Agustina A. B.

Indonesia vs Spanyol

by on Nov.22, 2014, under Education

Ceritanya aku sekelompok praktikum sama orang Spanyol. Dia S1 di University of Barcelona.

Praktikum 1 (bikin kapsul pakai alat pengisi kapsul)

A: ini dipake di industri apa apotek?

B: apotek. kamu ga dapet ini pas kuliah?

A: enggak

B: emang kalo di apotek kalian pake apa?

A: pake tangan

B: 😯 😯 😯

Spanyol 1 – 0 Indonesia

Praktikum 2 (disolusi)

B: ini caranya gimana

A: oh gini (mencet-mencet)

B: aku lupa, kayaknya ga dapet pas S1. kamu dapet ga?

A: dapet 😀

Spanyol 1 – 1 Indonesia

Leave a Comment :, more...

Mungkinkah Indonesia Maju

by on Nov.18, 2014, under My Point of View

Sewaktu saya ikut Pelatihan Kepemimpinan LPDP, di sana digembar-gemborkan Indonesia Emas 2045. 20 tahun lagi Indonesia bakal menjadi negara superpower. Waktu itu saya ga percaya, mana mungkin negeri kita bisa maju. Kalau liat negeri maju semacam Inggis, Amerika, Jerman, mereka sudah maju sejak jaman Indonesia masih dijajah.

Tapi saya berubah pikiran. Teman saya WN Cina bercerita kalau neneknya sama sekali tidak bisa membaca, bahkan tidak bisa membaca uang. Orang tuanya sangat miskin. Sewaktu kecil, mereka berbagi telur, suatu makanan mewah, sekeluarga (mirip seperti Indonesia dulu). Dulu disana petani setelah bekerja akan diberi voucher untuk ditukar dengan makanan. Sekarang, mereka bisa menyekolahkan anak mereka dengan biaya sendiri, di London, suatu kota yang amat mahal. Cina bisa menjadi negara yang cukup maju dalam waktu relatif cepat. Dalam 1 generasi sudah bisa mengatasi sebagian besar kemiskinan.

20 tahun lagi, Indonesia akan diisi orang-orang seumuran saya. Banyak yang sudah mengecam pendidikan di luar negeri. Mahasiswa Indonesia tidak bodoh, banyak yang jauh lebih pintar dari orang Eropa. Hidup di luar negeri akan membuka wawasan, bagaimana orang-orang di luar negeri bisa maju dan sukses, bagaimana cara mengatur hidup mereka. Saya yakin sebagian besar mahasiswa Indonesia akan pulang dan ikut membangun negeri.

Menjadi negara maju bukan hal yang mustahil.

Leave a Comment :, more...

Stadium oh Stadium

by on Nov.07, 2014, under My Point of View

As a football fan, one thing that came to my mind once I knew I was going to London was going to football stadium. I couldn’t imagine how could a city has so many international stadium, it must be so close one another. So  in the first week I went to three stadiums owned by big football clubs in London: Arsenal, Chelsea, Tottenham Hotspurs. It isn’t like what I thought. The location is very far one another. The stadium is so small. I mean the stadium is only stadium surrounded by road (entrance/exit in White Hart Lane directly facing road). No trees. Nothing green. Now I know why the stadiums in Europe do not have running track: because it is too small to have it.

Let me talk about stadium in my hometown. I live in Solo. We have big stadium called Manahan Stadium where you can find almost all kind of sport facilities, football, tennis, badminton, basketball, and even there’s a velodrom inside. It is huge. There are a lot of trees and open parks, also beautiful statues in every corner. This is one of the biggest stadium in Indonesia. Although we do not have so many huge parks like in London, but we have football fields like everywhere. There’s a football field in 1 km south of Manahan and there’s another field 1 km further, only 2 minutes walk from my home.

Well, even I go to stadium, I didn’t go inside because the ticket is so expensive. I believe that the facilities inside are better than one in my hometown. But they are private stadium, they get a lot of profit from everything. So I cannot say that mine is bad enough. It is good enough based on the money that we have. They have modern appearance (Emirates stadium looks more modern than the others), but nothing’s special about this. It’s just like other buildings here in London.

