Agustina A. B.

Tag: dean village

One Month One City – Edinburgh

by on Jan.12, 2015, under Life Story

Akhirnya bisa sweet escape ke Skotlandia setelah Winter break diisi dengan persiapan ujian. Karena cukup (baca: sangat) jauh, saya memutuskan untuk mengunjungi 2 kota sekaligus: Edinburgh dan Glasgow. Setelah perjalanan melelahkan selama 9 jam naik bus, dinginnya Edinburgh mulai menyapa. Kata teman bule: you’re crazy going to Scotland in the winter. Bagi saya, sama aja disini atau disana, sama-sama dingin, tetap di Skotlandia memang cenderung lebih dingin. Some advice: gunakan windproof jacket (lebih baik lagi windproof dan waterproof) ketika mengunjungi Skotlandia, jangan bawa payung.

Tujuan pertama: Arthur’s Seat. Sebuah bukit di Holyrood Park, tidak jauh dari city center. Terlihat hampir seluruh kota dari atas bukit. Sebuah pulau di seberang laut, stadion, dan Calton Hill juga jelas terlihat. Baru setengah jalan udah capek + gak kuat. Terlebih saya tidak akan sempat mengunjungi tempat lain kalau memutuskan sampai ke puncak. Akhirnya menyudah perjalanan dan kembali ke penginapan. Saya menginap di tempat kos teman, University of Edinburgh residence hall. Udah kapok naik bukit, saya tidak jadi ke Calton Hill.

Karena suatu hal cukup konyol saya jadi kehilangan waktu jalan-jalan di Edinburgh. Kami kemudian ke Dean Village, salah satu WHO World Heritage. Desa yang sangat tua, bangunan cantik dari bebatuan. Tetapi, desa ini sama sekali berbeda dengan foto-foto di Google. Kami mengunjunginya di musim yang salah. Kalau di musim semi mungkin terlihat indah. Di musim dingin desa ini jadi beraroma mistis. Pohon tanpa daun di tepi sungai, ditemani hujan yang membuat alirannya deras. Di atasnya terlihat jembatan tua dan sebuah bangunan tua di puncak bukit serasa rumah drakula. Bagi anak desa seperti saya: lumayan mengobati rindu kampung halaman.

Di musim dingin waktu jadi sangat pendek karena malam cepat menghampiri. Kami kemudian kembali ke penginapan dan makam malam di sebuah restoran Cina, tentu karena tidak ada restoran Indonesia di sana.

Saya merasa Edinburgh seperti kampung halaman. Di sana ada sungai, bukit, laut, dekat dengan desa tetapi sebenarnya adalah sebuah kota yang berpengaruh di UK. Terlebih saya menginap di tempat teman dari Jogja, yang akhirnya saya bisa berbahasa Jawa seharian, dan sarapan sayur lodeh. Bahagia itu sederhana.

Leave a Comment :, , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...