Agustina A. B.

Tag: dissertation

Dissertation – orang Indonesia bilang tesis (bagian 2-habis)

by on Nov.03, 2015, under Education, Life Story

Kelulusan mahasiswa dari program master di Inggris pada umumnya tidak memakai defense, atau semacam sidang. Di program saya (MSc PAQC at King’s), penilaian mencakup beberapa aspek terutama report, poster dan literature review.

Setelah beberapa minggu ngelab, saya akhirnya sudah hampir selesai mendapatkan data untuk disertasi. Di akhir kegiatan ngelab saya yang kebetulan di bulan puasa, saya menjadi sangat produktif karena berangkat pagi (jam 8 udah amat sangat pagi) dan pulang sore (jam 6an) tanpa makan siang. Masih tersisa dua minggu sebelum Lebaran dan beberapa sampel untuk diuji, saya memutuskan pulang kampung untuk Lebaran di Indonesia. Alasannya karena hampir semua teman Indonesia saya pulang kampung 😐 . Saya beli tiket hari Minggu, email untuk ijin ke Pak Supervisor (yang tumben langsung dibalas di hari Minggu), dan pulang hari Seninnya. Memang amat sangat nekat karena saya pikir saya bakal selo banget dan kalau cuma nulis doang di kos bisa bosan bin lumutan. Dua minggu di Indonesia tentu bukan liburan, tapi istilahnya working from home. Saya tetap menulis disertasi, konsultasi, revisi, dll. Saya sudah hampir menyelesaikan disertasi dan tinggal menambahkan sampel yang memang belum saya uji.

2 minggu sebelum ujian poster – 3 minggu sebelum pengumpulan report

Setelah sampai di London lagi, hari Senin pagi saya sudah masuk lab dan preparasi sampel. Sewaktu sampel mau dibaca dengan spektrofluorimeter, kuvetnya saya cari di lemari ga ada (silakan search sendiri apa itu kuvet). Saya cari Pak Supervisor ga ada di ruangan, diemail ga dibales. Setelah agak siang, saya bertemu mahasiswa bimbingan yang lain dan ternyata…. he is doing research in France! For a week! Okay I don’t need him but his cuvette. Kuvetnya diambil dan disimpan terkunci di ruangannya. Oh my God, such a nightmare! Sebagai informasi, kuvet yang saya gunakan itu khusus untuk fluorescence dengan panjang 2 mm x lebar 4 mm. Alhasil saya harus nyari orang yang punya kuvet itu. Dan ga ada satupun orang yang punya. Setelah 3 hari mencari, akhirnya supervisor saya menemukan orang yang punya kuvet mirip (2 mm x 2 mm, the smaller the better). And the person is his wife, yang juga sedang di Prancis, tetapi kuvetnya disimpan sama mahasiswanya. Brilliant!

Di tengah keseloan saya akibat kuvet yang hilang, saya membuat poster untuk bahan ujian. Saya belum pernah bikin poster sebelumnya, saya ga bisa pakai Corel atau software fancy lainnya, dan saya ga tau bagaimana cara mencetak poster yang ukurannya lebih gede dari badan saya. Draft poster saya print secara tile dengan kertas A4 dan disusun sebesar A0, pokoknya butuh kertas banyak banget. Saya juga tanya komentar teman-teman seflat mengenai poster saya (beruntung saya punya 12 teman seflat!). Sebenarnya saya ga niat-niat banget, tapi daripada nulis report lebih asyik bikin poster. Hahaha.

1 minggu sebelum ujian poster – 2 minggu sebelum pengumpulan report

Setelah akhirnya ketemu Pak Supervisor, komentar awal beliau, “I usually have problem with students who write too many words, but you don’t have enough.” Well, saya memang ga pinter nulis dan buat saya yang penting poster saya bisa jadi tapi ga malu-maluin, dan saya pikir menambah kata-kata di poster lebih mudah daripada mengurangi. Setelah edit sana-sini akhirnya saya print poster A0. Deg-degan juga waktu ngeprint, soalnya mahal banget. Saya ngeprint di Captain Cyan, dapat diskon 5 pounds karena follow twitternya, lumayan lah. Sehari sebelum Poster Day, saya baru tau kalau sewaktu Poster Day kami akan ditanya-tanya seperti ujian. What??? Kenapa Pak Supervisor ga bilang apa-apa. Tapi ya sudahlah akhirnya saya belajar teori yang berat-berat, semacam kenapa laurdan bisa mempunyai panjang gelombang emisi berbeda jika berada pada fase yang berbeda.