So now I’m not really curious about other stadiums here.

Oh I really love my country. Nothing can beat it.

Leave a Comment :, more...

One Month One City – Cambridge

by on Nov.07, 2014, under Life Story

Saya bukan orang yang suka jalan-jalan. Sewaktu di Indonesia pun saya jarang sekali keluar kota, bahkan keluar rumah pun jarang. Tapi setelah berkunjung ke Cambridge, saya jadi pingin jalan-jalan berbagai kota. So, resolusi untuk setahun ke depan: one city one month (kecuali Desember karena mau nonton konser), at least once in every country in the UK, watching football once, watching music concert once.

So, let’s count London as the first city in the first month (September). Karena London terlalu lengkap, saya jadi ingin melihat kota lain di UK. Tujuan pertama saya: Cambridge, 30 Oktober 2014. One day travel ini salah satu tujuannya saya ingin melihat musim gugur yang benar-benar kayak di desktop-desktop gitu. Maklum di London isinya aspal sama gedung doang. Pertama kalinya saya naik kereta disini, sendirian lagi. Berangkat dari Liverpool Street Station sampai di Cambridge pukul 10, butuh waktu sekitar 1,5 jam. Saya berkeliling Cambridge bersama seorang teman yang kuliah disana. Kotanya cukup kecil. Kami mengitari kota selama sekitar 6 jam berjalan kaki karena kereta balik saya pukul 4 sore. Sebagai gambaran, sesepi-sepinya Indonesia masih lebih ramai daripada London (yang notabene salah satu kota terbesar di dunia) dan Cambridge itu lebih sepi dari London. Jadinya super sepi banget.

Fitzwilliam Museum, tipikal museum di Inggris, ada beberapa bilik dengan koleksi dari berbagai penjuru dunia. Salah satu yang berbeda dan sangat menarik adalah ruang Armory. Pakaian-pakaian tentara abad pertengahan yang terbuat dari besi (atau baja?) dan berbagai pedang, tameng, topeng sangat menarik. Sayang saya lupa tidak mengambil kamera karena tas harus dititipin.

Selanjutnya kami masuk ke beberapa bangunan universitas Cambridge. Bangunan itu tersebar di berbagai sudut kota. Beberapa butuh tiket untuk masuk kecuali punya student card (yang mana teman saya punya). Saya juga ikut gratis karena 1 orang dengan student card bisa membawa 2 tamu.  Beberapa bangunan sangat indah dan mirip seperti di kartu pos (bahkan lebih indah). Yang menarik adalah kotanya sangat sepi dan santai, tidak seperti London yang semua orang berjalan seperti mau ngejar maling. Suasana musim gugur sangat terasa karena banyak pohon dan taman, juga sungai kecil di belakang bangunan universitas. Kami menyempatkan untuk punting di sungai tersebut. Punting adalah semacam perahu yang digerakkan dengan menancapkan tongkat hingga ke dasar sungai dan mendorongnya ke belakang. Ada sih yang bisa sewa aja kemudian punting sendiri, tapi ogah banget. Mendingan duduk-duduk sambil ngedengerin cerita masnya, berasa di Venesia (ups, belum pernah kesana sih). Enak banget dah suasananya.

Kami menyempatkan makan siang di restoran Turki. Di Cambridge tidak seperti London yang sangat multikultural. Di sini kebanyakan bule lokal sehingga agak susah cari makanan halal. Ini pertama kalinya saya makan di rstoran yang bener-bener restoran di Inggris (Chicken Cottage sama KFC ga diitung ya), maklumlah namanya juga mahasiwa. Setelah makan, kami sempat masuk ke 2 bangunan yang cukup terkenal (tapi saya lupa namanya. Habis itu segera lari ke stasiun karena udah hampir jam 4. Enam jam mungkin cukup untuk mengitari Cambridge tanpa masuk ke museum.

