheese, I didn’t like it. Mr. Loveridge said it is like rubber (he meant in a good way) and I said yes (but in not a very good way). We had afternoon tea as well, some scones and cakes, with tea of course. Very British. The second day’s supper was good. Mediteranian food they said. I don’t remember the detail. It was vegetables, baked, covered with eggs and yoghurt. It was a bit sour but stronger taste, so I kinda like it. Because the purpose of this visit is to know English life more, they really tried to do everything in English way. Like dinner in the table, the meals, etc. Mr. Loveridge said that it was just because there are visitors, if not, they will eat just usual like us. The last day, we got roast chicken! Very British! Mrs. Loveridge can’t find halal meat because Hayling is more like homogen, most of people are English (or at least White). I ate it by the way. It was nice. With potatoes, sweet potatoes, parsnip, spinach, and red cabbage.

It was so unfortunate that I need to go back to London. First because they were so nice, treated us like their daughter, which made me homesick right after I leave them. Secondly, I needed to go back to college life.

Thank you Mr. and Mrs. Loveridge. This was amazing!

Leave a Comment :, , , more...

One Month One City ā€“ Glasgow

by on Jan.12, 2015, under Life Story

Scotland is my favourite! Sewaktu di Edinburgh saya merasa disana adalah kota terbaik yang saya kunjungi sejauh ini. Sewaktu ke Glasgow, this is the best! Kota tua yang sangat terasa aroma Eropa-nya, if you know what I mean, tidak seperti London kota metropolitan yang bisa ditemui dimana saja.

Saya pergi berdua dengan teman dari Edinburgh, sebelumnya sudah merencanakan dengan sangat matang dan detail semua perjalanan kami beserta detail jam dan bis dalam kota yang harus dipakai. Rencana hanyalah rencana, kereta kami telat 15 menit dan teman saya kelupaan membawa kunci kamar temannya. Untungnya temannya itu juga sedang di Glasgow, tapi kami harus mengantarkan kuncinya ke bus station. Kami mengambil sebanyak mungkin peta di bus station dan berusaha seminimal mungkin menggunakan Google Maps selama perjalanan. Kami hanya melewati tujuan pertama kami: George Square. Alun-alun kota kalau di Indonesia.

Tujuan kedua: Celtic Park. Stadion Glasgow Celtic yang terletak di atas bukit. Akhirnya untuk pertama kalinya saya membeli jersey klub setelah beberapa kali mengunjungi klub sepakbola. Lumayan bisa smart buy, dapat amat sangat murah. FYI, semua klub mau terkenal atau enggak, harga jerseynya sama, sama-sama mahal. Dan disini, eng ing eng, first snow! Hujan salju meskipun saljunya tidak menumpuk di jalan. Untunglah saya memakai jaket gunung sehingga cukup hangat. Tetapi tangan saya mati rasa!

Tujuan ketiga: Necropolis. Disini kami sangat butuh Google Maps. Kami sudah sampai di sana tetapi tidak menemukan jalan masuk -_-. Pagar tinggi mengelilingi kuburan itu. Setelah capek-capek mengitari, akhirnya kami masuk ke kuburan itu. Necropolis terletak di atas bukit. Kuburan tua dengan nisan-nisan yang besar. Tidak ada aroma mistis sama sekali. Entahlah.

Tujuan keempat: Glasgow Cathedral. Gereja tua yang terhubung dengan Necropolis. Bangunan tua ini sangat detail dan artistik, berdiri kokoh dengan pilar-pilar yang sangat besar. Di dalamnya ada makam beberapa Saints.

Tujuan kelima: Kelvingrove Park. Taman kota ini terletak di depan University of Glasgow. Kami berada disini secara kebetulan. Kami naik bus tujuan Uni Glasgow. Ketika melihat tulisan Uni Glasgow, kami turun, tetapi ternyata bangunan yang seperti di postcard itu masih jauh. Sebuah keberuntungan karena taman kota ini sangat indah. Sungai membelah di tengan taman disertai penampakan bangunan universitas yang sangat tua di seberang. Beberapa patung orang-orang yang berjasa terdapat di dalamnya, yang saya tau sih Kelvin, fisikawan yang membuat skala temperatur itu. I do love this city!