Poster Day

Ternyata pertanyaan saat Poster Day malah sangat sederhana, berkutat pada hasil beserta interpretasinya dan kedepannya mau seperti apa. Sama sekali ga ada yang teoritis! Beda banget sama ujian skripsi saya (ups). Salah satu penguji saya adalah PhD student yang sama-sama menggunakan fluorescence dan mungkin melihat perubahan fase juga. Saat dia tau kalau saya melihat perubahan fase tiap 1 derajat Celcius, dia kaget dan bilang, “it must take a very long time!” Indeed, and it’s bloody boring.

Setelah ujian poster dimana saya harus berdiri 2 jam, ada selingan kuliah umum dari Prof. David Cowan, dosen favorit saya karena penelitiannya yang luar biasa menarik buat saya (silakan cari sendiri). Kemudian yang paling ditunggu-tunggu: makan siang! Prasmanan lagi, sesuatu banget (biasanya cuma sandwich yang buat saya cuma seperti snack).

Acara diakhiri dengan pengumuman poster terbaik oleh semacam ketua jurusan. Nomor tiga teman saya. Nomor dua teman saya juga. Dan yang jadi juara…. saya! I didn’t see it coming! I was so happy, so did my supervisor. I smilled on my way back home. Dan saya juga dapat voucher Amazon 50 pounds yang sampai sekarang belum sempat saya habiskan.

Minggu terakhir pengumpulan report

Penjilidan di London itu amat sangat mahal, like you can’t imagine. Jauh-jauh hari sudah harus dijilid kalau mau dapat lumayan murah. Eh, ternyata malah deadlinenya diundur karena banyak yang pingin dapat jilid murah juga. Yang penting saya kumpulin deh. Saya jilid 3 buku, 2 dikumpulin, 1 buat kenang-kenangan.

Berakhirlah cerita disertasi saya. Secara keseluruhan, saya hanya ngelab full sekitar sebulan lebih sedikit. Meskipun banyak bolos dan plesir, supervisor saya malah bilang, “thank you for your hardwork.” Saya ga tau apakah ini sarkastik atau benar-benar memuji, kalau dari raut mukanya sih memuji. Nilai disertasi saya tidak terlalu buruk, tapi di bawah rata-rata nilai akhir saya. Saya awalnya agak-agak kecewa tetapi melihat teman saya yang 24/7 ngerjain disertasi, bahkan pernah juga tidur di lab, saya harus banyak-banyak bersyukur. Yang penting saya enjoy, bertambah ilmu baru di bidang yang baru, dan kesan saya terhadap physical chemistry yang dulunya benci sekarang jadi lumayan netral. Satu hal yang juga mengobati rasa kecewa saya: saya mendapat Lingard Prize sebagai best student di MSc PAQC. Sayangnya saya tidak dapat hadir di malam penghargaannya karena sudah pulang ke Indonesia.

Leave a Comment :, more...

Dissertation – orang Indonesia bilang tesis (bagian 1)

by on Oct.30, 2015, under Education, Life Story

30 Oktober 2015. Pukul 3 dini hari WIB.

Entah kenapa tiba-tiba saya terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Saya melihat sebuah pesan dari teman lama saya yang masih di London, yang sekarang PhD di kampus saya dulu. “I met your supervisor,” katanya. Baiklah, saya tiba-tiba mendapat mood untuk menulis tentang dissertation saya karena teringat pak supervisor. Dissertation adalah tugas akhir untuk jenjang master di UK. Di Indonesia, kita menyebutnya dengan istilah tesis. Tulisan ini mungkin merangkum berbagai hal tentang dissertation saya, baik akademis maupun non-akademis.

Sekitar Februari 2015.

Siang itu kami mendapat praktikum mikrobiologi yang dipimpin seorang dosen yang tidak mengajar kami di kelas. Ketika beliau mendemonstrasikan cara memindahkan kultur dalam tube secara aseptis, tangannya bagai menari-nari di atas nyala api (api Bunsen maksudnya), luwes banget deh pokoknya, padahal pakai tangan kiri (saat itu saya tidak sadar kalau bisa saja beliau left-handed, tapi akhirnya saya tau kalau beliau tidak left-handed). Saking kerennya, tiba-tiba saya bilang ke teman saya, “That’s so cool! I want him to be my supervisor.” Saya berkata tanpa maksud apa-apa, karena toh saya juga tidak suka dekat-dekat dengan mikroba. Kalau disuruh numbuhin mikroba kemungkinan mikrobanya mati atau malah cawannya jamuran πŸ˜€

Satu minggu kemudian.