Sebagai mahasiswa yang sudah pernah ngekos selama 4 tahun, naluri berhemat sangatlah mendarah daging. Berikut pengeluaran saya di Cambridge:

– naik bis dari London Bridge (tempat tinggal) ke Liverpool Street Station        £ 1.45

– tiket PP London -Cambridge + booking fee                                                             £ 12.5

– punting                                                                                                                             £ 15

– makan siang di restoran Turki                                                                                    £ 11

Total                                                                                                                                    £ 39.95

Memang terlihat mahal tetapi ini sangat murah bila tidak di-kurs-kan. Bisa lebih berhemat lagi jika makan di tempat yang bukan restoran.

See you next month in the next destination.

Leave a Comment :, more...

Memajukan Sebuah Bangsa

by on Oct.21, 2014, under My Point of View

Saya ingat beberapa waktu lalu saya pernah membaca/mendengar pendapat seseorang (saya lupa siapa, kalau tidak salah Prof. Umar Anggara Jenie) bahwa untuk memajukan suatu bangsa, tidak bisa dengan cara memajukan ekonomi dan pendidikan secara langsung. Jadi disini beliau berpendapat bahwa dua faktor tersebut sangat signifikan terhadap kemajuan bangsa. Beliau memberi contoh Jepang sangat maju karena mereka memanjukan pendidikan dan sekarang ekonominya menjadi maju. Sebaliknya, Cina memajukan perekonomiannya sehingga sekarang pendidikannya berangsur-angsur naik.

Itu saya dengar mungkin beberapa tahun yang lalu. Sekarang saya berkuliah di salah satu universitas termahal di London. Ternyata, hanya sedikit mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Mahasiswa terbanyak di kelas saya berasal dari Cina dan mereka menggunakan uang pribadi. Beasiswa dari pemerintah Cina hanya sekitar 300an per tahunnya (menurut teman saya dari Cina yang mendapat beasiswa). Yang saya takjub, salah seorang mahasiswa dari Cina teman sekelas saya, berkuliah dengan uang pribadi di London padahal neneknya saja tidak bisa membaca. Ini membuktikan bahwa mereka benar-benar maju dalam ekonomi tetapi mengesampingkan pendidikan. Sekarang, ekonomi mereka sudah maju dan mereka mulai bergerak memperbaiki pendidikan. Itulah mengapa amat sangat banyak mahasiswa Cina di negara-negara maju dan universitas di Cina semakin naik peringkatnya. Beberapa tahun lagi, pasti Cina bisa semakin memperkuat kedudukannya di dunia.

Contoh lain adalah Korea Selatan. Booming industri hiburan dalam beberapa tahun saja sangat mengangkat perekonomian mereka dan sekarang universitas-universitas mereka juga semakin baik kualitasnya.

Saya tidak bisa berbicara banyak tentang Jepang. Universitas mereka terkenal sangat baik dengan jaringan alumni yang baik pula. Perekonomian mereka sekarang menjadi kuat tetapi lebih berbasis pada teknologi. Saya kira itu lebih efisien karena mereka menjual barang lebih sedikit dengan harga lebih tinggi sehingga tidak memerlukan banyak sumber daya alam, yang sangat kecil jumlahnya di Jepang.

Saya setuju bahwa negara-negara tersebut terkenal akan kerja kerasnya. Tetapi dibalik kerja keras, tentu diperlukan strategi agar energi tersalurkan secara efektif. Jadi, kemana Indonesia akan melangkah?

 

2 Comments :, more...

Blog UGM dalam Maintenance

by on Sep.23, 2014, under Uncategorized

Saya ucapkan mohon maaf apabila ada teman-teman yang memberikan komentar dalam beberapa hari ini tetapi tidak muncul. Blog UGM mengalami maintenance dan komentar-komentar tersebut tidak ter-record. Juga ada beberapa tulisan saya dalam beberapa minggu ini yang tidak dapat dimunculkan kembali.

Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Bagi yang merasa komentarnya tidak muncul, silakan tuliskan kembali komentar/pertanyaan Anda. Terima kasih.