Tujuan keenam: University of Glasgow. Bangunan tua yang sangat cantik. Lagi-lagi di atas bukit. Kami bersemangat melihat cloisternya, tetapi agak kecewa karena batunya tidak bersinar (bukan marmer) seperti di UGM. Tetapi bangunan tua ini sangat amat indah, tidak tergambarkan dengan kata-kata, silakan searching sendiri ya :D.

Kami kembali ke stasiun dan nongkrong dulu di Cafe Nero sambil menunggu kereta.

Inilah pentingnya merencakan perjalanan dengan matang: I could go to so many places in just 6 hours! Sebenarnya kami ingin mengunjungi St Andrew’s Cathedral dan Glasgow Central Mosque di dekat sungai. Tetapi karena waktunya agak berantakan di awal, kami mengubah rute ke Glasgow Cathedral dan Kelvingrove Park.

2 Comments :, , , more...

One Month One City ā€“ Edinburgh

by on Jan.12, 2015, under Life Story

Akhirnya bisa sweet escape ke Skotlandia setelah Winter break diisi dengan persiapan ujian. Karena cukup (baca: sangat) jauh, saya memutuskan untuk mengunjungi 2 kota sekaligus: Edinburgh dan Glasgow. Setelah perjalanan melelahkan selama 9 jam naik bus, dinginnya Edinburgh mulai menyapa. Kata teman bule: you’re crazy going to Scotland in the winter. Bagi saya, sama aja disini atau disana, sama-sama dingin, tetap di Skotlandia memang cenderung lebih dingin. Some advice: gunakan windproof jacket (lebih baik lagi windproof dan waterproof) ketika mengunjungi Skotlandia, jangan bawa payung.

Tujuan pertama: Arthur’s Seat. Sebuah bukit di Holyrood Park, tidak jauh dari city center. Terlihat hampir seluruh kota dari atas bukit. Sebuah pulau di seberang laut, stadion, dan Calton Hill juga jelas terlihat. Baru setengah jalan udah capek + gak kuat. Terlebih saya tidak akan sempat mengunjungi tempat lain kalau memutuskan sampai ke puncak. Akhirnya menyudah perjalanan dan kembali ke penginapan. Saya menginap di tempat kos teman, University of Edinburgh residence hall. Udah kapok naik bukit, saya tidak jadi ke Calton Hill.

Karena suatu hal cukup konyol saya jadi kehilangan waktu jalan-jalan di Edinburgh. Kami kemudian ke Dean Village, salah satu WHO World Heritage. Desa yang sangat tua, bangunan cantik dari bebatuan. Tetapi, desa ini sama sekali berbeda dengan foto-foto di Google. Kami mengunjunginya di musim yang salah. Kalau di musim semi mungkin terlihat indah. Di musim dingin desa ini jadi beraroma mistis. Pohon tanpa daun di tepi sungai, ditemani hujan yang membuat alirannya deras. Di atasnya terlihat jembatan tua dan sebuah bangunan tua di puncak bukit serasa rumah drakula. Bagi anak desa seperti saya: lumayan mengobati rindu kampung halaman.

Di musim dingin waktu jadi sangat pendek karena malam cepat menghampiri. Kami kemudian kembali ke penginapan dan makam malam di sebuah restoran Cina, tentu karena tidak ada restoran Indonesia di sana.

Saya merasa Edinburgh seperti kampung halaman. Di sana ada sungai, bukit, laut, dekat dengan desa tetapi sebenarnya adalah sebuah kota yang berpengaruh di UK. Terlebih saya menginap di tempat teman dari Jogja, yang akhirnya saya bisa berbahasa Jawa seharian, dan sarapan sayur lodeh. Bahagia itu sederhana.

Leave a Comment :, , more...

One Month One City ā€“ Oxford

by on Dec.21, 2014, under Life Story

Salah satu keuntungan tinggal di London: bisa kemana saja tanpa perlu transit. Semua jurusan antar kota – antar propinsi – bahkan antar negara lengkap. Edisi Oxford ini murah meriah, cuma 1 pound! PP + booking fee jadinya 2.5 pounds, padahal dari kos ke Coach Station 2.2 pounds šŸ˜