Dalam program saya (MSc PAQC, King’s), student memilih project yang diberikan project module coordinator. Kami disuruh memilih 4 diantara sekitar 50an projects, tetapi harus memilih supervisor yang berbeda. Meskipun Pak koordinator berkata bahwa pilihan kita tidak berdasarkan prioritas (artinya semua pilihan adalah seimbang), tetapi sulit juga tidak menempatkan prioritas pertama di nomor 1. Memilih supervisor juga sama pentingnya dengan memilih project, meskipun kalau apes dapat supervisor yang ga bbanget, kita cuma “menderita” beberapa bulan. Kriteria dalam memilih project dan supervisor: saya dan beliau harus sama-sama mengerti cara bicaranya (beberapa dosen mempunyai aksen daerah yang sangat kental, susah sekali dicerna), menghindari supervisor yang ga banget (saya kurang sejalan dengan beberapa (sedikit sih) orang), terakhir adalah kita tertarik dengan project-nya (malah terakhir, haha!) Jadi saya pilih 4 projects:

  1. Analisis sesuatu dengan HPLC. Project-nya sangat amat menarik bagi saya. Sayangnya beliau sedang penelitian di Australia waktu itu, jadi saya cuma bisa bertanya detailnya lewat email. Calon supervisor ini belum pernah mengajar saya, tapi setelah lihat speech beliau di YouTube, sepertinya saya bisa mengerti aksen beliau.
  2. Pengembangan metode dengan FTIR. Calon supervisor ini mengajar kelas kami hampir tiap minggu! Saya yakin banyak yang memilih beliau. Tapi apa salahnya mencoba. Sebenarnya project beliau terbilang (just) okay buat saya. Beliau mengembangkan metode dengan cara yang menurut saya agak aneh karena basic beliau adalah engineer yang suka ngutak-ngatik alat. Kalau kayak gini mana bisa diterapkan di Indonesia, sayang dong alatnya 😐
  3. (Awalnya saya pikir) analisis sesuatu dengan FTIR atau fluorescence spectroscopy. Ini adalah dosen mikrobiologi di lab minggu lalu. Well, his accent is understandable. Karena saya agak malas (toh pilihan ketiga), saya hanya bertanya lewat email apakah saya perlu men-sesuatu-kan mikroba. Dan ketika dijawab tidak: okay cus!
  4. Sesuatu pakai PCR. Ini pilihan paling random hanya karena saya pernah beberapa waktu pakai PCR. Dan email pertanyaan saya dijawab beliau setelah list-nya saya kumpulkan 😐

Beberapa waktu kemudian.

Announcement time! So exciting!Β  Dan saya membuka email dengan deg-degan, saya dapat: pilihan 3! Pak mikrobiologi! Saya ga tau harus senang πŸ™‚ atau sedih πŸ™ . Tapi yang jelas saya senyum-senyum sendiri karena rupanya ada malaikat lewat yang mengamini omongan kecil saya. Haha!

Pertemuan pertama dengan Pak Supervisor, beliau menjelaskan panjang lebar tentang project yang akan saya kerjakan. Saya ga ngerti sama sekali dan cuma diam saja sepanjang pertemuan. Panic mode: ON. Kemudian beliau memberikan beberapa jurnal untuk dibaca supaya saya lebih ada gambaran. Sebagai catatan, tidak akan ada PhD student atau post-doc yang menemani saya,Β  jadi kalau ada apa-apa saya harus bertanya langsung ke supervisor. Even for the silliest things, which I often did!

Kami juga membicarakan timeline kerja, rencana pengenalan lab, adab-adab yang biasanya dilakukan di lab, cara menulis notebook, dll. Timeline sangat penting karena saya akan mengikuti exam di akhir Mei. Karena harus belajar juga, saya bilang kalau saya tidak mau datang ngelab tiap hari. When he give a little pause with a kind of this 😯 expression, saya baru sadar kalau saya terlalu berani ngomong hal itu. But I won my position. Haha!

Sekitar 2 minggu kemudian.