 

Salam,

Agustina

4 Comments :, more...

One Day from North to South

by on Sep.16, 2014, under Life Story

Minggu ini adalah minggu enrollment week yang kegiatannya tidak penuh satu minggu. Karena kemarin kebetulan tidak ada agenda, akhirnya saya coba-coba melihat kota London lebih jauh. Target saya sebenarnya Emirates Stadium punya Arsenal, tetapi berencana berhenti di beberapa landmark kota London. Hop on hop off gitu ceritanya. Mulai dari pagi jam 8an, saya keluar menuju tepi sungai, melewati London Bridge Station yang ternyata amat sangat ramai. Orang-orang menuju More London untuk bekerja, saya malah mau jalan-jalan 🙂

Rute pertama, saya menyusuri sungai Thames dari More London di dekat Tower Bridge hingga London Bridge. Banyak orang tertukar antara dua jembatan tersebut. Tower Bridge adalah jembatan yang ada towernya di kedua sisi (ya iyalah). London Bridge sebenarnya cuma jembatan biasa, tapi gatau kenapa bisa terkenal banget, mungkin karena memakai nama London kali ya. Meskipun keliatan agak-agak mendung, tetapi sebenarnya cuaca cerah, cuman kepagian aja datengnya 😛

     

Sesampainya di London Bridge, saya menuju ke Arsenal, tetapi berhenti sebentar di St Paul’s Cathedral. Tempat ini juga merupakan landmark terkenal London. Saya sempat masuk dan mau ambil foto, tapi ditegur sama petugasnya, karena harus beli tiket dulu. Ga jadi deh masuk, cari yang gratis-gratis aja, perjalanan masih panjaaang. Oiya, di London sini, saya melihat ada dua jenis motor yang digunakan: motor ber-cc besar kayak pembalap dan motor apa ya saya juga ga ngerti, mungkin kayak vespa tapi versi modern. Orang-orang yang mengendarai motor pakai sarung tangan kayak yang digunakan untuk oven, mungkin karena amat sangat dingin kalau naik motor.

Dari St Paul’s Cathedral menuju Arsenal, sebenarnya saya juga melewati King’s Cross Station, stasiun yang ada platform milik Harry Potter. Saya tidak turun karena mengejar jam 11.30 nonton Changing Guard di Buckingham Palace (yang akhirnya juga ga keburu karena keasyikan di Emirates). Ternyata Emirates Stadium itu kecil, cuma ada stadion sama toko aja. Saya pernah lewat daerah sini ketika selesai pertandingan Arsenal vs Manchester City, orang-orang tumpah ruah di jalan. Ruame buanget.

Seusai sesi we-o-we di Emirates, saya mau ngetem dulu di kamar. Capek. Tetapi di perjalanan saya sempat berhenti di The Monument dan Borough Market. The Monument dibangun untuk mengenang kebakaran hebat di London tahun 1666. Borough Market adalah pasar tradisional, tetapi harganya mahal, ga sesuai kantong mahasiswa. Di dalamnya ada kios-kios, tetapi rapi dan bersih.

    

Second round: Chelsea. FYI, Chelsea itu jauh banget dari tempat saya, sekitar 1 jam lebih naik bis. Saya sempat mampir untuk bertemu teman di Imperial College London. Ternyata disana ada komplek museum: V&A (Victoria & Albert Museum), Natural History Musem, dan Science Museum. Sayang sekali saya sudah kesorean kesana sehingga kalaupun masuk tidak akan puas melihat-lihat. Fotonya besok aja kalau saya masuk 😀

Dalam perjalanan menuju Chelsea, saya baru benar-benar merasakan London yang sebenarnya. Di daerah barat daya (South West) London adalah daerah mahal. Mobil-mobil yang lewat benar-benar high class. Rumah-rumah terlihat sangat mahal semacam mansion. Anak-anak diasuh orang yang mungkin adalah nanny (anaknya bule tetapi pengasuhnya non bule). Saya juga sempat lewat di Harrods, mall gede banget dan super mewah. Di salah satu sudut jalan, ada juga toko kayak gini:

Daaann akhirnyaaa Chelsea Football Stadium! Kompleksnya lebih gede dari Arsenal. Suatu kompleks yang semuanya sebenarnya bukan milik Chelsea (mungkin sih ya), ada hotel, cafe, dan tempat tinggal yang tidak bernuansa Chelsea FC di dalamnya. Chelsea adalah nama daerah, sewaktu kesana saya hampir salah turun bis karena saya kira sudah sampai. Stadionnya sendiri sebenarnya juga lebih besar dari Arsenal, tetapi dari luar tidak tampak megah dan tidak ada spot foto yang bagus di depannya. Overall, saya lebih suka disini daripada di Arsenal (meskipun saya lebih ngefans Arsenal). Pegawai tokonya lebih ramah (sempet menyapa) dan yang paling penting saya bisa lihat dalamnya stadion. Rasanya benar-benar tidak tergambarkan. Bisa sih masuk dan ikut tur, tapi itu agenda kalau sudah settle aja 😀

    

Hari sudah sore dan saatnya pulang. Chelsea benar-benar jauh sampai saya turun di pemberhentian terakhir. Bonus perjalanan pulang:

          

 

Leave a Comment :, , , , , , , more...

First-Timer

by on Sep.15, 2014, under Life Story

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa ini pengalaman pertama saya keluar negeri, saya dibingungkan dengan banyak hal. Saya sudah mempelajari (sepertinya) semua hal yang diperlukan tetapi ada halhal yang terlewatkan. Misalnya, saya tau harus naik apa kemana ganti kereta apa dari Heathrow ke London Bridge, tetapi saat dikasih tiket kertas, saya gatau harus diapakan. Akhirnya saya tanya ke cleaning service. Maafkan ke’ndeso”an saya 😛

Kemudian hari selanjutnya saya mau pergi ke tempat kakak tingkat di daerah deket Arsenal. Saya beli oyster card, kartu langganan bus/tube. Disini kalau bayar bis gabisa pakai duit, tapi pakai kartu langganan. Dan di loket hanya bisa beli kartunya saja, top upnya pakai mesin di luar loket. Ada 2 pilihan membayar: pakai kartu kredit atau cash. Karena saya belum punya kartu kredit, saya bayar pakai uang cash. Kertas sama koin diasukin ke alatnya dan voila! Bisa kasih kembalian 😀

Nah, sewaktu mau naik bis saya juga bingung. Naiknya harus dari halte. Saya cari haltenya lewat citymapper sampai muter-muter ga ketemu, ternyata jalannya ditutup dan cityapper ga kasih tau. AKhirnya jalan dulu sampai ke jembatan London Bridge. Karena perjalanan cukup jauh, saya bisa melihat-lihat kota, melewati King’s Cross Station, St Paul’s Cathedral, dan dari kejauhan tampak Emirates Stadium. Sewaktu pulang dan menunggu bis, ada ibu-ibu nanya,” Why is 4 (nomer bis) coming here?” Hellow, saya aja naik bis saya bingung nyari dimana.

Keesokan harinya saya pergi ke Lidl, supermarket Jerman rekomendasi teman yang katanya paling murah (dan memang murah banget). Saya jalan dari asrama ke Lidl. Menurut citymapper sih 20 menit, tapi saya mungkin sekitar 30 menit karena plus bingung-bingung. Sayaagak-agak takut karena jalannya sepi banget. Kemudian waktu saya mau nyebrang, ada mobil berenti, saya juga ikut berenti, tapi ternyata dia kasih jalan buat saya. Kalau di jalan besar, kita bisa pencet lampu-nya biar berganti ke warna merah jadi kita bisa nyebrang. Coba di Jakarta kayak gini, pasti tambah macet banget.

Sewaktu di Lidl, ada ibu-ibu nanya, “Sorry, do you know where is #!?><(*^(**^)^”. “What?” “#!?><(*^(**^)^”. Yang nanya ibu-ibu kayaknya India. Mungkin dipikir saya suka masak itu. Yaelah Bu, saya nyari gula aja ga ketemu. Tampang saya udah London abis kali ya, suka ditanyain aneh-aneh gitu. Kalau bayar kasirnya suka kasih kembalian uang koin. Saya masih mikir-mikir buat ngabisin koinnya gimana. Masalah gula tadi, saat ada local area tour bersama dormitory ambassador, saya nanya gula dimana ya. Adanya sugar beet dan bungkusnya pake kertas kayak teh tapi sekiloan. Beda banget lah. Pantes aja tadi ga nemu.

