Agustina A. B.

Tag: belgia

Rumah Baru Itu di Belgia

by on Nov.05, 2016, under Life Story

Satu tahun saya berjuang mendapatkan sponsor untuk studi lanjut S3. Jatuh (dan jatuh dan jatuh) bangun akhirnya membuahkan hasil dan saya akhirnya mendapat suatu tempat di Belgia, lebih tepatnya di kota Ghent (bahasa Inggris) atau orang lokal menyebutnya Gent. Mungkin kapan-kapan saya bisa cerita lika-liku mendapatkan beasiswa yang cukup menguras mental (karena ga dapet2 🙄 ).

Perjalanan datang ke Belgia cukup menarik. Tiket yang saya beli dengan rute Solo sampai ke Brussel hanya membutuhkan waktu 22 jam. Tetapi, ternyata connecting flight Amsterdam ke Brussels cuma 1,5 jam, pesawatnya telat 30 menit dan, meskipun sudah lari-lari dari ujung ke ujung Schipol, pesawatnya tidak terkejar. Saya diberi tiket selanjutnya dan harus menunggu 5 jam lagi. Tiket saya ga jadi 22 jam tapi 27 jam nungguinnya sampai ngantuk-ngantuk di bandara. Padahal Amsterdam ke Brussels itu cuma 3 jam naik kereta 😕

Beberapa waktu lalu saya sempat ke Hamburg, Jerman yang membukakan mata saya bahwa London is not a city, it’s a world on its own. Jadi sewaktu saya di Gent, saya menurunkan standar serendah-rendahnya supaya tidak kecewa. Ternyata sampai saat ini (sekitar seminggu di sini) keadaan tidak seburuk yang saya bayangkan, meskipun ada hal-hal yang agak mengecewakan. Meskipun begitu, saya masih suka membanding-bandingkan segala sesuatunya dengan London. Kata orang, tempat tinggal di luar negeri pertama kali itu akan menjadi baseline pandangan kita pada tempat-tempat lain di dunia, sepertinya London bukan tempat yang tepat untuk dipilih.

Memang agak sulit mencari informasi tentang Belgia di internet, tidak seperti UK yang mahasiswanya sangat aktif di forum (atau saya menggunakan bahasa yang salah??) jadi agak sulit membuat ekspektasi. Untuk bahan makanan mentah (groceries), di Gent lebih mahal dari di London. Saya shock waktu pertama kali belanja, tidak terlalu banyak, tapi sudah menghabiskan belasan Euro. Perkakas dapur juga lebih mahal (yang belum saya survei pakaian). Di sini juga tidak jual susu segar seperti di UK, tetapi susu pak UHT yang mungkin kurang sehat (?), yang jelas terlalu manis. Makanan mateng amat sangat mahal jadi harus lebih sering masak di sini. Untunglah ada toko penyelamat mahasiswa bernama Lidl (di London juga ada tapi tidak terlalu worthed pergi kesana). Saya seminggu ini beberapa kali mencoba coklat Belgia tapi manisnya parah dan harus sangat hati-hati karena banyak yang mengandung alkohol (malah ada yang di dalamnya ada liquor-nya).

Transportasi jelas sangat murah, apalagi kalau masih muda (kayak saya hehe). Sayangnya ga ada diskon untuk student (ini juga berlaku untuk membeli barang-barang lain atau masuk museum, tidak seperti di UK). Tapi disini karena bangunan tidak sedempet-dempetan di London, jarak halte ke pintu masuknya agak jauh. Paling ideal naik sepeda karena kota ini cukup kecil. Saya belum punya nyali untuk naik sepeda di sebelah kanan jalan. Jangankan naik sepeda, nyebrang aja saya masih bingung harus tengok kanan atau kiri dulu 🙁

Orang-orang di sini tidak seterbuka di Inggris. Kalau di Inggris, sering orang-orang secara spontan ngajak bicara. Kalau disini mungkin lebih kaku dan agak pemalu mungkin, kalau kita senyum mereka akan balas senyum. Di sini lebih mudah menemukan orang Belgia daripada menemukan orang Inggris di London. Untungnya, di grup riset saya banyak mahasiswa internasional jadi bahasa yang digunakan lebih dominan Inggris. Saya kemarin sudah mencoba menghapal beberapa kata bahasa Belanda tapi ternyata orang-orang sini bahasa Inggrisnya lancar dan saya malah bingung mau ngomong bahasa Belanda 😀

Di Belgia itu banyak banget libur tanggal merahnya. Sebagai staf/student PhD saya juga dapat tambahan 39 hari cuti. Bulan November aja ada 4 tanggal merah. Desember ada semingguan lebih. Bandingkan di UK yang tanggal merahnya mungkin hanya 4 kali ya (lupa). Masalahnya di sini semua toko tutup sewaktu libur nasional dan hari Minggu. Kalau di London masih ada beberapa toko yang buka. Masak iya saya cuma tiduran aja kalau libur 😐

Fasilitas kampus bisa dikatakan cukup bagus. Mungkin saya beruntung karena grup profesor saya kaya. Di kantor ada coffee machine, kulkas, tempat pemanas air, bahkan dishwasher! Saya juga dapat meja kerja, laptop plus layar monitor (meskipun profesor saya mungkin ga ridho, tapi beliaunya sedang cuti sekarang). Sayangnya ga ada musholla disini. Saya sholat di gudang yang ada di loteng meskipun hari pertama sholat di ruangan dan ada teman saya disitu jadi agak-agak aneh rasanya.

Sekian prolog cerita saya di Belgia. Mudah-mudahan akan lebih betah karena Belgia akan menjadi rumah saya selama 4 tahun ke depan.

3 Comments :, , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...