Nilai report praktikum mikrobiologi diumumkan. I got the worst score in this semester! Panic mode: go to higher level. Di suatu kesempatan saya bertanya ke supervisor, “Will you mark my work?” He said, “Mostly yes, with another staff.” Panic mode: even higher.

Ketika saya baca jurnal dan akhirnya mengerti apa yang dijelaskan supervisor, saya baru sadar kalau ternyata project saya bukan analisis. Tetapi sesuatu yang disebut biofisika. Memahami fenomena fisika hal-hal biologis. Fisika! It sounds scary. And it really was! Untunglah supervisor saya super baik dan ganteng. Tips: kalau tidak tau, langsung saja bilang “I don’t know”, terutama bila berkaitan dengan masalah bahasa. Orang bule (yang saya kenal) lebih suka kalau kita bilang kita tidak mengerti daripada diam saja, karena bisa salah sangka.

Akhir April 2015.

Sebulan sebelum ujian, saya sakit dan harus dioperasi. Bukan, bukan operasi yang seram menakutkan, bahkan saya tidak mau disebut sakit karena saya tidak sakit. Saya bilang saya injured dan tidak bisa menggunakan tangan kanan selama sebulan karena diperban. Saya tidak bisa ngelab, nulis saja tidak bisa. Sebenarnya sayasudah libur untuk belajar waktu itu, tapi saya juga mengabarkan ke supervisor kalau-kalau tangan saya perlu waktu lama untuk sembuh.

Akhir Mei 2015.

Saya sudah sembuh. Saya kembali lagi ke lab. Hooray! KaliΒ  ini full time. Saya mulai memahami biofisika. Sebelum exam saya lebih ke optimasi metode dan sekarang saya mulai ambil data. Saya pakai rotary evaporator tapi di tengah-tengah penelitian, airnya suka masuk ke tube. Mungkin sebenarnya saya yang ga bisa menggunakannya. Jadi kadang-kadang bejo kadang-kadang enggak. Haha.

Oh ya, karena saya (awalnya sampai tengah-tengah) tidak suka sama fisika, saya jadi agak males-malesan. Saya malah suka banget travelling, bahkan sempat ke Spanyol dan Lake District beberapa hari, juga ke beberapa kota juga tiap weekend. Saya juga tidak dari pagi sampai sore ngelab karena instrumennya harus berbagi dengan orang lain. Apalagi setelah saya tau kalau saya (cuma) butuh 60 poin untuk mendapat distinction, saya jadi kadang niat kadang enggak. Setiap ada apa-apa saya selalu tanya ke supervisor, sampai-sampai kalau saya tidak nongol di office beliau, beliau bilang, “I assume you are fine. Otherwise you’ll knock on my door thousand times”. You know me so well! Seperti orang British pada umumnya, supervisor saya suka banget bercanda meskipun beberapa kali saya ga paham tapi tetap ikut ketawa.

Akan tetapi, saya juga kadang-kadang keliatan so stupid in front of him. Suatu ketika tiba-tiba temperature probe (semacam termometer) yang saya pakai error. Masak air panas kok suhunya minus. Ketika saya bilang ke Pak Supervisor kalau alatnya rusak, he was like 😐 , “You put the positive charge to the negative side, that’s why it decreases.” OMG! Rasanya malu banget dan pingin ketawa, tapi masak ngetawain diri sendiri, toh supervisor saya ga ketawa.

Trus suatu ketika beliau menyuruh saya menyimpan sampel di fridge. Saya bilang, “But it’s water, it will be frozen”. Saya memang kadang-kadang salah menyebut fridge dengan freezer karena di Indonesia kan kita diajarinnya refrigerator. Malah ngeles, hehe. Pas beliau mau menjawab, saya langsung bilang, “Oh fridge. I thought freezer.” Kemudian beliau menjelaskan letak kulkasnya, “You know when you get in, your bench is in the left, go straight until archway, turn left. It’s in the middle of the archway.” Masalahnya saya waktu itu saya ga ngerti apa itu archway. Yang saya tau kalau naik bus nomor 17 dari London Bridge, si mbak-mbak yang suka bunyi di bus itu bilang, “seventeen, to Archway”. Lah apa hubungannya? Akhirnya beliau gambarlah denahnya. Haha! Image saya langsung ngedrop di pertemuan itu.

 

Ternyata panjang juga ya. Saya mau kuliah dulu. -to be continued-

Leave a Comment :, more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...