Sewaktu mau liat kampus di Waterloo, saya ceritanya juga mau naik bis, ternyata bisnya dibuat Railway Replacement Service. Saya belum apal London secara garis besar, dan tetep masuk. Karena ga yakin, saya tanya, “Will you stop in Waterloo?” Pak supirnya ga dong aku bilang apa. Bener banget persis kayak kata dosenku. Harus pake logat-logat British gitu. Saya bilang cuma “Waterloo”. “On no, this is Railway Replacement Service”. Ada tulisannya sih, tapi saya ga tau maksudnya apaan itu neutral. Ada tulisan lewat mana-mana gitu juga, tapi saya kan juga belum apal Pak. Bisnya itu tulisan jalurnya kayak LED nyala gitu, tapi ternyata itu tulisan yang diputer secara manual. Disini bisnya tingkat, jadi bisa liat mana-mana. Nah tadi karena bisnya ga berenti di Waterloo, saya naik bis lain. Eh tapi kok dia malah ga sesuai citymapper jalannya #tetibapanik. Saya berhenti di jalan kecil dan jalan sesuai citymapper sambil deg-degan. Ada bapak-bapak naik sepeda, “Are you lost?” Ya ampun baik banget bapaknya. Ternyata London ga seangkuh bayanganku. Pulangnya saya jalan dari kampus ke asrama. Menurut citymapper sih 30 menit, tapi saya jalan 40 menit tanpa citymapper!

Sampai disini,entah kenapa saya agak males jalan-jalan. Padahal saya sudah membuat list tempat-tempat wajib dikunjungi, tapi sampai sini semua tempat jadi terkesan biasa. Saya merasa bukan turis, jadi agak males jalan-jalan. Tapi mungkin saya tetap pingin ke Arsenal dan Chelsea 🙂

Leave a Comment : more...

Finally Abroad

by on Sep.15, 2014, under Life Story

Hello, it’s me again. Yeah long time no see because I have to prepare everything in a such a short time. Ceritanya begini, awal rencana mau berangkat sekolah ke Inggris tanggal 6 September, ternyata visa baru keluar tanggal 5. Akhirnya berangkatnya diundur jadi tanggal 12. Saya naik Garuda dari Solo ke Jakarta, kemudian naik Etihad dari Jakarta-Abu Dhabi dan Abu Dhabi-London Heathrow. All on my own. Dari bandara Solo sampai ke asrama saya benar-benar sendirian. Meskipun belum pernah ke luar negeri, alhamdulillah ga nyasar-nyasar banget. Taukah tempat yang paling membingungkan? Sorry to say, Bandara Soetta. Petunjuknya sangat minim, dan bayangan saya kalau dari terminal 2 ke terminal 3 harus keluar dulu, ternyata bisa langsung jalan di dalam airport. Di sana antrian buat check in-nya puanjang banget. alhamdulillah semua barang bawaan aman. Bawa 2 tas ke kabin total 17 kg juga aman.

Setelah 8 jam perjalanan, sampailah di Abu Dhabi. Nungguin pesawat lagi sampai 5 jam. Di sana saya sempat ngobrol-ngobrol dengan nenek-nenek asli London dan diberi beberapa tips. Saya beli beberapa kartu pos dan ternyata mahal pakai banget. Ya sudahlah gapapa, belum tentu saya ke UAE lagi. Besok-besok mau transit di tempat lain aja 😀

Selanjutnya duduk di pesawat lagi sekitar 7 jam. Gatau kenapa, pesawatnya lebih jelek dari yang tadi. Lebih sempit, kursinya lebih rendah, tasnya jadi ga muat ditaruh di bawah. Oiya, jangan lupa pake baju tebel di pesawat karena dingin banget. Beberapa menit sebelum mendarat, saya mulai deg-degan membayangkan rasanya menginjakkan kaki di Eropa. Saat detik-detik mendarat, saya sempat menitikkan air mata. Terlihat dari jendela suasan yang benar-benar Inggris, ada danau-danau kecil, rumput hijau, dan pohon berwarna hijau dan oranye. Benar-benar mirip di film.