Okey, so Sabtu pagi saya ke stasiun seperti biasa. Bus berangkat pukul 7.35 selama sekitar 100 menit. Cukup dekat memang. Sampai di Oxford, teman saya (a.k.a. tour guide) belum dateng, jadi jalan-jalan dulu sendiri. Dingin banget disana, sampai menggigil di jalan. Kotanya penuh dengan bangunan University of Oxford yang megah, tua, dan cantik. Benar-benar seperti memasuki dunia Harry Potter. Ada pula lapangan dan meadow (semacam park) milik universitas yang sangat besar. Sebenarnya saya ingin punting (baca artikel Cambridge), tapi sayang mereka tutup waktu winter. Bedanya dengan Cambridge, punting di Oxford tidak berada di sungai yang membelah universitas, jadi tidak bisa mengagumi bangunannya sambil bersantai-santai. Tidak lupa saya membeli beberapa lembar postcards.

Setelah teman saya datang, saya baru masuk ke dalam bangunan universitas, karena kalau tidak punya teman yang kuliah disitu, harus beli tiket masuk. Sayang sekali dining hall yang dipakai buat syuting Harry Potter lagi ditutup. Letaknya di dalam college yang bernama Christ Church. Di chapel yang ada di college tersebut, ada beberapa makam kuno yang tertanam di bawah gereja. Coba kalau di Indonesia pasti udah ada cerita mistis macem-macem. Landmark terkenal lain adalah Radcliffe Camera, bangunan bundar dengan kubah berwarna hijau. Camera dalam bahasa Latin berarti ruangan. Di halamannya terdapat tanda tangan … aduh lupa kemarin, apa Radcliffe itu ya. Pokoknya tanda tangannya berbentuk petir, yang menginspirasi JK Rowling untuk membuat tanda di dahinya Harry Potter.

Kami juga menyempatkan makan siang di Saturday Market, yang kebetulan ada yang jualan makanan Indonesia. Ada tahu goreng, nikmatnya bisa makan makanan kesukaan – setelah 3 bulan gak makan. Makanan besarnya cukup murah, tapi tahu gorengnya cukup mahal. Mahal banget kalo dikurs-in malah. Kalau disini dapat 1, di Indonesia bisa dapet sekresek penuh. Gapapa lah, sambil mengobati rasa kangen. Setelah itu kami pergi ke Ashmolean Museum dan Natural History Museum, keduanya milik universitas. Natural History Museum mirip dengan punya London tetapi lebih kecil. Yang menarik di halamannya terdapat jejak kaki dinosaurus yang dibuat menyerupai aslinya.

Dan setelah itu, kejadian-kejadian terdahulu terulang lagi: hampir telat naik bus. Jadinya harus lari-lari lagi sampai ngos-ngosan. Tepat 1 menit sebelum berangkat bisa masuk ke bus. Pulang naik bus pukul 15.26 dan sampai setelah 2 jam perjalanan, biasalah, London macet.

Radcliffe Camera

Leave a Comment : more...

One Month One City ā€“ Leicester

by on Dec.15, 2014, under Life Story

Leicester mungkin bukan kota besar dengan banyak tempat yang bisa dikunjungi, tapi tempat ini punya historical value buat saya. Saat saya mencoba meraih cita menuju Eropa, saya banyak berkonsultasi dengan dosen yang kuliah di Leicester. Beliau banyak bercerita tentang kehidupan di sana. Itulah mengapa saya sangat ingin kesana.

Perjalanan berangkat dari London butuh waktu 2,5 jam. Kemarin saya berangkat di saat malamnya adalah malam terdingin selama satu tahun. Dalam perjalanan, saya sempat melihat (mungkin) salju. Saya menghabiskan sebagian besar waktu perjalanan dengan tidur šŸ˜€

Sesampainya di terminal, kami menuju rumah salah satu teman dengan taksi. Ternyata taksi disana sangat murah. Setelah sarapan, kami menuju King Power Stadium, stadionnya Leicester City yang tahun ini berlaga di Premier League meskipun sekarang di posisi paling buncit. Teman saya beli jersey Leicester City yang sukses bikin ngiri. Cuaca hari itu cera dengan dihiasi hujan sebentar. Angin sangat kencang sehingga dinginnya sampai menusuk tulang. Yang menarik, kemungkinan malamnya ada hujan es karena siang itu es di jalan terlihat mulai mencair. Saking dinginnya cuaca, kami tidak bisa merasakan dinginnya es.