Sebelum memasuki tanah Inggris, kelengkapan imigrasi dicek dahulu. Orang yang ngecek dokumen saya sampai heboh sendiri, “You pay nineteen thousand for tuition fee??? Are you sure? That’s very expensive.” Thanks God I got a scholarship. Sepanjang perjalanan, alat-alat elektronik saya tidak dicek sama sekali. Saya bahkan tidaktau kalau misalnya dicek, kapan dan dimana akan dicek.

Dari Heathrow saya naik tube Picadilly Line sampai Green Park kemudian transfer Jubilee Line sampai ke London Bridge. Biasalah, mental mahasiswa, cari paling murah. Stasiunnya bagus, benar-benar seperti di film. Dan ada informasi juga stasiun mana yang pakai lift, jadi me and the other 40 kilos sehat walafiat dan selamat. Nah sampai di stasiun London Bridge itu saya juga agak bingung. Saya sudah beberapa minggu mempelajari citymapper, aplikasi petunjuk bepergian di kota-kota besar. Dari stasiun, saya harusnya keluar di jalan sebelah utaranya stasiun, tapi ternyata stasiun itu punya beberapa jalan keluar yang sebenernya lebih deket dari asrama. Karena saya berpikir asrama masih jauh, saya malah menjauh sampai London Borough (pasar tradisional). Tanya polisi Weston Street dimana juga gatau neutral. Aplikasi citymapper itu sebenarnya bisa menunjukkan kemana harus jalan, tapi karena internet belum nyala jadi harus mengira-ngira. Setelah tanya sana-sini akhirnya nemu juga asrama.

Asrama tempat saya tinggal benar-benar di kota. London itu kota yang sangat besar, tidak semua tempat sangat modern. Kebetulan saya tinggal di dekat sungai Thames dan merupakan bagian City of London, sangat modern. Saya beruntung dapat kamar di lantai 14, pemandangan bisa terlihat bagus. Dari jendela kamar saya, saya bisa melihat beberapa landmark London, seperti The Shard (gedung tertinggi di Eropa Barat), Hotel Hilton dan beberapa bangunan di More London, stasiun London Bridge yang subuh-subuh sudah mulai beroperasi, bahkan juga Tower Bridge meskipun hanya ujungnya saja. Kalau dari dapur, saya bisa melihat sisi lain London yang lebih hijau dengan rumah-rumah London yang lebih rendah.

Sampai saat ini, saya masih belum benar-benar yakin kalau saya tinggal di London. Masih terasa seperti mimpi saya bisa sampai disini.

1 Comment : more...

Adventurously Jakarta: Second Adventure

by on Jul.31, 2014, under Life Story

Jakarta again! Yep, this is the third trip to Jakarta this year. Bagi sebagian orang mungkin ga terlalu banyak, tapi buat saya udah banyak banget…. Ceritanya, setelah cek TB, saya daftar visa UK (18/7) dan memilih tanggal wawancara. Waktu itu hanya tersedia akhir Juli, awal Agustus, dan akhir Agustus. Pilihan paling memungkinkan hanyalah akhir Juli karena waktu pembuatan visa sekitar satu bulan. Akhirnya saya pilih : 25 Juli, atau 3 hari sebelum Lebaran. So, you know the consequences. Saya dapat tiket ke Jakarta untuk tanggal 24/7, tetapi tiket baliknya sangat susah. Setelah cari kesana kemari, saya dapat tiket pesawat tanggal 27/7 malam dengan rute Jakarta-Jogja, itupun harganya 3 kali lipat dari biasanya. And, saya harus menghabiskan malam takbiran di perjalanan.

Ada yang berbeda dalam perjalanan saya kali ini. I’m totally alone! What a giant leap! Untuk pertama kalinya saya melakukan perjalanan sendirian. Naik pesawat sih, habis itu naik Damri dan kemudian dijemput. Tapi udah lumayan kan daripada yang kemarin :D.

Karena saya kebagian wawancara jam 4 sore, saya baru berangkat ke VFS sekitar jam 2. VFS itu letaknya di Kuningan City Mall, sebelah Mall Ambassador. Saya diantar paman saya. Saya masuk ke mall sendirian. Awalnya kebayang terakhir masuk mall Jakarta waktu study tour SMA, bisa masuk tapi gak bisa keluar. Tapi kali ini aman-aman saja. Mallnya tidak terlalu besar dan relatif sepi. Meskipun awalnya saya agak bingung menemukan kantor VFS-nya yang berada di lantai 2 (saya malah cari di UG -_-).

Di dalam VFS, HP harus dimatikan. Begitu masuk, nama saya langsung dipanggil untuk mengumpulkan berkas dan selanjutnya biometrik. Nah, bagian paling lama adalah menunggu giliran wawancara. Sesuai saran yang bersliweran di internet untuk membawa buku bacaan, banyak banget orang yang membaca buku di sana. Saya sih enggak bawa, soalnya saya memang jarang membaca. Saya ga yakin kalau orang-orang itu memang rajin baca :D. Sayang sekali HP tidak boleh dinyalakan, padahal banner-banner di VFS bagus-bagus dan UK banget #ndeso. Kebetulan saya ngobrol dengan calon mahasiswa lain. Dia berasal dari Batam. Ketika tau saya dianter sodara ke VFS, dia bilang, “berangkat sendiri dong, kan mau ke London, masak harus diantar”. Hellowww, saya baru saja melakukan giant leap ke Jakarta sendirian. Ya emang beda level sih, bagi dia Sumatra-Jakarta kecillll.

Setelah nunggu lebih dari dua jam, saya dipanggil wawancara sekitar waktu adzan magrib. Saya kebagian terakhir banget lho. Lampu-lampu udah mulai dimatiin, lantai dipel, pegawai udah pada pulang. Di dalam booth wawancaranya dingin banget, sampai-sampai pewawancara di seberang tau kalau saya kedinginan. Wawancara dilakukan secara teleconference. Meskipun udah menghitung hari untuk berangkat ke UK, saya ga bisa menangkap dengan jelas apa yang diomongin bulenya :(. Berhubung saya sudah tau pertanyaan yang akan ditanyakan, saya bisa jawab meskipun beberapa agak-agak salah topik jawabnya. Okelah tinggal nunggu hasilnya.

Keesokan harinya, saya ceritanya shopping di Mall Metropolitan, Bekasi. Ramenya kayak pasar. Tiga jam di mall ga jalan-jalan, cuma di Matahari aja. Ga seru ah, mending ke mall di Solo atau Jogja aja, lebih lega tempatnya.

Nah, tiba waktunya untuk pulang. Saya dapat tiket pesawat pukul 18.20. Karena saya orangnya super on time dan tidak mengenal kata telat, saya naik Damri pukul 2 dan tiba di Soetta kepagian, jam 3an lebih tepatnya. Waktu check in, ternyata pesawatnya pukul 17.50. Alhamdullillah, saya ga akan telat naik Pramex jam 8 dari Jogja (kalau telat, saya harus naik Pramex jam 10 malam). Eh ternyata masih delay, dan berangkat baru pukul 18.30 lebih. Harap-harap cemas di pesawat. Landing sekitar jam 19.45, saya langsung jalan santai ke Stasiun Maguwo. But, tanpa disangka-sangka, ternyata ada kereta Sriwedari datang, moncongnya udah keliatan. Alhamdulillah pas banget bro! Saya langsung lari masuk ke kereta dan 45 menit kemudian udah sampai di Solo.

Fyuh. Saya berhasil melakukan perjalanan Solo-Jakarta-Jogja-Solo sendirian! 😀

 

 

2 Comments : more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...