Kami melanjutkan perjalanan menaiki bukit menuju University of Leicester. Banyak banner terpasang tentang universitas ini. Salah satu yang menarik tentu saja: The invention of DNA fingerprinting. Ada juga prestasi lain, yaitu penemuan jasad Richard III. Raja Inggris ini meninggal dalam perang dan jasadnya baru ditemukan tahun 2012 di parkiran suatu gedung. Bangunan kampus ini sangat tua dengan beberapa bagian yang modern. Sepanjang jalan University Road terdapat bagian-bagian kampus yang beberapa tersebar.Ā  Di belakang universitas ini terdapat taman yang besar, Victoria Park. Setelah makan siang, kami mengelilingi City Centre. Landmark yang terkenal adalah Clock Tower dan City Hall. Kami sempat mengunjungi kantor BBC Leicester sebelum menuju ke terminal.

Perjalanan pulang butuh waktu 3 jam karena lagi-lagi London macet. Saya memang tidak menaruh ekspektasi berlebih pada kunjungan ke Leicester. So, saya cukup puas kali ini.

University of Leicester

Leave a Comment : more...

One Month One City ā€“ Cardiff

by on Nov.30, 2014, under Life Story

Bulan November ini saya ke: Cardiff! Cardiff, ibukota Wales, terletak di bagian barat UK. Saya berangkat naik bis dari Victoria Coach Station. Karena ini pertama kalinya ke terminal, sempat kesasar dan hampir telat naik bis! Untunglah bisnya juga telat jadi telat diselamatkan oleh telat yang lain. Pemandangan selama perjalanan cukup bagus, lewat jalan tol yang kanan-kirinya diisi rerumputan hijau. Uniknya, jalan tol dari London ke Cardiff cuma lurus doang. Bahkan demi menjaga kelurusan, dibuat jembatan mirip Suramadu untuk menyeberangi “lekukan” menuju Wales (silakan liat sendiri di peta).

Setelah 3,5 jam akhirnya tiba juga di Cardiff. Oiya, di Wales, semua tulisan ditulis daalam 2 bahasa – Inggris dan Welsh. Ternyata bis yang kami tumpangi turun di pusat kota. Hari itu sangat ramai karena ternyata ada pertandingan rugby timnas Wales vs Afrika Selatan. Sungguh beruntung! Kami benar-benar merasakan atmosfer pertandingan yang sangat seru. Kemudian kami ke Cardiff Castle meskipun hanya melihat dari kejauhan (karena biaya masuknya cukup mahal). Tujuan selanjutnya ke National Museum Cardiff. Namun di tengah jalan, kami melihat kerumunan orang di depan hotel Hilton. Ternyata mereka sedang menunggu timnas Afsel yang mau keluar menuju stadion. Sungguh beruntung bisa melihat pemain kelas dunia. Sayangnya saya sama sekali gatau tentang rugby.

Di dalam National Museum Cardiff biasa aja sih, sama seperti musem-museum yang lain. Kemudian kami melihat sebentar ke Cardiff University, melewati Alexandra Gardens, dan foto-foto dulu di depan Millennium Stadium. Stadion ini adalah stadion nasionalnya Wales, jadi semacam Wembley-nya Wales. Stadion ini terletak di tepi sungai dan terlihat indah dari jembatan yang memotong sungai. Sebelum ke Cardiff Bay, kami numpang sholat di Jalalia Mosque. Ternyata teluknya cukup jauh dan butuh waktu sejam berjalan kaki. Tidak seindah yang dibayangkan, pantes aja bule-bule suka ke pantai di Indonesia. Jalan kaki sejam benar-benar not worthed. Kemudian kami balik ke city centre karena takut telat naik bis. Karena kaki sudah tidak kuat berjalan lagi, akhirnya kami naik bis kota ke city centre. Sebenarnya masih jam 5 tapi karena musim gugur jadi hari sudah sangat gelap. Ditambah pertandingan rugby yang sudah selesai dan adanya christmas market, city centre jadi lautan orang dan banyak orang mabuk. Lampu-lampu jalanan terlihat indah menghiasi langit yang sangat gelap.

Kami sempat melihat pusat hiburan (semacam pasar malam tapi ga cuma malem doang, adanya cuma menjelang natal) sebelum akhirnya kembali ke London. Overall impression: Cardiff kota kecil, city centre-nya not bad to see, teluk-nya not recommended.

Cardiff City Centre

Leave a Comment :, more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...